
"Kenapa hanya berdiri dan mematung di sana, Bella? Tidakkah kau merindukan suamimu ini?"
Rose dan Lizzie memekik dengan suara tertahan. Keduanya masih shock dengan kedatangan Glend yang tiba-tiba menerobos masuk bersama Bill, menanyakan keberadaan Bella.
"Ya, Mom, dia pria yang kulihat berciuman bersama Bella di dalam mobil. Kau masih ingatkan waktu aku melaporkan hal itu padamu? Tapi aku tidak menyangka jika si pria monster itu juga lumpuh. Euuww, mengerikan juga menyedihkan."
"Oh Tuhan, ini menjijikkan," Rose bergidik, wajahnya menahan mual, menunjukkan reaksi secara terang-terangan.
"Jika kau ingin tahu, aku juga sangat merindukanmu," Glend menjalankan kursi rodanya dan berhenti tepat di hadapan Bella.
Polly menyembunyikan wajah di dalam pelukan ibunya.
"Jadi yang dikatakan Lizzie itu benar, Bella. Kau memiliki kekasih buruk rupa."
Glend menoleh ke arah Polly, gadis kecil itu semakin memeluk ibunya dengan erat.
Glend tersenyum manis, tidak merasa tersinggung sama sekali. "Apakah kau takut padaku, Little girl?"
Polly mengangguk dengan polos. Jika Rose dan Lizzie saja sampai menjerit histeris, kononlah Polly yang masih bocah.
"Aku tidak akan melukaimu, tidak akan menggigit juga. Kau bisa bertanya kepada Bella. Aku dan Bella saling menyayangi, bukan begitu Bella?"
Glend kembali memusatkan perhatiannya kepada Bella yang masih saja membatu di tempat. Sulit bagi Glend untuk menebak apa yang ada di benak istrinya itu.
"Oh Harry-, hmm... maksudku Ayah mertua. Maaf, aku baru sempat menyapamu setelah beberapa bulan menikah dengan putrimu. Bagaimana keadaanmu, Ayah mertua?"
Harry berdehem, sama seperti Bella, ia juga terkejut dengan kehadiran Glend. Hatinya mencolos setelah melihat langsung wajah atasannya itu. Bayangan bagaimana Bella menghabiskan hari selama beberapa bulan ini cukup membuatnya tertohok. Sekarang ia menemukan jawaban tentang berita yang beredar, tentang beberapa wanita yang lari terbirit-birit setelah melihat wajah atasannya. Apakah keberadaan Bella di sini sesungguhnya juga merupakan upaya Bella melakukan pelarian dari jerat belenggu pria itu.
Harry merasa gagal menjadi orang tua. Ia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk putrinya. Bella menginginkan pangeran hadir di dalam hidupnya. Glend bisa saja dikatakan pangeran kaya raya, tapi Harry yakin bahwa bukan pangeran seperti ini yang diinginkan putrinya.
"Sepertinya kau juga sama terkejutnya dengan istriku, Har-, hmm... Ayah mertua. Ya, kedatanganku memang disengaja untuk memberi kejutan kepada Bella dan sepertinya aku berhasil." Glend tersenyum simpul, menikmati wajah-wajah terkejut di hadapannya. Hari ini, ia baru mendarat dari Itali, dari bandara ia langsung menuju kemari, bertemu dengan sang istri. Satu minggu seolah bertahun lamanya.
"Jadi, Bella sungguh menikah dengan pria monster, eh buruk rupa, maksudku pria ini, suamiku." Rose berdiri di sisi suaminya. Melayangkan tatapan jijik kepada Glend. "Apa yang dipikirkan Bella saat menikahi pria mengerikan ini," Rose bergumam tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh semuanya.
"Apakah kau ibu tiri dari istriku tersayang? Well, akan kujelaskan apa yang sedang dipikirkan istri cantikku itu saat menikah denganku. Dia tidak menginginkan ayahnya mendekam di penjara karena dituduh menggelapkan uang perusahaan. Disaat istriku mengorbankan dirinya, kau dan putrimu sibuk menyelamatkan barang-barang branded murahan itu."
"Apa maksudmu?" Rose berdecis sengit. Wajahnya tidak menunjukkan keramahan sama sekali.
"Maksudku, kau dan putrimu bisa menikmati hidup enak berkat istriku, bukan begitu, Harry? Astaga, maksudku ayah mertua." Glend tergelak mendengar ucapannya sendiri. Terbiasa memanggil Harry tanpa sopan santun benar-benar menjadi candunya. Tapi karena ia tahu jika Bella sangat tidak menyukai jika ayahnya tidak dihormati, setidaknya di hadapan Bella ia harus menjaga sikapnya.
"Ayolah Bella, sudahi rasa terkejutmu itu, berikan aku pelukan." Glend menarik tangan Bella, memberikan kecupan dalam di sana.
Ingin rasanya Bella menarik tangannya tapi melihat reaksi Rose dan Lizzie terhadap Glend, ia tidak ingin membuat pria itu semakin berkecil hati. Lagi pula, beberapa jam lalu ia sudah terlanjur mengatakan kepada ayahnya jika hubungannya dan Glend baik-baik saja. Melalui ekor matanya, Bella dapat melihat jika ayahnya mengawasi dan memperhatikan raut wajahnya.
"Aku sangat lelah sekali, bisakah kau membawaku ke kamar kita."
Semua kompak membeliak kaget. Apa maksud dari perkataan pria itu? Ke kamar kita? Glend ingin menginap?
"Apa kau baru saja menyuruhku?" Rose terlihat geram.
"Ya. Di sini tidak ada pembantu. Lalu kepada siapa lagi aku meminta tolong. Ayolah ibu tiri, kau hanya menumpang di sini, lakukan saja apa yang kukatakan."
Glend benar-benar tidak kenal ampun. Tatapan Rose yang menghunus tidak ia hiraukan.
"Memangnya siapa kau, hah?"
"Aku siapa?" Glend balik bertanya dengan nada ditarik-tarik. "Suami dari Bella Vasquez dan menantu dari Harry Kingston. Akh, ya, aku lupa memperkenalkan diriku, Ibu tiri. Glend Vasquez, pemilik Vasquez Group tempat suamimu bekerja. Jika kau sudah tidak memiliki pertanyaan lagi, lakukan apa yang kuperintahkan, aku lelah dan ingin istirahat."
Rose dan Lizzie terkejut untuk kesekian kalinya. Dan kejutan kali ini benar-benar membuat mereka kehilangan kata-kata.
"Ja-jadi dia atasanmu, Suamiku."
"Ya," sahut Harry singkat.
"Glend..."
"Ya, akhirnya kau berbicara," Glend mengukir senyum lebar di wajahnya. Tangan Bella masih ada di dalam genggamannya, tidak ia lepas sama sekali.
"Kamarku ada di lantai atas, tidak ada jalan menuju ke sana, kami hanya memiliki tangga yang tidak bisa dilewati kursi rodamu. Sebaiknya kau pulang."
"Kau terdengar seperti mengusirku," Glend kecewa, terdengar dari nada suara dan tatapannya. "Bill, periksa rumah ini, apakah ada kamar di lantai bawah."
Tanpa diperintah dua kali, Bill langsung melaksanakan tugas.
"Maafkan kelancanganku, Ayah mertua. Kuharap kau memakluminya."
"Aku tidak tahu apa yang harus kumaklumi darimu, Mr.Vasquez. Kedatanganmu ke rumahku benar-benar kejutan. Selama kau menginap di sini, kuharap kau menjaga sikapmu karena di sini atasan dan bawahan tidak berlaku, Mr.Vasquez."
Glend mengangguk diplomatis. "Ya, aku setuju dengan apa yang kau katakan, Ayah mertua. Tidak usah sungkan untuk menegurku. Omong-omong siapa wanita itu? Ada apa dengan wajahnya yang lebam-lebam?" Glend menunjuk ke arah Sharon.
"Astaga! Dad, kau sudah menghubungi dokter?"
Harry pun segera menghubungi dokter keluarga mereka. Sementara Harry melakukan panggilan, Bill datang membawa laporan bahwa ada dua kamar di lantai bawah. Satu dijadikan gudang barang bekas dan yang lainnya, dibiarkan kosong begitu saja.
"Ibu tiri dan saudari tiri saatnya kalian bekerja, bersihkan kamar kosong itu untuk kami."
Rose dan Lizzie saling menatap, terang saja mereka tidak terima dengan pekerjaan yang diperintahkan Glend kepada mereka, tapi hendak protes kepada si buruk rupa itu mereka tidak mempunyai nyali.
"Sebaiknya kalian menempati kamar yang berada di dekat tangga," Harry tiba-tiba menyela. "Kamar itu dulu ditempati Bella dan ibunya belajar melukis."
"Baiklah Ibu tiri, bersihkan kedua kamar tersebut." Lalu Glend memberi perintah kepada Bill agar menyiapkan semua keperluan mereka. Menjelaskan kepada pria itu agar menata kamar barunya sesuai yang ia inginkan.
"Sembari kita menunggu kamar baru kita, bagaimana jika kau mengajakku berjalan-jalan, Sayang?"