La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Selingkuh



Lizzie keluar terbirit-birit dari kamar hotel. Memperbaiki pakaiannya sambil berjalan. Wajahnya kacau, takut dan marah bercampur menjadi satu. Beberapa anak rambut menempel di wajahnya, lengket akibat air mata yang membasahi pipinya.


Di tengah kepanikannya dikejar oleh pria asing yang menerobos masuk ke kamar hotel, Lizzie merotasi pandangannya mencari ketiga temannya. Ia hanya tidak tahu jika nasib ketiga temannya sama dengan dirinya.


"Pria itu tadi menyebut nama Bella, apakah semua ini atas perintah wanita itu. Aku tidak akan tinggal diam." Lizzie terus melangkahkan kaki, ketiga temannya tidak ia pedulikan lagi. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti begitu melihat sosok yang tidak asing memasuki lobi hotel. Lizzie menatap tidak percaya, ia hanya bisa membatu untuk beberapa saat hingga akhirnya kakinya melangkah mengikuti dua orang tersebut.


Pikirannya dipenuhi praduga-praduga yang berusaha ia tepis. Namun, praduga itu semakin menjadi jelas tatkala kedua orang tersebut masuk ke dalam sebuah kamar. Lizzie terang saja shock dengan hal itu. Memangnya apa yang bisa dilakukan dua orang dewasa di dalam bilik kamar secara berduaan. Pria dan wanita. Tidak mungkin hanya sekedar menikmati kopi atau pun berbincang-bincang.


Oke, mungkin berbincang-bincang bisa diterima akal. Tapi kenapa harus menyewa kamar hotel. Otak Lizzie berekreasi kemana-mana, hingga akhirnya ia sampai pada kesimpulan jika ada kecurangan di sini. Pengkhianatan dan perselingkuhan.


Lizzie menggeleng tidak percaya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk membuktikan kecurugiaan tersebut adalah dengan menerobos masuk. Tapi bagaimana caranya? Meminta kunci cadangan pada pelayan hotel bukan hal yang mudah. Itu melanggar privasi si penyewa kamar. Lain hal jika Lizzie orang yang berpengaruh, mungkin semua aturan itu akan ditiadakan. Lizzie memeras otak mencari cara untuk memergoki kedua orang yang berada di dalam ruangan tempat ia berdiri sekarang.


Tangan Lizzie terulur, mengetuk pintu tersebut. "Layanan kamar," serunya. Ide itu tiba-tiba muncul begitu saja. Berharap orang yang ada di dalam sana tidak curiga.


Lizze sepertinya berhasil, ia mendengar suara pintu yang hendak dibuka. Begitu pintu tersebut terbuka sedikit, ia mendorongnya sekuat tenaga untuk menerobos masuk. Pria yang membukakan pintu terjungkal jatuh ke belakang. Lizze melewati pria itu begitu saja, masuk lebih dalam ke kamar tersebut.


"Li-Lizzie..." Rose memekik kaget melihat putrinya berdiri di depannya, menatap dengan nanar bercampur jijik. Rose yang sudah tidak berpakaian lagi di balik selimut tidak bisa berkilah lagi. Pakaiannya juga berserakan di lantai begitu juga dengan pakaian pria yang datang bersamanya.


"Harry bukan Daddy-mu, Lizzie!"


"Yang kutanya, apa kau mengkhianati Daddy dengan berselingkuh di belakangnya, Mom?"


Rose diam tidak menjawab. Toh, semuanya sudah jelas, bukan?


"Aku tidak percaya apa yang kulihat ini. Tega-teganya kau bermain api bersama pria yang bekerja untuk Daddy."


"Lizzie, dengarkan kami," Rudolf yang baru masuk menyentuh bahu Lizzie. Lizzie menepisnya dengan kasar.


"Jangan menyentuhku dengan tanganmu yang kotor, pria tua brengsek!" Lizzie menatapnya dengan berang.


"Lizzie, berhenti bersikap berlebihan seperti itu."


"Berlebihan? Kau berselingkuh, Mom? Berselingkuh dari pria yang sudah memberikan kita kehidupan yang layak. Memungut kira dari jalanan. Andai malam itu, Daddy tidak menerima kita, mungkin kita sudah menjadi gelandangan sekarang. Lalu kenapa kau tega? Oke, aku tahu kau sangat membenci keluarga itu, terutama mendiang bibi Clara. Bukankah kebencianmu padanya sudah kita lampiaskan kepada Bella? Kita menghukum Bella seperti yang dilakukan keluarga bibi Clara kepadamu."