La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Kau Membuatku Muak



"Glend harus mengetahui hal ini, Ayah." Senyum lebar terpatri di wajahnya. Ia tahu Glend akan terluka mengetahui fakta ini, tapi dengan begitu, Glend tidak akan termakan ucapan Alice atau siapa pun lagi.


Bella berlari keluar dari kamar King Bryson untuk mencari sang suami. Ia masuk ke dalam kamarnya, tidak menemukan Glend sama sekali di sana. Terakhir kali ia melihat Glend berada di aula.


Ternyata di sana pun ia tidak menemukan siapa-siapa. Jantungnya berdegup tidak karuan memikirkan kemungkinan suaminya ada di mana saat ini.


Dengan langkah cepat, Bella berlari menuju kamar Alice. Mungkin saja wanita itu akan melancarkan aksinya.


Bella bernapas lega begitu melihat Glend yang berdiri di depan pintu kamar Alice. Untung saja suaminya itu belum bertemu dengan wanita ular itu.


"Glend," Bella menghampiri suaminya.


Glend menoleh, wajahnya berubah pias saat melihat siapa gerangan yang menghampirinya.


"Kau mabuk?" Bella mengibaskan tangan di depan wajahnya, mengusir aroma tidak sedap yang menyerang hidungnya. "Oh, bibirmu terluka, ayo kembali ke kamar, aku akan mengobati lukamu." Bella menarik tangan suaminya agar beranjak dari sana. Glend bergeming, tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.


"Lepaskan aku."


"Glend, kita harus pergi dari sini. Mereka semua jahat padamu. Ada hal yang ingin kukatakan, aku juga punya kabar gembira untukmu," Bella menuntun tangan pria itu ke perutnya. Glend yang sedang di bawah pengaruh alkohol tidak mengerti dengan hal itu. Pun ia menarik tangannya kembali dari perut Bella.


"Pergi lah dari hadapanku." Glend membuka pintu kamar. Tidak ada siapa-siapa di sana. Bella bersyukur Alice sepertinya belum kembali dari kamar pribadi Queen Hellga. Namun, kelegaannya yang ia rasakan itu hanya bertahan sedetik, karena dari balik punggungnya, terdengar suara langkah kaki. Bella tidak harus memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang datang. Aroma tubuh yang begitu menggoda sudah cukup menjelaskan siapa yang datang.


"Glend, kau di sini?"


Bella pasang badan, ia melompat ke hadapan suaminya lalu merentangkan kedua tangan untuk melindungi suaminya dari terkaman wanita busuk itu.


"Jangan mendekat! Jangan mencoba meracuni otak suamiku. Aku sudah tahu akal busukmu, Alice."


"Apa maksudmu?" Alice memasang wajah lugu yang tidak berdosa.


"Kau akan tahu jawabannya sebentar lagi. Ayo, Glend kita pergi dari sini."


"Kau lah yang pergi," Glend bergumam. Alice tersenyum penuh kemenangan. Inilah yang ia inginkan. Wanita itu menjauh dari Bella.


"Glend," Bella masih mencoba membujuk pria itu dengan suara lembut.


"Pergilah," usir pria itu.


"Kau mengusirku?" Bella bertanya dengan suara mengiba. Ia tidak ingin Glend menyesal di kemudian hari.


"Kau tidak tuli."


"Glend, kumohon dengarkan aku kali ini. Kau sedang dipermainkan oleh semuanya. Kau harus percaya padaku."


"Berisik!"


"Glend, yang kau lihat tidak sepenuhnya benar. Bahkan semuanya bisa dikatakan salah. Kumohon, dengarkan aku, Glend. Ayo kita kembali ke kamar. Kau sedang mabuk, bibirmu terluka. Aku akan membantumu membersihkan dan mengobati lukamu."


"Ck! Kau membuatku muak, Bella." Glend mendorong tubuh Bella agar menyingkir dari hadapannya. "Jika ucapanku tidak bisa membuatmu pergi, baiklah, sepertinya kau ingin menyaksikan kami bercumbu lagi. Kau ingin pergi atau kau masih ingin di sini?"


Bella bergeming di tempatnya, menatap Glend dengan penuh luka. Apa lagi yang harus ia lakukan untuk menyadarkan suaminya tersebut.