La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Rasa Aman



Sudah hampir satu jam Bella mengurung diri di kamar mandi, di bawah pancuran air memeluk lututnya dengan erat. Tubuhnya menggigil, bukan karena dinginnya air melainkan karena goncangan atas apa yang ia alami baru saja. Lizzie benar-benar keterlaluan, dan Matteo juga sangat biadab.


Bella tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nasibnya andai Andreas tidak datang tepat waktu. Julian tidak mampu berkutik saat Andreas datang dan mengambil alih Bella dari gendongan pria itu.


Dengan penuh hati-hati, Andreas mendudukkan Bella di atas sofa. Membuka jasnya dan memasangkannya di tubuh gadis itu kemudian berbalik dan langsung memberikan pukulan telak di wajah Julian. Hanya satu pukulan, tapi berhasil membuat Julian tumbang. Tidak puas dengan hanya memberikan satu pukulan, Andreas kemudian memelintir tangan kanan pria itu hingga terdengar bunyi 'krek'. Andreas mungkin sengaja mematahkannya.


Teriakan Julian yang mengadu kesakitan membuat Matteo keluar dari kamar mandi. Ia terkejut dengan kedatangan orang asing di sana, di kamarnya.


Matteo mengambil vas bunga yang ada di dekat jangkauannya, berniat menyerang pria itu.


Andreas menyadari kedatangan Matteo. Menoleh ke belakang dan dengan gerakan gesit ia pun menghindar dari serangan Matteo. Vas itu mendarat di punggung Julian.


Adu jotos pun terjadi. Dengan sengaja Andreas menyerang wajah Matteo agar tidak bisa wara wiri di televisi. Ia tahu profesi pria pengecut itu.


Andreas berhasil menumbangkan keduanya. Ia sendiri mendapat luka di kepala. Si Matteo sialan itu kembali menyerangnya dengan tongkat bisbol. Akibat serangan itu Andreas mendapatkan satu benjolan di kepala. Benjolan yang cukup besar, menyaingi besarnya utang negara.


Ia akan membuat perhitungan dengan kedua pria itu, nanti. Sekarang ia harus membawa Bella keluar dari sini. Menenangkan gadis itu.


Sepanjang perjalan, mereka hanya diam. Saat Andreas menghentikan mobil di parkiran apartemen rumahnya, Bella juga hanya diam, tidak melayangkan protes sama sekali.


Tok.Tok.


"Bella, ini sudah satu jam sejak kau masuk ke dalam. Kau baik-baik saja... Sial! Tidak mungkin dia baik-baik saja setelah apa yang dialaminya," menggeram dan bermonolog. Jika tidak memikirkan mental yang akan dialami Bella, Andreas mungkin masih bertahan di hotel sampai ia puas menghajar kedua pria itu, membuat keduanya tidak bisa berjalan.


"Aku akan masuk jika kau tidak menjawab. Kuhitung sampai tiga. Bella? Kau mendengarku? Aku akan mulai menghitung. Satu... Aku akan masuk kalau begitu," Andreas mendorong pintu bahkan sebelum ia menyelesaikan hitungannya.


Matanya langsung menangkap sosok Bella yang masih shock. Didekatinya Bella dan ikut duduk di bawah guyuran shower. Untuk sesaat, ia hanya diam, membiarkan Bella merasakan kehadirannya. Lima menit berlalu, ia memberanikan diri untuk mengulurkan tangan menyentuh tangan Bella, melepaskan pelukan gadis itu di lututnya.


Bella tersentak atas sentuhan Andreas. Tubuhnya bereaksi berlebihan dan itu sangat wajar setelah apa yang ia alami tadi.


"Ini aku. Aku tidak akan melukaimu." Ucap Andreas dengan nada lambat dan penuh hati-hati.


Bella mengangkat kepala dan tatapan mereka beradu. Sama sepertinya, Andreas juga kini basah kuyup.


"Kau aman sekarang," diusapnya wajah Bella, menyingkirkan helaian rambut di pipi gadis itu.


"Te-terima kasih."


Andreas tersenyum lalu membawa Bella ke dalam pelukannya. "Maafkan aku," lirih pria itu. "Maaf karena aku datang terlambat."


Bella menggelengkan kepala di dada Andreas. Itu bukan kesalahan Andreas. Ia justru sangat berterima kasih kepada pria itu. Pria yang tidak ia duga kedatangannya sama sekali. Bagaimana Andreas tahu di mana posisinya, sungguh ia sangat bersyukur. Tuhan masih melindunginya melalui Andreas.


"Apa mereka akan me-menodaiku jika kau tidak datang?"


"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."


"Mereka me-mengatakan akan bergilir," Bella membenamkan wajahnya dan kembali menumpahkan tangisannya.


"Tidak, Bella. Hal itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan ada orang yang berani menyentuhmu lagi."


"Aku sangat takut. Mereka semua jahat. Aku memanggil ayahku, berharap teriakanku didengar olehnya. Aku juga memanggil Glend, tapi bagaimana ia bisa datang, untuk sekedar berdiri ia butuh bantuan orang lain. Aku memohon kepada Tuhan, semoga seseorang menyelamatkanku. Dan kau lah orangnya. Terima kasih." Bella semakin merapatkan dirinya ke dalam pelukan Andreas, bahkan tanpa sadar ia mengulurkan tangan ke balik punggung pria itu. Ya, Bella membalas pelukan Andreas.


"Apakah mereka sempat melukaimu? Selain luka dipergelangan tanganmu akibat ikatan yang terlalu kencang."


Bella menggelengkan kepala, "Aku yang melukainya, melukai Matteo. Menyerangnya dengan menggunakan kepalaku. Aku menyundulnya, hidungnya sampai mengeluarkan darah."


Andreas menghentikan langkah, terkejut dengan penuturan Bella. "Wow, gadisku ternyata sangat berani. Apa kepalamu baik-baik saja?" Andreas memperhatikan dengan seksama jidat Bella sembari melanjutkan langkah.


Diletakkannya Bella di atas ranjang kemudian ia berjalan ke arah lemari. Mengambil salah satu koleksi kemejanya yang berwarna gelap agar tubuh Bella yang tidak mengenakan dalaman tidak menerawang. Ia lupa melakukan panggilan memberi perintah kepada asistennya untuk mengantar kebutuhan Bella. Sepertinya mulai sekarang ia harus menyediakan hal itu di rumahnya. Baju dan pakaian dalam untuk Bella.


"Untuk sementara kau kenakan ini." Andreas meletakkan kemeja hitam di sisi Bella. "Aku akan meminta seseorang untuk mengantar pakaianmu. Aku akan keluar sementara kau mengganti bajumu." Andreas berbalik meninggalkan kamar.


Bella menatap kemeja tersebut, tidak ada pilihan, ia harus mengenakannya. Ditatapnya punggung Andreas yang sudah di ambang pintu, hatinya menghangat, ia menemukan rasa aman yang begitu sangat familiar. Rasa aman yang biasa ia rasakan saat bersama ayahnya.


Sementara Andreas segera menuju dapur. Membuat susu cokelat panas untuk Bella. Tidak lupa ia juga membawa beberapa cemilan. Melirik jam tangannya, memperkirakan jika Bella sudah selesai mengganti pakaiannya, ia pun beranjak meninggalkan dapur.


Benar saja, Bella sudah duduk manis di tepi ranjang. Sial! Kemejanya yang kebesaran mendadak menjadi fashion luar biasa saat melekat di tubuh Bella. Hormonnya bereaksi luar biasa.


"Aku akan pergi setelah pakaianku datang." Bella berdiri memamerkan setengah pahanya hingga ujung kakinya yang telanjang.


Bella benar-benar terlihat seperti sosok bidadari yang tersesat.


"Kau tidak perlu buru-buru. Aku sedang cuti, temani aku di sini." Sebisa mungkin Andreas menyembunyikan godaan primitif yang cukup membuat kepalanya diserang rasa pening.


"Ke-kekasihmu bisa saja datang."


"Kekasih?" Andreas meletakkan nampan di atas nakas. Mengambil gelas susu dan memberikannya kepada Bella. Pun Bella menerimanya dan langsung meminumnya satu teguk.


"Wanita pirang tempo hari. Dia sangat cantik dan seksii."


"Oh, Cassandra? Dia bukan kekasihku."


"Kalian berciuman." kalimat itu meluncur begitu saja tanpa sempat ia hentikan. Seruan singkat yang terdengar seperti tudingan.


"Dia yang menyerangku." Andreas mengambil alih gelas dari tangan Bella dan meletakkannya di atas nampan. "Cassandra bukan siapa-siapa. Kau tidak usah cemburu seperti itu."


"Aku tidak...."


"Ya, kau tidak cemburu tapi aku berharap kau cemburu. Sekarang tidurlah," Andreas merebahkan tubuh Bella, memaksa gadis itu berbaring. "Istirahatkan otak dan saraf-sarafmu. Besok kita harus ke dokter."


"Untuk apa?"


"Memeriksa mentalmu dan sekarang pejamkan matamu, Cinderella."


"Di mana sepatuku?"


"Aku sudah mengatakan bahwa aku tanpa sengaja menghilangkan sebelah pasangannya. Aku akan membeli yang lebih mahal."


"Tidak ada yang lebih mahal. Sepatu itu pemberian ayahku."


"Aku akan meminta ayahmu membeli sepatu lain yang lebih mahal kalau begitu. Sekarang pejamkan matamu."