
Glend menarik selimut, menutupi tubuh Bella yang polos. Memandangi wajah istrinya yang tertidur lelap karena kelelahan. Sebuah senyum terbit di sudut bibirnya. Ia puas dan bahagia. Benar saja, Bella memberikan hiburan tidak terduga kepada Glend. Menyerahkan diri seutuhnya kepadanya, layaknya istri yang baik, yang memahami keinginan suami.
Tidak pernah terpikir olehnya bahwa mereka akan melewatkan malam penuh sejarah ini. Tidak ada sentuhan liar dan ganas. Semuanya dilakukan dengan sangat lembut dan penuh hati-hati. Sesungguhnya Glend sangat kasihan kepada Bella. Bercinta adalah hal yang baru bagi gadis itu tapi Bella harus sudah dihadapkan pada fakta bahwa harus dirinya lah yang berperan aktif.
Melalui arahan yang diberikan Glend, Bella melakukan semuanya dengan mulus. Tidak ada rasa jijik sama sekali yang terpatri di wajahnya yang cantik. Dan saat Glend meminta sudah waktunya Bella menyatukan tubuh mereka, wanita itu juga melakukannya dengan patuh.
Glend menyaksikan wajah Bella yang tersentak menahan sakit luar biasa. Manik gadis itu bahkan mengeluarkan tangisan. Di tengah rasa sakit yang Bella rasakan, wanita itu masih sempat menyunggingkan senyum manis seraya berkata aku tidak apa-apa, sungguh. Saat itu juga, Glend merasa bahwa dirinya adalah pria paling brengsek. Pria brengsek yang sangat beruntung.
Menyingkap tirai surga yang begitu manis. Percintaan yang luar biasa. Sentuhan Bella sangat memabukkan meski tidak berpengalaman. Acara intim nan mesra itu sudah berlalu sejak satu jam yang lalu tapi Glend masih bisa merasakan Bella ada di dalam dirinya. Sentuhan Bella masih meninggalkan sensasi yang memabukkan. Ia terbuai, melayang, dan sepertinya ia sudah jatuh cinta kepada Bella. Bukan karena Bella sudah menyerahkan diri kepada Glend. Bukan karena Bella adalah gadis perawan, tapi karena sikap dan ketulusan gadis itu lah yang membuat Glend bisa menikmati kebersamaannya.
"Kau sungguh luar biasa, Bella Vasquez," Diusapnya kepala Bella dengan tatapan memuja. "Terima kasih." Ia pun menunduk mendaratkan satu kecupan hangat di kening Bella. "Malam ini sungguh indah. Kau berhasil menyerap semua kepedihan dan rasa muak yang membelengguku. Tidurlah, Sayang, ke depannya, akan kubuat kau jatuh cinta padaku. Sama sepertimu, aku pun tidak ingin bertepuk sebelah tangan."
Glend kembali menunduk ciuman singkat di bibir Bella yang sudah membengkak akibat ulahnya.
"Tidak boleh lama-lama, bahaya jika tubuhku bereaksi dan mendamba. Istriku yang cantik butuh istirahat." Ucapnya dengan kekehan geli.
"Oh Tuhan, aku benar-benar jatuh cinta. Sepertinya aku harus berlutut di hadapan ayah mertuaku. Kenapa dia bisa memiliki putri yang mengagumkan." Glend lagi dan lagi tertawa. Permintaan konyolnya terhadap Harry yang terdengar kejam justru membuatnya terjebak dalam lingkaran permainan yang ia ciptakan. Malam ini, ia bersyukur jika bukan Lizzie yang datang padanya. Dan berbicara soal Lizzie, ia akan membuat perhitungan dengan gadis itu.
Glend memutar kursi rodanya, ia perlu membersihkan dirinya walau tidak ingin karena aroma tubuh Bella masih melekat di tubuhnya. Tapi rasa lengket di tubuhnya juga membuatnya tak nyaman.
Di lihatnya baju mereka yang berserakan di lantai, teronggok begitu saja. Lagi, senyumnya kembali melebar. Ingatan tentang Bella yang melepaskan satu persatu kancing kemeja Glend benar-benar momen yang mendebarkan baginya. Khawatir jika Bella melihat sesuatu yang aneh dan janggal di sana. Tapi kegugupan dan ketegangan yang sama-sama mereka rasakan sepertinya mengalihkan fokus Bella.
Sesampainya di toilet, dikuncinya dirinya di sana. Glend menunduk muram mengingat alasannya menikah. Menghindari perjodohan yang selalu dipaksakan neneknya kepadanya.
Dulu, ia mungkin akan menerima begitu saja perjodohan yang ditawarkan kepadanya mengingat wanita yang dijodohkan kepadanya adalah gadis yang membuatnya pertama kali merasakan apa itu cinta.
Glend menggeleng, mengenyahkan tentang wanita masa lalunya. Ia tidak ingin merusak kebahagiaanya malam ini. Ditariknya napas panjang, kemudian ia pun berdiri. Ya, Glend tidak lumpuh. Keduanya kakinya berfungsi sempurna. Kecelakaan yang ia alami memang sempat membuatnya tidak bisa berjalan selama lebih dari satu tahun. Ia sangat terguncang dan terpukul. Untung saja Justin memiliki kenalan seorang terapis handal yang sangat sabar menghadapi kemarahan dan keputusasaannya.
Glend berjalan ke arah cermin besar menatap wajahnya yang separuh cacat yang juga merupakan kebohongan. Dilepaskannya topeng wajah yang terbuat dari kulit. Ditatapnya wajahnya yang jauh dari kata cacat. Wajah yang sangat ia benci karena terlihat begitu mirip dengan sang ayah. Memuakkan. Wajah donjuan sejati. Predator wanita yang tidak pilih kasih. Wajah yang juga sedikit menyulitkannya karena banyak wanita yang rela merangkak ke atas ranjangnya.
Wajah ini juga yang menjadi saksi kebrengsekannya hingga akhirnya ia lelah sendiri dengan sikapnya itu. Ia bermain-main dengan banyak wanita. Dan sialnya semua wanita yang ia kencani berasal dari spesies yang sama. Murahan dan maruk. Semuanya memiliki tujuan mendekatinya.
"Bagaimana jika Bella melihat wajahku yang sesungguhnya?" pertanyaan itu sedikit mengusiknya. Ia membohongi Bella dalam banyak hal. Sekarang, bagaimana ia akan mengalami situasi ini.
"Glend, kau di dalam?"
Suara Bella membuatnya tersentak. Gadis itu berada di depan pintu. Suaranya begitu dekat.
"Ya, aku di sini. Kenapa kau bangun?"
"Aku bermimpi."
"Apa mimpimu?"
"Kau mencumbuku lagi."
Glend tergelak, "Itu bukan mimpi, cara mia. Itu mungkin keinginanmu dan juga inginku."
"Apa kau sedang mandi?"
"Hmm, mau ikut bergabung?" Tawar Glend mencoba memancing, siapa tahu berhasil dan ia bisa merasakan Bella lagi di tubuhnya.
"Tidak. Itu akan berakhir lama. Nanti kau sakit. Tapi aku akan membantumu, buka pintunya? Tidak biasanya kau mengunci pintu seperti ini."
"Itu karena baru kali ini kau menemukanku di dalam toilet."
Ya, benar juga. Selama ini, Bella bangun saat Glend sudah berada di meja makan. Glend selalu mandi saat Bella masih tidur. Keuntungan bagi Glend yang memang terbiasa. bangun pagi-pagi.
"Apa yang kau sembunyikan, Glend? Bukankah aku sudah melihat semuanya. Buka pintunya, aku akan membantumu mandi. Kau tidak boleh berendam terlalu lama, mandi tidak akan membuat wajahmu yang buruk berubah manawan, Glend."
Heh? Yang benar saja. Tapi Glend tidak akan heran lagi jika yang berbicara adalah istrinya yang lugu.
Glend pun memasang toping kulit itu kembali ke wajahnya. Pun memakai jubah kemeja dan menyelipkan benda kecil tersebut ke baliknya. Naik ke kursi roda layaknya pria lumpuh. Glend pun membuka pintu. Bella berdiri hanya di balut selimut. Rambut panjang tergerai acak menjadi pemandangan paling eksotis menurutnya.
Di tariknya Bella ke pangkuannya. "Banyak hal yang kusembunyikan darimu, kau ingin tahu, Bella?"
"Kau sungguh ingin memberitahuku?" Bella balik bertanya.
"Tidak."
"Kalau begitu sembunyikan semampumu. Jangan sampai kau ketahuan olehku. Ck! Satu-satunya yang harus kau sembunyikan harusnya wajahmu yang buruk ini," Tangan Bella terulur membelai wajah Glend yang cacat. "Apa ini sakit?"
"Tidak kalau kau menyentuhnya seperti ini. Enak sekali." Ditahannya tangan Bella tetap berada di pipinya.