
"Arggggghhh...." Glend melempar semua benda yang ada di dalam jangkauannya. Tempat tidur sudah ia jungkir balikkan. Meja rias tidak berbentuk lagi. Kaca itu kini menjadi serpihan. Dihantam oleh kepalan tinjunya. Ia benci saat melihat pantulan dirinya di cermin. Hitungan bulan berlalu, rasa sesak itu juga tidak kunjung hilang sama sekali. Justru semakin sesak sehingga jika ia bisa memilih, ia lebih baik mati saja. Namun, kalimat menohok dari ayahnya mampu menggagalkan upayanya tersebut.
Kau masih berutang maaf untuk seseorang, Son.
Sesak itu semakin menyiksa tatkala ia tidak tahu ke mana ia harus mencari Bella untuk menghaturkan maafnya. Wanita itu menghilang bagaikan di telan bumi. Ayahnya mengatakan jika ia sungguh tidak mengetahui kemana Bella pergi.
Amukan dengan melempar semua benda nyatanya tidak berhasil. Ia hanya mendapat luka fisik yang tidak mampu menyamarkan hantaman di ulu hatinya sama sekali.
Glend tidak tahu lagi harus bagaimana. Dihantamnya dirinya ke dinding, berharap sesak di dadanya hilang. Yang ia temukan justru rasa pusing luar biasa.
Glend menepuk dadanya sekuat yang ia mampu, tetap saja sesak itu tidak hilang. Keringat membanjiri tubuhnya, matanya merah karena menangis. Selain merasa bersalah, berdosa, ia juga merindu, merindu seseorang. Hanya saja pertanyaan kenapa ia merindu, ia tidak menemukan jawabannya. Kenapa ia harus merindukan Bella disaat yang ia ingat hanya makiannya kepada wanita itu. Tapi percayalah, itu jauh lebih menyiksa.
"Arrgggghhh..." Glend melaungkan suara sejadi jadinya hingga ia bersimpuh di lantai.
Bryson dan Justin yang ada di balik pintu hanya bisa diam tanpa tahu harus melakukan apa. Ini sudah terjadi berulang kali dan bagi Bryson ini menyakitkan.Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ayah selain melihat kehancuran anak sendiri di depan mata.
"Uncle, berbaik hatilah. Katakan di mana Bella. Aku akan pergi menemuinya untuk membujuknya." Justin untuk kesekian kalinya memohon kemurahan hati Bryson.
Seperti biasa Bryson memilih bungkam dan pergi setelah menepuk pundak Justin.
"Apakah Glend bertingkah lagi?" Bill yang baru datang bertanya kepada Justin.
Justin hanya menganggukkan kepala.
"Kau sudah mendapatkan kabar tentang Bella?"
Bill menggeleng lemah, "Yang menjadi pertanyaanku, apa dia masih hidup?"
Plak!
Justin menoyor kepalanya. "Jangan mengatakan hal itu. Bagaimana jika Glend mendengarnya. Dia akan dengan senang hati menggantung dirinya demi bertemu dengan Bella di alam baka."
"Mengingat gambaran kondisinya, sulit untuk bertahan hidup bagi seorang wanita, Dude. Bella juga mengalami pendarahan. Menjadi buta menurutku masih tidak cukup sebagai hukuman bagi wanita ular itu."
"Ya, Alice layak mendapatkan hukuman yang lebih parah."
"Kira-kira bagaimana kondisi Glend di dalam sana? Kenapa mendadak hening?" Ya, kedua pria itu akan diserang rasa panik jika tidak mendengar suara dari dalam ruangan. Meski mendengar Glend menggila ikut membuat perasaan mereka hancur, tapi itu lebih baik. Artinya Glend masih terpantau hidup walau setengah gila.
Ceklek!
Justin dan Bill kompak terlonjak kaget. Mereka menoleh ke belakang. Glend tidak ada ubahnya dengan gelandangan yang putus asa. Bahkan kondisi pria itu lebih menyedihkan.
Darah seger bercucuran dari kedua tangannya. Lebam di wajahnya membuat ia hampir tidak dikenali.
"A-aku akan mengobatimu," Justin menarik Glend untuk segera duduk di sofa. Bill dengan sigap memanggil pelayan untuk membereskan kamar seperti biasa.