
"Apa kau merasa tidak nyaman?" Glend bertanya saat keduanya sudah berada di atas ranjang. Ada peningkatan dalam protokol hubungan mereka saat berada di atas ranjang. Jika dulu Bella lebih memilih memunggungi Glend, sekarang, malam ini, ia berada di dalam dekapan pria itu.
"Di pelukanmu? Meski sulit untuk mengakuinya, tapi kenyataannya aku cukup nyaman. Wangimu enak."
Glend terkekeh, gemas melihat Bella yang selalu mampu membuat suasana terasa menyenangkan. "Aku senang mendengarnya jika kau merasa nyaman di dalam pelukanku, tapi Bella, yang kutanya adalah kenyamanan di bawah sana."
"Di bawah?" Bella bingung tidak mengerti. "Di bawah mana? Kau ingin aku tidur di lantai dasar setelah apa yang kita lalui malam ini? Di bawah tidak membuatku nyaman. Aku merasa seperti tuan putri yang ditawan dalam sebuah menara."
"Aku bertanya tentang organ intimmu, Sayang. Apakah sakit?"
Wajah Bella bersemu merah seketika. Kilasan permainan berbahaya yang mereka lakukan benar-benar hal baru bagi Bella. Hal yang harus ia akui sangat gila tapi membuat ketagihan. Ia lelah, tapi ia juga menikmatinya. Ia terbuai, melayang, mabuk kepayang saat mendengar suara Glend memberi instruksi dengan nada lembut dan penuh hati-hati. Suara Glend membuatnya candu, apa lagi saat suaminya itu menyebut namanya. Bella. Bella. Bella. Oh Tuhan, cara Glend menyebut namanya benar-benar berbeda.
"Se-sedikit. Hanya sedikit perih."
"Maafkan aku."
Bella mendongak, "Permintaan maaf untuk apa?"
"Sudah membuatnya perih."
"Aku yang membuatnya," sahut Bella dengan wajah polos bagaikan bayi mungil yang tidak berdosa. "Aku yang memimpin, aku yang membuat buayanya masuk ke dalam sarang. Jadi ini jangan minta maaf untuk sesuatu yang bukan salahmu. Lagi pula ini bukan kesalahan. Kau menikmatinya? Kau puas? Hasratmu tersalurkan?"
Glend mengullum senyum, jika bisa ia ingin terbahak, sungguh! Ini pertama kali seorang wanita bertanya kepadanya tentang kepuasannya.
"Aku sangat terpuaskan dan aku menikmati setiap sentuhanmu. Setiap saraf-saraf dalam tubuhku bereaksi dengan sentuhan ajaibmu yang memabukkan."
Wajah Bella semakin bersemu merah mendengar jawaban Glend yang menyelipkan pujian tidak kasat mata.
"Kalau kau ingin katakan lagi," ungkapnya setengah menunduk menghindari kontak mata.
"Oh ya?" Glend lagi dan lagi menahan tawa. Ia kira Bella akan jera. Bukan hal yang mudah bagi seorang pemula untuk memimpin acara.
"Ya, tapi jangan malam ini," Bella semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajah di dada suaminya. "Ini masih sedikit perih dan aku sedikit lelah." Kejujuran yang selalu mampu membuat Glend tertawa.
"Aku senang kau orang pertama bagiku. Setidaknya aku bisa melaksanakan tugasku sebagai seorang istri. Apakah aku masih seorang istri durhaka di matamu?"
Glend menggeleng, ia menunduk dan mengigit ujung hidung istrinya. "Kau istri cantikku yang sangat pengertian."
"Tapi di mataku, kau tetap suami durjana," cetusnya dengan nada lempeng.
"Astaga, Bella, kau selalu membuatku terkejut. Baiklah, sekarang kita harus tidur. Matahari sudah hampir terbit. Pejamkan matamu."
"Hm, selamat tidur, Glend."
"Mimpi indah, Bella."
Bella pun memejamkan mata dan tidak berapa lama kemudian terdengar dengkuran halus.
"Dia memang sudah sangat kelelahan." Pun Glend ikut memejamkan mata. Hari ini dan seterusnya hidupnya akan lebih berwarna.
____
Untuk pertama kalinya Bella yang bangun lebih awal dibandingkan Glend. Ia bahkan sudah siap memasak saat Glend turun dari kamar.
"Selamat pagi, Sayang. Aku terlambat bangun."
"Ya, pertama kalinya sejak kita menikah. Apa aku perlu memberi kecupan selamat pagi?" Bella melepaskan apron dari tubuhnya lalu berjalan menghampiri Glend kemudian mendorong kursi roda tersebut ke meja makan. Sarapan sudah tersaji. Perdana memasak untuk suaminya.
"Aku akan senang jika kau mengecupku."
Pun Bella membungkuk dari belakang, memberikan kecupan di wajah Glend yang rusak. "Kita seperti melakoni drama suami istri yang harmonis, bukan?" Bella terkikik geli. Hanya dalam satu malam hubungan mereka yang biasanya saling mengejek berubah manis.
Glend pun ikut terkekeh. "Sepertinya kita harus sering bercinta agar hubungan kita semakin harmonis."
"Mesum!" Glend membentangkan serbet di atas paha suaminya, menyajikan kopi juga Eggs benedict, sarapan yang terdiri dari muffin Inggris, ham atau bacon, telur rebus, dan saus hollandaise.
"Sepanjang memasak, aku bertanya-tanya bagaimana caranya kau naik ke kamar dengan kursi roda hingga kau muncul dan aku baru menyadari ada tangga lain ternyata yang dikhususkan untukmu. Sempat terpikir olehku kau pura-pura lumpuh, astaga."
Glend yang baru menyesap kopinya tersedak akan pernyataan ringan istrinya. Bella mulai curiga dan berspekulasi. Ya, kebohongan selalu tidak bertahan lama.
"Astaga, kopinya masih panas, Glend. Minumlah secara perlahan." Bella mengusap punggung Glend sembari mengulurkan tissue kepada suaminya.
"Duduklah, kau juga harus sarapan. Makan lah yang banyak agar kau punya tenaga yang kuat." Glend menarik kursi di sisi kanannya untuk Bella. Sebaiknya mengalihkan pembicaraan sebelum dirinya tertangkap basah. Bella mulai merasuki hati dan pikirannya dan akan sulit baginya untuk membohongi wanita itu.
"Semalam suaramu juga berubah dan sedikit serak. Itu terdengar seksi di telingaku."
Glend kembali tersedak. Telur yang belum sempat ia kunyah dengan benar tertelan, tersangkut di tenggorokan membuatnya kesulitan bernapas. Wajahnya merah padam.
"Oh Tuhan, ada apa denganmu?" Bella segera berdiri di belakang Glend. "Condongkan tubuhmu ke depan dan membungkuklah sedikit. Aku akan memukul punggungmu, akan sedikit sakit." Bella pun memukul kuat punggung Glend menggunakan kepalan tangan. Di pukulan ketiga, makanan itu melompat ke luar. Glend pun bisa bernapas dengan benar. "Untung saja kau tidak mati." Bella membantu Glend minum untuk melegakan tenggorokannya. "Tidak lucu jika kematianmu hari ini dimuat di media dengan judul: SEORANG GLEND VASQUEZ MENINGGAL GARA-GARA TERSEDAK TELUR MATA KERBAU SETENGAH MATANG!"
"Sebaiknya kita menikmati sarapan ini tanpa berbicara, Bella. Kata-kata yang keluar dari mulutmu selalu membuatku terkejut. Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku."
"Sama-sama," sahutnya lempeng, kembali duduk di kursinya.
"Omong-omong, Bella, apa kau senang jika aku mati?"
"Kenapa aku harus senang? Mungkin aku tidak akan bersedih, itu saja."
Mau heran tapi yang berbicara adalah Bella. Glend hanya bisa menipiskan bibir mendengar jawaban Bella yang selalu apa adanya.
"Kupikir kau akan senang, kau akan mendapat warisan mungkin."
"Warisan? Itu akan merepotkanku. Aku akan dikenal sebagai janda dari seorang Glend Vasquez yang kaya raya. Akan banyak pria yang mengincarku. Aku akan kesulitan memilih mereka untuk menjadi penggantimu."
"Sebaiknya kau nikmati sarapanmu, Bella. Kau membuatku sakit hati."
"Oh Tuhan, aku senang jika kau sakit hati padaku. Itu akan membuatmu benci kepadaku. Dengan begitu kau tidak mungkin jatuh cinta kepadaku."
"Kenapa kau percaya diri sekali."
"Karena aku memiliki wajah yang cukup cantik." jawabnya pongah.