La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Bawalah Glend Kembali



Semua mata tertuju pada Bella. Sama seperti Bella yang menatap bingung, keluarga kerajaan itu juga sama bingungnya dengan Bella, kecuali Alice tentunya.


Bill segera mendekatinya, berdiri di sisinya. "Mereka..." ucapan Bill terhenti di udara karena Bella menyela dengan cepat.


"Jika wanita itu ada di sini, artinya mereka adalah keluarga suamiku, bukan begitu, Bill?"


Bill meringis, mengangguk pasrah.


"Be-berilah hormat," Bill menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia yakin akan ada drama sebentar lagi. "Semoga Tuhan memberkahimu."


"Selamat datang, Ayah mertua," Bella tersenyum hangat. Ia berjalan tertatih karena masih menggunakan alat bantu kruk.


"Kau pasti Granny," Tebak Bella begitu ia sampai di hadapan Queen Hellga. Bella meletakkan kruknya dan langsung memeluk wanita tua itu. "Selamat datang, Granny. Maafkan aku, kita harus bertemu dalam kondisi seperti ini."


Justin, Alex dan Bill kompak mengusap wajah mereka. Alice menyeringai sinis. Di dalam protokol kerajaan, menyentuh seorang ratu bukanlah yang dibenarkan.


"Your Majesty, Bella tidak mengetahui..." Alex hendak menjelaskan tetapi Queen Hellga mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat agar Alex tidak melanjutkan ucapannya.


"Jadi kau wanita yang dinikahi cucuku?" Queen Hellga menerbitkan senyum di kedua sudut bibirnya.


Bella mengangguk, "Your Majesty? Apakah aku tidak salah mendengar?"


Queen Hellga mengangguk sembari mengusap lengan Bella, "Ya. Pria yang duduk di sana. Ayah mertuamu, King Bryson. Sepertinya suamimu tidak menceritakan hal itu."


"Pangeran buruk rupa?" Queen Hellga mengerutkan dahi tidak mengerti.


"Ah, ya, dia sudah tidak buruk rupa lagi. Dia pangeran rupawan." Bella bergumam pelan.


Bella mengajak Queen Hellga untuk duduk. Keduanya terlibat pembicaraan.Tepatnya Queen Hellga menanyakan banyak hal kepadanya tentang kehidupan Glend. Bella menjawab seadanya.


"Jadi kenapa Glend memilih keluar dari kerajaan, your majesty?"


"Panggil saja Granny. Suamimu juga memanggilku demikian. Glend sejak dulu tidak pernah akur dengan ayahnya. Glend merasa selalu dinomor duakan. Menurutnya Andreas selalu menjadi prioritas."


"Apakah maksudmu, jika Glend cemburu pada Andreas, Granny?" Bella mengernyit bingung. Dari yang ia lihat selama ini jika Glend begitu memuja saudaranya itu.


Queen Hellga menggeleng, "Tidak, tentu saja tidak. Mereka berdua saling menyayangi dan saling melengkapi. Meski wanita yang melahirkan mereka berbeda, hal itu tidak menjadi pembatas diantara mereka."


Bella baru tahu jika Glend dan Andreas dilahirkan dari rahim yang berbeda. Ia menahan mulutnya untuk bertanya, memperjelas hal itu.


"Bawalah Glend kembali ke Anndora, tempatnya ada di sana. Kami sudah berusaha membujuknya, tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Dia adalah harapan kami. Satu-satunya yang akan menjadi penerus setelah King Bryson. Aku memohon kepadamu, Bella." Queen Hellga menggenggam tangan Bella, menatapnya dengan teduh, berharap Bella mengabulkan inginnya.


"Seperti apa Anndora itu, Granny? Apakah Glend sangat menyukainya?"


"Tentu saja. Dia lahir dan besar di sana. Semua kenangannya ada di sana. Kutahu ia pasti sangat ingin kembali ke sana. Hanya karena perselisihannya dengan King Bryson, Glend enggan untuk menginjakkan kaki ke sana lagi. Egonya sangat tinggi. Aku sudah tua dan aku ingin anak dan cucuku akir di sisa hidupku, Bella."