
"Aku juga lega melihat kau baik-baik saja sekarang." Bella mengeratkan pelukannya.
Glend melepaskan pelukannya dari Bella, pun Bella melakukan hal yang sama. Keduanya kembali bersitatap. Bella menaikkan tangan secara perlahan, menyentuh setiap jengkal wajah Glend. Ini pertama kalinya ia meraba wajah asli pria itu. Kenapa dulu, ia begitu bodoh hingga tidak menyadari jika Glend dan Andreas adalah orang yang sama.
Glend memejamkan mata menikmati setiap usapan lembut di wajahnya.
"Jadi begini rasanya menyentuh wajahmu yang sesungguhnya." Belle tersenyum getir mengingat saat Glend memutuskan untuk jujur, saat itu kecelakaan naas itu terjadi.
"Seharusnya dulu aku menyadari jika kau adalah Andreas." Ungkap Bella dengan perasaan penuh sesal sesak di dada.
Glend memegang tangan Bella, menghentikan setiap sentuhan wanita itu di wajahnya. "Maafkan aku."
"Aku yang terlalu naif," aku Bella.
Lantas, Glend memiringkan kepala, membuka sedikit bibirnya sebelum menyatukan bibir mereka berdua. Memagut mesra sambil menghapus air mata di pipi Bella dengan kedua tangannya. Bella memejamkan mata, menikmati bahkan membalas ciuman mesra pria itu. Bella terbawa suasana.
"Jadi begini rasanya berciuman dengan seorang Glend Vasquez tanpa ada topeng diantara kita." Bella terkekeh begitu mereka berhenti sejenak untuk mengambil napas.
"Sebelumnya kau juga sudah pernah berciuman dengan sosok ini," Glend berkelakar mengingat ulahnya saat menyamar menjadi sosok Andreas. "Aku memang sangat berdosa padamu," Glend mengusap lembut bibir Bella yang basah sisa dari ciuman mereka. Detik berikutnya, ia kembali menyatukan bibir mereka. Bella melingkarkan kedua di balik leher pria itu. Seperti ciuman mereka yang pertama, Bella juga membalas pagutan pria itu. Keduanya larut dalam ciuman intim yang lembut dan mendayu.
Glend ingin menghentikan ciuman mereka, tapi Bella masih memeluknya. Ia tidak ingin mendorong Bella tapi juga tidak ingin melukai Felix. Apa yang harus ia lakukan. Saat Bella merapatkan tubuh mereka, Glend pun memutuskan untuk menjadi pria brengsek di hadapan Felix. Ia merengkuh erat pinggang Bella dan memperdalam ciuman mereka hingga Felix berbalik dan memilih pergi membawa kekecewaan yang begitu sangat besar.
Begitu pria itu tidak terlihat lagi, Glend sengaja menggigit bibir Bella. Wanita itu meringis. Alih-alih melepaskan ciuman mereka, Bella membalas gigitan pria itu hingga mengeluarkan darah.
"Apakah sakit?" tanya Glend dengan suara parau sembari mengusap lembut bibir Bella, membersihkan jejak darah mereka yang sudah bercampur dengan saliva.
Bella mengangguk, "Bagaimana denganmu? Tenaga Felix sangat kuat, apakah gigimu aman?" Bella mengusap sudut bibit Glend yang sobek akibat pukulan yang dilayangkan Felix tadi sore.
Glend terkekeh, "Ya, kekuatannya sangat lumayan."
Keduanya saling mengunci tatapan masing-masing, kemudian kompak tertawa.
"Aku baru saja mengkhianati tunanganku."
"Maafkan aku," Glend mengembuskan napas panjang. "Dia pria yang sangat baik, tapi Bella, aku tidak akan pernah ikhlas melepaskanmu selama di keningmu belum tertulis nama pria yang menjadi pemilikmu seutuhnya." Glend menyatukan kening mereka. "Aku akan tetap di sini, seperti ini, memiliki cinta yang masih sama untukmu selama semuanya masih terlihat abu-abu."
"Felix pria yang baik, Glend. Kami sudah bertunangan. Aku miliknya dan aku baru saja mengkhianatinya."