
"Hei, Dude. Bangunlah," Alex berdiri canggung. Diliriknya Bella melalui ekor matanya. Tatapan Bella masih tidak berpindah sama sekali. "Bella merindukanmu, Dude."
"Aku tidak merindukannya, Alex."
Ketiga pria itu tersedak kompak. Sungguh, mereka merasa seperti tiga bocah yang baru saja melakukan kesalahan besar dan sedang dihukum oleh ibu mereka.
"Maksudku, a-aku yang merindukannya, Bella. Dude, kuharap kau tidak mengalami kelumpuhan, cepatlah bangun dan sembuh."
"Apa kau baru saja mendoakannya lumpuh, Alex."
"Ti-tidak... Bukan seperti itu maksudku, Bella." Justin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bersumpah akan menghajar Glend begitu pria itu membuka matanya.
"Dia tidak mau bangun, Bella? Bagaimana ini?"
"Kenapa kau tanya aku? Tanyakan saja pada dokter." Bella selalu menanggapi ucapan para pria itu. Hanya saja jawaban yang diberikan Bella selalu membuat mereka kehilangan kata-kata.
"Justin," Alex memanggil rekannya yang Alex yakini juga mempunyai dendam dan kekesalan yang sama pada sahabat mereka yang terbaring seperti mummi.
"Dia sedang koma, bukan sedang tidur siang. Butuh usaha keras dan kesabaran untuk membuatnya bangun. Mari kita berdoa untuk kesembuhan sahabat kita. Hanya kekuatan doa lah yang bisa menolongnya. Berdoa dimulai." Justin memberi komando. Ketiga pria itu kompak mengheningkan cipta, memunajatkan doa kepada Sang Yang Maha Kuasa.
Jika suasana hati Bella tidak sedang kacau, mungkin ia sudah mengabadikan kekonyolan ketiga pria itu.
"Berdoa selesai."
Ketiganya kembali kompak mengangkat kepala. "Bella, Glend sangat memuji dan mencintaimu." Bill bermaksud untuk menghibur. Ia harus menyampaikan kepada Bella prihal kedatangan keluarga besar para yang mulia.
"Bella, bagaimana kakimu?" Justin bertanya. Bella menunduk melihat kakinya yang sudah digips oleh pria itu.
"Sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan luka yang diterima oleh pria ini. Apakah dia akan bangun?"
"Tentu saja." Jawab ketiganya kompak.
"Dulu, lima tahun lalu, kami mengira dia sudah tidak ada harapan lagi. Tapi nyatanya, dia bisa bertahan hidup, Bella. Luka ini tidak seberapa baginya. Jangan khawatir, Glend pasti akan segera siuman." Bill meyakinkan yang dibenarkan oleh kedua temannya.
"Bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi?"
Lagi dan lagi ketiganya saling melempar pandangan seolah ketiga pria tampan itu sedang berkomunikasi lewat telepati.
"Glend dan Andreas bertengkar," akhirnya Bill memberikan jawaban. "Andreas mengetahui hubungan Glend bersama Alice."
"Kudengar Glend sangat mencintai Alice."
"Yang kami dengar dan tahu, Glend sangat mencintaimu, Bella." Justin, Alex mengangguk menyetujui pernyataan Bill.
Bella tersenyum tipis. Ketiga pria itu sedang berusaha menghibur dan menenangkannya. Tapi sebelum Glend membuka mata, Bella tidak akan pernah merasa tenang. Pria itu terbaring di sana kerena menyelamatkannya dua kali. Andai Bella tidak mengajak Glend berbicara di sana mungkin hal ini tidak akan terjadi. Andai Bella tidak menyanggupi permintaan Glend yang ingin bertemu dengannya, mungkin saat ini yang terbaring di sana adalah dirinya.
"Dia mengatakan bahwa dia mencintaiku sebanyak buih di lautan sebelum orang tersebut menyerangnya. Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak menyukai kejutan dan kau tetap memaksa memberikan kejutan. Katakan, sekarang apa yang harus kulakukan?" tangis Bella kembali pecah. Memaksakan diri terlihat kuat dan baik-baik saja nyatanya sangat menyakitkan. Ia takut jika Glend tidak akan membuka matanya lagi.