La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Aku Merindukannya



"Bella, kami merindukanmu." Justin merangkul pundak Glend sembari mengusap dada pria itu memberi kekuatan agar tetap tegar dan sabar.


"Ya, Bella, bukankah kau mengatakan kita adalah teman saat di Anndora. Kembalilah, aku bersumpah akan memasak untukmu seumur hidupku."


"Kapan Bella mengatakan kau jadi temannya?" Glend yang dari tadi diam merespon perkataan Alex. Tersirat kecemburuan di sana.


"Dulu, saat kau mengabaikannya." Alex menyeringai sinis.


"Apa kau sedang meledekku, Alex?"


"Anggap saja begitu." tandas pria itu.


"Lepaskan aku, Justin. Sepertinya pria itu menantangku untuk berduel."


"Sejak tadi aku sudah melepaskanmu, Dude." Justin memang sudah duduk di bangku besi yang memanjang, memuntahkan isi perutnya sembarangan. "Berduellah, aku butuh tontonan. Bill kemarilah, jangan melerai mereka." Bill dengan patuh menghampiri Justin, tanpa sengaja Bill justru menginjak muntahan pria itu.


"Sila! Menjijikkan, euw... Kau menjebakku, keparat!" Bill menarik kerah baju Justin dan mendorong tubuh pria itu tersungkur ke tanah. Justin tidak menerima perlakuan sahabatnya itu, ia bangkit dan memberikan serangan balasan. Dilayangkannya bogeman ke wajah sahabatnya itu hingga kepala Bill miring ke kiri. Bill tidak tinggal diam, ia pun membalas bogeman Justin. Keduanya bergulat di jalanan, Alex dan Glend menjadi penonton sambil berjongkok berpangku tangan. Tidak ada niat untuk melerai karena mereka tidak mengetahui apa duduk perkara pertengkaran itu terjadi, dan memang mereka tidak berniat mencari tahu karena kepala mereka sudah cukup pusing dan hampir meledak.


Tiiittt.... Tiiitttt...


Suara klakson mobil membuat keempat pria itu menoleh. Bill dan Justin menyudahi perkelahian mereka. Wajah kedua pria itu sudah babak belur. Tapi keduanya seakan tidak merasakan sakit sama sekali.


"Hai, Guys, butuh tumpangan?" Ella memamerkan senyum terbaiknya.


"Aku bertanya-tanya, kenapa kau selalu muncul di saat kami tidak tahu di mana kami memarkirkan mobil." Alex berdiri dan langsung berjalan menuju mobil wanita itu. Ia memilih duduk di samping Ella karena tidak ingin berdesak-desakkan di bangku belakang.


"Sepertinya dia menyukaiku." Justin dengan pedenya menyatakan hal itu. Bill terkekeh sumbang.


"Aku tidak tahu jika mabuk berat bisa membuat seseorang bermimpi. Ayo, kita masuk." Bill merangkul pundak Justin, keduanya masuk ke dalam mobil sambil berpelukan. Glend pun ikut menyusul.


"Kau dari mana?" Glend bertanya begitu mobil melaju dengan kecepatan rata-rata.


"Salah satu temanku mengadakan pesta." Ella menatap pria itu dari kaca. "Beruntung sekali aku tidak mabuk. Jika tidak, kita berlima akan berakhir di kantor polisi."


"Apa kau punya kekasih, Ella?" Alex menyela pembicaraan mereka.


Ella tertawa, memilih tidak untuk menjawab.


"Kenapa kau bertanya, Alex. Kau menyukainya?" Justin menyeletuk.


Orang mabuk memang cenderung jujur dengan apa yang dikatakannya. Hanya saja apa yang dikatakan Alex tersebut berhasil membuat suasana mobil itu mendadak hening. Entah Alex sengaja menyindir atau berpura-pura bodoh. Kenyataan bahwa Ella menyukai Glend sudah sangat jelas. Pengobatan Glend sudah selesai, tetapi Ella selalu berusaha untuk menemui pria itu dengan berbagai cara. Hampir dua tahun penantian wanita itu dan tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Sudah sampai!!" Ella berseru dangan wajah riang setelah kesunyian menemani perjalanan mereka.


"Terima kasih, Ella. Sayang sekali tidak ada kamar kosong untukmu menginap. Katakan pada Glend agar membeli sebuah rumah." Justin turun dan melambaikan tangan pada Ella disusul Bill dan Alex.


"Hati-hati di jalan," Glend mengusap lengan wanita itu lalu berjalan meninggalkan Ella begitu saja.


"Bryson... Oh, Bryson, kami datang." Glend berseru memanggil ayahnya, seolah ayahnya adalah teman seperkumpulannya.


Bryson keluar dari kamar dan menemukan keempat pria itu dalam keadaan berantakan.


"Bryson, apakah hatimu belum terketuk?" Glend tersenyum getir.


"Ya, Bryson, sampai kapan kau menyembunyikan Bella kami?" Justin ikut berlaku kurang ajar.


"Bry, putramu mungkin bisa mengalahkan rubah sembilan ekor yang memiliki nyawa sebanyak ekor yang ia miliki, tapi kami tidak sehebat itu, Kawan. Setiap putramu berniat untuk meregang nyawa, di saat itu pula kami harus mengorbankan nyawa demi menyelamatkannya. Aku mulai membencimu, Bry, begitu pun dengan putramu. Kalian berdua menyulitkan hidup aku. Aku ingin hidup dengan tenang, katakan di mana Bella sebelum aku benar-benar marah!" Bill meracau sambil berkacak pinggang. Jika sudah mabuk, pria itu tidak ada obatnya.


"Kau bisa mengundurkan diri dan nikmati hidupmu, Dude." Bryson menimpali dengan tenang.


"Masalahnya aku tidak bisa menikmati hidup jika sahabatku menderita," Bill menghampiri Glend dan keduanya berpelukan saling menguatkan.


"Thanks, Dude," ucap pria itu dengan haru. "Aku selalu merepotkan kalian semua," Imbuhnya lagi dengan manik berkaca-kaca.


Alex ikut menghampiri dan memeluk keduanya, "Tidak bisakah kau melupakannya, Buddy?"


Glend menggeleng pasrah, "Semakin aku mencoba, semakin aku mengingatnya."


"Aku akan memarahi Bella jika kita menemukannya," Justin ikut menimpali. Keempat pria itu berpelukan layaknya teletubies.


"Aku merindukannya, sungguh sangat merindukannya."


"Kami tahu, Dude. Kami mengetahuinya sebesar apa rindu yang kau rasakan hingga bukan hanya kau yang tersiksa, tetapi kami juga." ucapan Bill dibenarkan oleh yang lainnya.


Bryson mengusap air mata di sudut matanya. "Bella sudah bahagia, Son. Ada pria hebat di sisinya yang membantunya bangkit dari keterpurukan." Gumam pria setengah baya itu tanpa didengar oleh keempatnya.