La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Apa Kita Saling Mencintai?



"Auuchhh..." Keduanya kompak meringis. Glend menyingkir seraya memegang hidungnya yang berdarah akibat sundulan kepala batu wanita ajaib. Sementara Bella memegang jidatnya yang memar karena benturan yang ia dapatkan lumayan keras.


"Dengar, Glend..." ucapnya sembari duduk bersila di hadapan Glend yang juga sudah duduk dengan menyelonjorkan kaki. "Wajahmu yang sekarang masih terasa asing buatku. Untuk berbicara mesum sedikit membuatku tidak nyaman. Seperti yang kukatakan, aku harus menyesuaikan diri terlebih dahulu."


"Apa yang kau katakan ini? Kenapa dengan wajahku? Apa aku memiliki bentuk wajah yang lain?"


Bella mengangguk cepat, "Pertanyaanmu sangat bagus. Untung aku pernah mengabadikan hal itu. Tunggu sebentar, aku akan mengambil kotak obat dan juga mencari ponselku. Aku memang istrimu tetapi aku tidak menikah denganmu."


"Entah aku yang terlalu bodoh atau ilmu-mu yang terlalu tinggi. Sunguh aku tidak mengerti arti ucapanmu itu."


"Kau akan mengerti nanti. Tunggu sebentar." Bella segera beranjak, mengambil kotak obat dan juga ponselnya. Kedua benda tersebut masih ada di ruangan yang sama hingga Glend tidak perlu menunggu lama.


Bella kembali duduk di hadapan suaminya, "Kita obati hidungmu dulu," Bella menengadahkan kepala Glend, tanpa sengaja tatapannya turun ke jakun pria itu. "Luruskan saja kepalamu, jangan menengadah."


"Apa yang kau lihat di sana?" Glend menatapnya geli. Ia memperhatikan dengan seksama pergerakan pupil wanita itu.


"Upil sebesar utang negara. Kau ini jorok sekali!"


Glend tersedak lalu detik berikutnya ia terbatuk-batuk hingga wajahnya merah. Upil? Hei, harga dirinya hancur.


"Aku tidak tahu jika seorang pangeran memiliki upil juga," Bella mengusap punggung suaminya sambil terus melancarkan godaan memalukan bin menjijikkan. "Your highness, kau sungguh luar biasa."


"Pangeran juga manusia," Glend menarik tangan Bella agar menghentikan usapan di punggungnya. "Berikan aku kapas, biarkan aku mengobatinya sendiri."


Bella memberikan apa yang diminta oleh suaminya. Glend langsung memasukkan kapas tersebut ke lobang hidungnya. Selesai. Hanya begitu saja.


"Mendekatlah, dahimu juga harus diobati." Bella spontan mendekat. Ruang kamar mereka mendadak hening.


"Apa kita saling mencintai?" Glend bertanya mencairkan suasana.


"Kau mencintaiku sebanyak buih di lautan." Glend menukik alisnya mendengar jawaban wanita itu. "Itulah yang kau katakan padaku sebelum kepalamu dihajar." Bella memundurkan tubuhnya. "Kau mungkin mendengarku seperti pembual. Untung saja aku memiliki semua bukti konkrit." Bella mengotak atik ponselnya. Membuka kotak pesan. "Nah, kau lihat ini. Kau tidak bisa berkelit. Kau tergila-gila kepadaku, your highness."


"Tapi kenapa aku bisa melupakanmu?" Glend bertanya setelah ia selesai membaca semua percakapan mereka.


"Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Omong-omong, kau juga harus melihat wajah pria yang menikahiku," Bella membuka galeri ponselnya. Mencari foto mereka saat Glend menyematkan cincin di jemari manisnya. "Si buruk rupa ini lah yang menikahiku."


"Astaga, itu jelek sekali. Apa aku sungguh melakukan hal konyol itu? Saat Justin mengatakan hal tersebut sulit bagiku untuk mempercayainya."


"Sekarang aku justru tidak percaya jika si buruk rupa itu adalah kau. Aku lebih menyukai sosokmu yang mengerikan itu."


"Apakah kau masih normal?"


"Kewarasanku hilang juga karenamu, Bodoh! Menurutmu apa aku masih bisa dikatakan normal saat merelakan tubuhku kau icip-icip saat sosokmu semengerikan itu, heh?!" Bella melempar kotak obat tersebut ke pangkuan suaminya. "Aku akan mandi."


"Jadi maksudmu, kita sudah pernah melakukannya?"


"Hm, kau suka bagian leher dan dadaku," tukasnya lempeng dan berlalu begitu saja mengabaikan Glend yang kembali terbatuk-batuk.