La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Beritahu Caranya Bernapas



Justin mendesah, itulah yang memang ingin ia tanyakan. Sudah tiga hari berlalu, Bella seolah menghilang di telan bumi. Bill juga sudah melakukan pemeriksaan ke rumah orang tua Bella, Harry Kingston. Hasilnya nihil. Bella tidak ada di sana.


"Maaf Yang Mulia, apakah kau sengaja menyembunyikan keberadaan menantumu?"


Bryson menukik alisnya atas tudingan kurang ajar yang dilayangkan Justin kepadanya secara terbuka. "Menantu? Mantan menantu jika kau lupa, anak muda. Untuk apa aku menyembunyikan Bella? Apa kau ingin mendapat hukuman karena sudah berani melayangkan tuduhan tidak berdasar kepada seorang pemimpin?"


"Kau sudah menurunkan tahtamu Yang Mulia. Kau tidak bisa memberikan hukuman lagi kepadaku. Silakan masuk," Justin membuka pintu untuk Bryson.


Bryson memasuki kamar putranya. Ia melihat Glend yang sedang duduk menghadap ke arah jendela.


Bryson lagi dan lagi menarik napas sebelum masuk melintasi ruangan mendekati putranya. "Bagaimana kondisimu, Son?" Bryson menyentuh pundak putranya, memijatnya dengan lembut.


Glend memiringkan kepala ke samping. Tatapannya masih kosong pun dengan wajahnya masih pucat.


"Jadi dia sedang hamil?"


Bryson mengangguk membenarkan. "Terakhir kali aku bertemu dengannya, Bella sedang mengalami pendarahan. Apakah bayinya selamat atau tidak, sungguh aku tidak mengetahuinya, Son."


Ayah dan anak itu kompak menarik napas panjang. Akhir-akhir ini menarik napas panjang menjadi trend di kalangan istana.


"Saat aku melihatmu memijat tengkuknya, apakah ia sedang pusing dan mual?"


"Ya, ngidam yang dialami Bella sedikit menyulitkannya."


Glend mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Yang pasti, Glend mengalami kesulitan dalam bernapas meski ia sudah membuka mulutnya lebar-lebar.


"Jadi ia sakit saat kau melihatnya terakhir kali?"


"Kau mencintai ibuku?"


"Tentu saja. Sangat mencintai ibumu. Dia adalah cinta pertamaku." Rasa sesak yang dirasakan oleh Glend menular kepada Bryson. Kini pria setengah baya itu merasakan hal yang serupa. Hatinya sakit, dadanya sesak luar biasa.


"Bagaimana jika kita pergi berkunjung ke makam ibumu begitu kau pulih."


Glend menganggukkan kepala.


"Aku sangat bangga padamu, Glend. Kau putra kebanggaanku. Disaat semua berambisi dengan tahta, kau hanya dipusingkan oleh perhatian yang tidak kunjung kuberikan padamu. Tapi percayalah, Son. Sama seperti dirimu, aku juga tersiksa. Aku begitu mencintaimu tapi aku tidak bisa merengkuhmu hanya karena ingin melindungimu dari kekejaman istana ini. Aku tidak ingin hatimu yang bersih dikotori oleh ambisi yang justru membawa petaka. Maafkan aku jika bagimu selama ini aku tidak bisa menjadi ayah yang adil. Tapi jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku selalu bangga atas semua prestasi yang kau raih. Sepanjang malam aku berbicara kepada ibumu tentang dirimu hingga ia sendiri lelah mendengarnya dan terlelap. Kau kebanggaanku. Kupikir yang kulakukan adalah yang terbaik, ternyata aku salah. Sekarang, kau juga hancur," Bryson menahan air matanya agar tidak meluruh. "Istirahatlah."


Bryson menurunkan tangan dari pundak putranya. Ia segera melangkah, berniat meninggalkan kamar putranya. Langkahnya terhenti tatkala mendengar Glend memanggilnya dengan sebutan yang selama ini ingin ia dengar kembali.


"Dad..."


Ah! Bryson memejamkan mata, merasakan kelegaan luar biasa. Air matanya pun jatuh. Betapa ia sangat merindukan panggilan ini.


Bryson berbalik, dan Glend langsung menyerbu ke dalam pelukannya.


"Beritahu aku caranya bernapas, ini sesak sekali, Dad. Kumohon, tolong aku, Dad."


Glend dihantam rasa bersalah secara bertubi-tubi. Ia merasa berdosa selama ini, hidupnya dipenuhi dendam dan kebencian yang ditujukan kepada ayahnya. Ia mengagungkan orang-orang yang ternyata adalah orang-orang munafik yang tidak menginginkan dirinya sama sekali.


Glend mendengar hinaan yang ia lontarkan kepada Bella menggema di setiap sudut ruangan. Ia belum mengingat tentang Bella, tentang kenangan mereka tetapi ia merasakan sakit yang luar biasa. Seperti ada batu besar yang menghantam ulu hatinya. Kepalanya berdenyut nyeri, memaksa diri untuk mengingat apa artinya Bella dalam hidupnya.


"Dad, tolong beritahu aku bagaimana caranya bernapas? Hidungku tidak berfungsi, mulutku juga demikian. Aku tenggelam dalam kubangan rasa bersalah yang menyesakkan. Dad, ini benar-benar sakit." Glend pun akhirnya kembali pingsan.