La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Ayo, Kita Mulai!



Tawa semuanya seketika meledak begitu Bella meninggalkan meja mereka. Bukan hanya Justin, Bill, dan Alex yang tertawa tapi Glend sendiri pun tertawa lepas.


"Apa kalian dengar apa yang dikatakan istriku tadi? Dia menyebutku pria murahan. Oh Tuhan, aku tidak perlu khawatir tentang dirinya yang akan tergoda dengan pria lain. Bellaku benar-benar ajaib dan luar biasa."


"Artinya kau harus menjadi pria cacat selamanya, Dude. Sanggupkah kau menjalaninya?" Justin menimpali. Ia dan lainnya mungkin sepakat jika Bella wanita yang sedikit unik, tapi yang menjadi pertanyaan sampai kapan ini akan berlangsung?


"Tidak," Glend menjawab dengan cepat. Tawa di wajahnya juga sirna seketika. "Tapi dia menyukai sosokku yang mengerikan." Glend menghela napas, kembali duduk ke tempatnya.


"Kenapa kau tidak mencoba jujur saja, Dude." Alex kembali memberikan jas dan dasi yang ia sembunyikan tadi. Menurutnya, Bella adalah wanita paling tulus yang ia temui. Perlakuan dan sikap Bella tidak dibuat-buat. Wajar saja Glend dengan mudah jatuh cinta kepadanya.


"Jujur? Kau tidak mendengar jika tadi dia mengatakan aku pria murahan dan sebelumnya dia juga mengumumkan di hadapanku dan Justin jika pria rupawan membuatnya sedikit muak."


"Ini tidak akan berakhir jika bukan kau yang menghentikannya."


Perkataan Alex dibenarkan oleh semuanya.


"Ini sedikit membuatku frustasi. Ayah mertuaku bahkan lebih nyaman melihat wajahku yang cacat dan kondisiku yang lumpuh saat berbicara dengannya. Ayah dan anak benar-benar ajaib." Ya, saat tragedi di dapur, di mana Harry dan Sharon menyaksikannya bisa berdiri, beberapa hari kemudian Glend menemui Harry atas desakan pria itu. Menjelaskan peran apa yang sedang ia mainkan. Glend tidak bisa berkelit selain berkata jujur. Ia mengira dengan menunjukkan sosok aslinya, Harry akan lebih mempercayakan Bella kepadanya. Yang terjadi justru sebaliknya. Harry meragukannya dan tidak nyaman berbicara dengannya dalam wujud asli. "Jika Harry saja tidak suka melihat wajahku yang tiada cacat, kurasa Bella juga demikian. Tidak masalah jika aku harus menjadi pria cacat selamanya, tapi aku tidak akan mampu menjadi pria lumpuh selamanya. Sangat menyiksa apalagi saat kami bercinta. Setiap kami bercinta, hatiku terus saja berteriak, Hei, Glend, ingat dirimu pria lumpuh, jangan sampai karena hasrat dan gairahmu, kau tiba-tiba berdiri, atau ambil bagian di atas. Oh, Men! Itu menyiksa sekali. Bella yang polos mendominasi."


Tawa semuanya kompak meledak kembali. Mereka jelas tau rasanya. Pria normal seperti mereka memang lebih memilih mendominasi daripada didominasi.


"Kasihan Bella tidak mengetahui keahlianku sesungguhnya."


"Aku lebih kasihan padamu, Dude." Bill menimpali. "Bella kita sudah takluk kepadamu, tidak usah kau khawatirkan itu."


"Bella kita gundulmu. Bellaku!"


"Omong-omong, bagaimana bisa kau menjadi Andreas?" Alex memang tidak mengetahui cerita detailnya.


"Andreas mengambil alih universitas tempat Bella bersekolah. Selama ini, dia hanya mengutus asistennya setiap ada urusan di sana. Saat perayaan ulang tahun Cambridge, mereka menghubungiku. Selain memberikan nomor ponselnya, ternyata Andreas memberikan nomor ponselku juga. Aku datang kesana dan mereka langsung mengira jika aku adalah Andreas. Aku tidak ingin repot-repot meluruskan, aku hanya tinggal memberikan pidato, begitulah seharusnya. Tapi apa yang bisa kulakukan jika ternyata aku bertemu Bella di sana. Aku bahkan mencuri ciumannya. Aku masih ingat rasanya. Manis."


"Hal itu tidak usah kau jelaskan!" Bill melempar kotak rokok miliknya yang berhasil ditangkap Glend dengan sempurna.


"Takdir kami ternyata sudah tertulis. Disaat aku mulai jenuh dengan telepon dan panggilan Granny yang memintaku pulang dan menikahi Alice, ide untuk menikahi wanita lain pun muncul."


"Pertanyaannya kenapa kau harus menyamar?" lagi dan lagi Alex bertanya. Ia melewatkan banyak hal karena sibuk mengelola bisnis restorannya.


"Ayolah, Dude, aku trauma dengan pengkhianatan. Lagi pula aku tidak ingin benar-benar menikah, aku menginginkan wanita hanya sebatas kontrak. Jika aku tidak menyamar, menurutmu apa para wanita itu akan melepaskanku begitu saja? Harta yang kuberikan tidak akan cukup, mereka akan menuntut perhatianku. Oh Tuhan, aku jadi mengingat Casandra yang terobsesi denganku. Bagaimana jika nanti Bella mengingatnya. Wanita itu menciumku di hadapan Bella."


"Habislah kau," Justin tersenyum puas. "Kau cukup beruntung ternyata Bella lah yang bersedia menikah denganmu."


"Kau benar. Kupikir Lizzie yang akan kunikahi. Awalnya kumengira jika Harry tidak akan keberatan mengorbankan anak tirinya. Yang datang justru putri kandungnya yang berhasil melumpuhkanku dengan begitu mudah, membuatku takluk dalam sekejap." Glend terkekeh mengingat bagaimana mereka menikah dengan begitu ekspres."


"Nah, begitulah kekacauan ini tercipta. Bella sudah mengenal sosok Andreas sebelum dia menjadi istriku."


"Ck! Kisah yang rumit."


Glend membenarkan ucapan chef tampan tersebut. Memang rumit, tapi Glend sangat menikmati semua kerumitan itu selagi ada Bella bersamanya. Semuanya terasa indah dan menghibur.


____


"Bagaimana harimu?" Glend melepaskan jubah mandi Bella dan melemparnya begitu saja, lalu kemudian ia membantu Bella memakai lingerie yang entah dari mana asalnya. Ini pertama kali ia melihat benda tipis itu, ia penasaran seperti apa benda itu jika melekat di tubuh istrinya.


"Sepi tanpamu," sahut Bella asal. Glend tertawa mendengar jawaban yang mengandung rayuan melumpuhkan itu.


"Sepi bagaimana, jangan membuatku berflower-flower mendengarnya."


"Hampir delapan jam tanpamu tentu saja ada yang kurang. Kau itu seperti penyedap rasa. Meski mengandung racun tapi tidak lengkap tanpamu. Hm, sepertinya aku sudah terbiasa dengan wajahmu yang buruk ini. Ck! Sangat tidak manusiawi sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, aku senang kau sentuh dan ketagihan kau pangku. Dan hari ini aku melakukan hal konyol." Wajah Bella bersemu merah.


"Hal konyol?"


"Ya, kau tidak lihat apa yang kau kenakan di tubuhku? Matamu jeli juga melihatnya. Lingerie ini sengaja kubeli. Kebetulan lagi diskon. Beli dua gratis satu. Ada warna merah, hitam, dan hijau. Kau suka warna merah ternyata." Ya, lingerie yang menempel di tubuh Bella saat ini berwarna merah menyala. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. "Bagaimana, aku seksii, tidak?"


"Kau sengaja membelinya?" Glend mengulum senyumnya. Bella mengangguk dengan cepat.


"Kau ingin menggodaku?"


"Helleh, tanpa kugoda, kau juga sudah tergoda. Ini namanya pelayanan plus-plus. Kulihat matamu berbinar-binar lapar, artinya aku berhasil. Kau terlihat sudah tidak sabar untuk menyantapku."


Tawa Glend pun pecah detik itu juga. Keajaiban Bella tidak ada habisnya. Selalu saja ada kata-kata lucu yang meluncur dari mulut istrinya itu. Kata-kata yang disampaikan tidak berniat melucu tetapi memang benar adanya. Hanya karena Bella yang mengatakannya semua terlihat lucu. "Tapi kenapa membeli barang diskonan?"


"Kenapa aku tidak boleh membeli barang diskon?"


"Aku tidak ingin kulitmu gatal-gatal, iritasi hanya karena mengenakan pakaian murahan..."


Plak!


Kalimatnya menggantung di udara, Bella melayangkan pukulan di bahunya.


"Kau cantik seperti peri yang perayu yang membuat pria tidak bisa berpaling darimu."


Bella memutar bola matanya jengah, ia kembali duduk ke atas pangkuan suaminya. "Kau pernah melihat peri?"


"Tidak."


"Lalu kenapa memujiku layaknya peri. Aku Bella, oke. Rayuan yang sia-sia."


"Oh Tuhan, ingin rasanya aku menyantapmu dan menghamilimu."


"Tidak usah menahannya, lakukan saja. Aku istrimu."


Tawa Glend lagi dan lagi pecah. "Sepertinya kau sangat ingin kusentuh."


"Menurutmu aku mengenakan pakaian tipis ini untuk apa? Ya, tentu saja ingin merayumu. Omong-omong sola hamil, kenapa aku tidak hamil juga. Kita sudah sering melakukannya."


"Kau ingin hamil?" Glend sedikit terkejut dengan pembahasan ini. Dia memang tidak pernah mengenakan pengaman sebelumnya, tetapi membahas anak belum pernah mereka bicarakan sama sekali.


"Tentu saja. Aku ingin bayi yang mirip denganku tapi mewarisi mata indahmu."


"Bagaimana jika yang lahir justru mirip sepertiku? Wajah buruk rupa?"


"Tidak usah kau khawatirkan itu. Gen-mu yang buruk akan diseimbangkan oleh gen-ku yang cantik," Bella berpose imut seraya mengedip-ngedipkan mata. "Aku yang bekerja keras dalam memproduksinya melalui instruksimu, anak-anak kita akan mirip denganku."


"Astaga, kau menghinaku." Glend melayangkan protes.


Bella mengernyit bingung, "Di mana letak dari ucapanku yang terdengar menghinamu, Glend? Kau buruk rupa, tidak?"


"Ya," Sahut pria itu dengan nada enggan.


"Yang kukatakan berarti fakta bukan menghina. Kau ini, berhenti berpikiran sempit dan sensitif. Tapi sudahlah, aku tidak akan memaksamu membuatku hamil. Mungkin saja stok bibit unggulmu sudah sirna seiring berjalannya waktu. Ayo, kita tidur."


"Tidur? Tidak jadi bercinta?"


"Jadi lah. Kita bercinta di atas ranjang. Kursi rodamu terlalu sempit. Kakiku sering sakit."


Glend menjalankan kursi roda, berhenti di tepi ranjang. Bella segera turun, mengatur posisi bantal agar suaminya nyaman.


"Baiklah, seperti biasa, aku hitung sampai tiga, kau harus memegangku dengan kuat." Itulah polosnya Bella, ia tidak pernah menyadari jika Glend sesungguhnya tidak pernah menumpukan tubuhnya kepada Bella sepenuhnya. Bella tidak pernah benar-benar merasa kesulitan memindahkan tubuh Glend yang lebih besar darinya ke tempat tidur. Saat memindahkan kaki Glend, kaki pria itu juga tidak berat. Tentu saja, karena Glend selalu melemaskan ototnya. Bella tidak menyadari hal itu.


"Terima kasih," Glend menarik tangan Bella agar menunduk, lalu diberikannya kecupan di kening istrinya.


"Aku suka momen ini," Bella tersenyum manis. "Saat kau mengatakan terima kasih, aku merasa dihargai dan saat kau mengecupku, aku merasa berarti." Bella mencondongkan tubuhnya, lalu mendaratkan kecupan di pipi suaminya.


"Dan aku juga suka saat kau mengecup wajahku, Bella. Aku merasa dicintai."


"Sayangnya itu hanya angan-anganmu, Glend," ucap wanita itu enteng sembari naik ke atas ranjang mengisi sisi yang kosong.


"Bagaimana rapatmu tadi?"


"Justin memenangkan suara terbanyak. Sekarang pria itu menjadi pemimpin rumah sakit terbaik."


Bella mengangguk-anggukkan kepala, "Kau tidak mengatakan padaku bahwa kau mengenal Andreas."


Seketika Glend terbatuk, ia melupakan kejadian tadi di resto.


"Andreas? Saudaraku, tentu saja aku mengenalnya, dia sudah meninggal dan kau juga sudah melihat wajahnya." Glend menarik Bella agar merapat ke tubuhnya, sengaja membenamkan wajah di ceruk leher istrinya agar bulunya jingkrak-jingkrak guna menghilangkan konsentrasi istrinya dari pembahasan di resto.


"Bukan Andreas yang itu, Glend. Bukan saudaramu. Andreas yang kuceritakan kepadamu, pria tampan yang mencoba merayuku."


"Ah, yang kau tolak mentah-mentah?"


"Ya, si mesum yang mencuri ciuman pertamaku. Dia bersama Justin and the genk. Aku bertemu dengan mereka duduk di meja yang sama dengan si Andreas itu. Astaga, betapa sempitnya dunia ini. Kau dan dia saling mengenal. Mulai sekarang berhenti bergaul dengannya, pria itu tidak ada bagus-bagusnya."


Glend kembali tersedak, jika begini bagaimana ia hendak jujur. Bella sepertinya sangat dendam pada wujud aslinya.


"Astaga, kenapa kau selalu tersedak." Bella mengusap-usap punggung suaminya, lalu memberikan air minum. "Tapi Glend, apa kau tahu, sesaat tadi aku mengira itu adalah dirimu. Konyol, bukan? Selain manikmu dengannya yang begitu mirip, aromanya kali ini juga tercium sama. Sepertinya dia membeli parfum yang sama persis denganmu. Tapi jika dipikir-pikir, dia juga mirip dengan saudaramu, hanya saja dia lebih rupawan dan mempesona dibanding saudaramu."


Air yang belum sampai di tenggorokan pun menyembur keluar. Glend kembali tersedak hingga wajahnya merah padam.


"Jadi sesungguhnya kau ingin aku berwajah rupawan atau tidak?"


"Jangan terbebani dengan ucapanku. Kuterima kau apa adanya. Wajahmu yang buruk ini menjadi ujian sabar bagiku dan wajahku yang paripurna ini semoga membuatmu bersyukur. Kau legit meski wajahmu buruk, itu sudah cukup bagiku. Ayo, kita mulai!"