
Bella memendarkan pandangannya, berharap ada sesuatu yang bisa ia jadikan alat untuk melindungi dirinya.
Tuhan sungguh Maha Baik, di tengah rasa putus asanya, ternyata tepat di sisi kanannya ia melihat cabe kering yang sudah dihaluskan. Bella menjangkau benda tersebut dan melemparnya ke wajah Joven. Pria itu kepedihan, berdiri dan berlari tidak tentu arah. Bella segera berdiri, aksi jambak menjambak terjadi antara kedua wanita ini. Bella menendang perut Alice dengan lututnya. Wanita itu terjatuh lalu Bella mengambil cabe kering tersebut dalam jumlah banyak kemudian melemparnya ke wajah Alice.
Kedua manusia itu mengelepar-gelepar mencari air. Bella menebalkan hati untuk tidak merasa kasihan. Ia harus kabur menyelamatkan diri. Bella merasakan sesuatu yang hangat mengalir di paha dalamnya. Bella menggeleng.
Bayiku pasti baik-baik saja.
Bella mencari pintu keluar, ia kebingungan karena ini pertama kali baginya. Air matanya meluruh tanpa permisi. Hatinya sakit, badannya remuk, perutnya melilit.
Sangat tidak adil jika aku harus kehilangan bayiku. Tuhan, aku tidak ingin menjadi orang orang yang penuh dendam dan kebencian. Bayiku, tolong jangan ambil bayiku, Tuhan.
"Di mana pintunya? Mereka bisa datang lagi. Aku sudah tidak mempunyai kekuatan lagi." Bella merengek dengan rintihan tidak berdaya.
"Mom, Mom, aku merindukanmu tapi aku sungguh belum ingin menemuimu bersama bayiku. Mom, bisakah kau meminta kepada Tuhan, untuk menunjukkan jalan keluar kepadaku."
Bella terduduk lemas, ia sudah tidak kuat lagi berdiri. Darah yang keluar semakin deras. Ia akhirnya duduk terdiam. Memilih pasrah.
Makian dan umpatan keluar dari mulut Alice dan Joven. Wanita itu memaksa Joven berdiri dan mencari air.
"Mereka akan datang lagi," gumam Bella dengan senyuman getir. "Maafkan Mommy, Sayang. Mom sudah berusaha kuat, tapi ternyata Mom sepertinya harus kalah?" Bella mengusap perutnya yang mulai membuncit walau tidak terlihat jelas. "Apa katamu, Sayang? Daddy? Daddy tidak akan bisa menjemput kita, Daddy sedang sakit," tangisannya semakin menjadi manakala kenangannya bersama Glend seolah dipertontonkan di hadapannya. Sesekali Bella tertawa mengingat tingkah konyol mereka dulu.
"Aku mengantuk sekali. Tapi aku tidak boleh tidur. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Bella kembali mencoba berdiri. Ia harus keluar.
Byur!
"Habislah aku," Lirihnya. "Inikah akhirnya?" Bella kembali menghentikan langkah. "Harusnya biarkan aku bertemu ayahku terlebih dahulu. Memastikan dia hidup bahagia bersama Sharon dan Polly. Atau setidaknya biarkan aku menghubunginya melalui panggilan telepon," Bella meracau tidak jelas di tengah kepasrahannya.
"Brengsek, bajingan, wanita tidak tahu diri! Kau mau lari kemana, sialan!" Alice dan Joven melangkah cepat ke arahnya.
"Inikah saatnya kukatakan selamat tinggal kepada dunia, jika demikian, di kehidupan selanjutnya, tolong jangan takdirkan aku bertemu dengan seorang pria bernama Glend Vasquez, Tuhan. Ini terlalu menyakitkan."
"Rasakan ini, wanita murahan!" Alice mengangkat tongkat hendak melayangkan benda tersebut ke arah Bella.
Bruk! Braak!
Terdengar pintu yang dibuka secara paksa.
Bella tidak menoleh sama sekali. Ia tidak berharap yang datang adalah penyelamatnya. Bisa saja yang datang adalah sekutu para bajingan istana.
"Bella!"
Spontan Bella mengembuskan napas lega mendengar suara tersebut. Terdengar langkah kaki dalam jumlah banyak memasuki ruangan tersebut.
"AYAH, AKU DI SINI!" untuk pertama kalinya Bella mampu mengeluarkan teriakannya.
"Bella."
Bella menoleh, ia pun melaungkan tangisan begitu melihat sosok Bryson. "Ayah, bayiku...." Bella menunjukkan darah yang menetes di sepanjang kakinya. Lalu selanjutnya, Bella jatuh pingsan.