
"Bella Kingston." Bella mengulurkan tangan sembari tersenyum ramah. Ella menyambut uluran tangan tersebut.
"Astaga, pantas jika Felix tergila-gila padamu." Ella melayangkan kerlingan nakal pada Felix yang merangkul Bella dengan sangat posesif.
"Senang bertemu denganmu, Ella." sedikit banyaknya, Bella tahu tentang Ella yang berprofesi sebagai psikolog. Sama seperti ibunya, Renata Collins. Mereka adalah keluarga mantan istri Felix yang sudah meninggal. Ya, Felix adalah seorang duda.
Mansion yang hendak dijual Felix adalah rumah yang ia tempati bersama istri dan anaknya, Jasmine dan Cherry Orlando. Keduanya mengalami kecelakaan maut saat hendak mengunjungi Felix di kantor.
Untuk beberapa tahun lamanya, Felix menyalahkan diri sendiri atas kematian istri dan anaknya. Karena pada saat itu, Felix banyak menghabiskan waktu di kantor. Jasmine memiliki sedikit kelainan. Mengalami paranoid yang berlebihan. Wanita itu selalu curiga pada Felix untuk alasan yang tidak jelas. Jasmine memang selalu datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
"Senang bertemu denganmu, Bella. Di mana anak-anakmu? Felix selalu bercerita tentang mereka."
Felix memanggil Grace dan Gavin. Kedua bocah itu dengan patuh datang menghampiri, meninggalkan arena permainan yang memang sengaja disediakan Felix secara khusus.
"Oh, astaga, mereka menggemaskan sekali." Ella memeluk satu persatu bocah tersebut.
"Selamat malam, Mr. Orlando." Glend menyapa semuanya.
"Oh, Uncle Iron Man!" Grace mengulurkan tangan meminta hendak digendong. Glend menyambutnya dengan segera. "Aku suka wangimu, sangat enak!"
"Glend?" Ella terkejut melihat kehadiran Glend disusul oleh tiga temannya yang ternyata langsung berbaur dengan tamu lainnya. Ternyata banyak relasi mereka yang menjadi tamu undangan.
"Astaga, ini sungguh dirimu." Ella menghambur ke hadapan pria itu. Bergelayut dengan manja di lengannya. Glend membiarkannya, tidak menepis sama sekali demi menjaga perasaan Ella.Toh, Bella tidak merasakan apa pun padanya.
"Pantas saja aku tidak pernah melihatmu dan para sahabatmu tersesat di tengah jalan saat dilanda mabuk berat. Apakah kau sudah bertaubat, tidak kecanduan lagi. Baru beberapa minggu tidak bertemu, kau terlihat lebih segar dan sehat. Ahh.... kau mulai menuruti apa yang kukatakan, ya?"
"Hm, karena kau terlalu cerewet," jawab Glend seadanya.
"Mom, dia pria yang kuceritakan." Ella tersipu malu. Jelas sekali jika ia memang sedang tergila-gila pada Glend.
"Renata Collins," wanita setengah baya itu mengulurkan tangan sembari tersenyum hangat.
"Hei, lepaskan tanganku," Glend terkikik geli melihat Ella yang merangkul lengannya dengan cukup kuat. "Bagaimana aku menyambut uluran tangan ibumu jika kau memeluk lenganku seperti itu."
"Ah, maafkan aku," Ella memukul manja lengan pria itu dengan lembut. "Wangimu sangat enak," Ella lagi dan lagi tersipu malu.
"Glend Vasquez," Glend memamerkan senyum terbaiknya.
"Wah, aku masih tidak percaya jika kau dan Ella saling mengenal satu sama lain, Mr. Vasquez. Bagaimana kau bisa mengenalnya?"
"Dia adalah pasienku sejak dua tahun terakhir ini. Dan kau tahu, aku psikolog ke 40 yang merawatnya." Ella menggelengkan kepala. Felix sedikit terkejut mendengar hal itu. "Dia pasien yang payah. Sangat payah. Tapi akhirnya aku berhasil!" Ella kembali bergelayut di lengan Glend.
"Aunty, kau membuat Uncle kesulitan." Grace menyeletuk, menyorot tidak suka pada Ella. "Uncle sedang menahan tubuhku di gendongannya. Sementara kau menahan lengan kanannya. Jangan bergelayut seperti cacing di sana! Aku tidak suka padamu, Aunty!"
"Grace!" Bella menegur putrinya yang tidak sopan. Ini pertama kalinya terjadi Grace mengeluarkan kalimat yang cukup lancang.
"Astaga, apakah aku sedang dimarahi seorang anak kecil?" Ella bertanya dengan mimik wajah tidak percaya. "Ck! Pesonamu memang luar biasa, Vasquez, anak kecil itu sepertinya menyukaimu."
"Grace, namanya Grace, Ella. Menyingkirlah jika begitu," Glend menarik tangannya menjauh dari Ella. "Dia mengatakan tidak suka dan aku harus menurut. Aku tidak ingin dibenci untuk kesekian kali." Glend melirikkan ekor matanya pada Bella yang memalingkan wajah cantiknya sejak tadi.
"Ck! Ella, kau membuat putriku marah dan aku tidak percaya melihat wajahmu yang bersemu sejak beberapa menit lalu. Apakah ini Ella yang selalu mengajakku menikah?" Felix sengaja menggodanya.
"Kau menolak lamaran ibuku dan sekarang aku tahu bahwa kau ternyata sudah menemukan wanita yang cocok untukmu. Aku bahagia untukmu, Felix."