
"Glend dengarkan aku, kau harus tahu jika semua yang ada di dalam pikiranmu itu salah. Banyak yang tidak kau ketahui di sini. Ayahmu tidak seburuk yang kau pikirkan."
Glend menghentikan langkahnya mendengar penuturan Bella. Ia berbalik cepat sehingga mau tidak mau Bella juga berhenti. Hampir saja ia menabrak pria itu.
"Apa katamu? Tidak seburuk yang kupikirkan? Apakah sekarang kau ingin mengatakan bahwa Bryson adalah pria yang baik? Ayah yang begitu menyayangi putranya. Ayah yang bijak dan adil atau bahkan suami yang baik? Begitukah maksudmu, Bella?"
"Kenyataannya memang begitu. Dia tidak bermaksud menyakitimu, Glend." Bella menatap suaminya dengan sangat prihatin. Logikanya, tidak akan ada seorang ayah yang tega melukai perasaan hati sang anak. Pun Bryson. "Alasanku datang kemari, karena saat kau terbaring koma, aku melihat ayahmu begitu terpukul. Matanya ingin menangis, tapi sebisa mungkin ia menahan hal itu. Ia sosok yang paling terluka saat melihatmu terbaring di atas ranjang rumah sakit."
"Jika demikian artinya kau sudah tertipu. Pria itu hanya berpura-pura dan berharap aku bisa mati menyusul ibuku."
"Kau salah, Glend. Tidak seperti itu. Ayahmu juga sangat mencintai ibumu."
"Kejutan macam apa lagi ini?" Glend tertawa sumbang. "Mendadak semuanya berubah wujud. Andreas yang penyayang berubah menjadi si serakah yang ambisius. Bahkan Alex yang kukira adalah temanku ternyata orang ada hubungannya dengan kematian ibuku."
Bella memekik tidak percaya. Inikah maksud Alex tentang pengkhianatan yang ia lakukan. Oh Tuhan, ini terlalu mengerikan. Kenapa Alex bisa terlibat? Glend pasti sangat terluka sekali.
"Sekarang kau ingin aku percaya dengan apa yang kau katakan?" Glend menggeleng, "Tidak ada yang bisa dipercayai."
"Glend, kau harus percaya kepadaku."
"Glend sebenarnya aku..."
Bella menghentikan kalimatnya tatkala pria itu mengangkat sebelah tangannya. "Apa kau juga sudah tersihir olehnya, Bella. Jika demikian, kurasa kau tahu caranya melayangkan gugatan cerai. Mungkin saja kau bisa menjadi ratu dan juga merangkap sebagai ibu tiriku," lagi dan lagi Glend menyeringai.
Plak!
Bella terkejut begitu juga dengan Glend.
"Glend, aku...?" Bella merasa bersalah setelah melayangkan tamparan keras di wajah suaminya. "Glend, aku tidak bermaksud. Akhir-akhir ini aku sangat kacau, Glend. Maafkan aku." Bella mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah suaminya. Glend menepisnya dengan kasar juga menatapnya dengan penuh kemarahan.
"Menyingkir dari hadapanku! Di sini bukan hanya kau yang kacau, tetapi aku juga. Lagi pula siapa yang memaksamu datang kemari? Heh? Keinginanmu datang kemari perlu dipertanyakan ulang. Kau memang memiliki maksud terselubung."
"Kutahu kau sangat merindukan ayahmu, Glend. Kau selalu mengigau tentang hal itu selama kita di sini. Ayahmu pun merasakan hal yang sama. Aku hanya ingin kesalahpahaman yang terjadi antara kau dan dia bisa diselesaikan. Tentang skandal yang tersebar, itu tidak sepenuhnya benar."
Glend yang sudah dipenuhi kabut amarah tidak akan bisa berpikir dengan jernih. Ia hanya akan mempercayai apa yang ia lihat dan dengar secara langsung.
"Kurasa kau memang sudah sangat menyukai si tua bangka itu," Glend mengulurkan tangan, Bella menyambutnya mengira dirinya lah yang akan disentuh oleh suaminya. Begitu tangannya terulur, tiba-tiba Alice muncul dari belakang.