La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Gara-Gara Parfum



"Jadi Felix tidak ada di rumahnya dan hari ini dia juga tidak masuk ke kantor?" Glend sempat merasa bingung, bertanya-tanya kenapa Felix belum muncul juga bahkan setelah dua hari berlalu sejak Gavin berada di rumah sakit. Nomor ponsel pria itu juga tidak dapat dihubungi.


"Apa sesuatu yang buruk juga terjadi padanya?" Glend bergumam pelan, tidak ingin hal itu didengar oleh Bella yang justru menambah beban pikiran wanita itu.


"Sepertinya dia sengaja menghilang mengingat ia masih sempat meninggalkan surat cinta kepada Bella." Bill menyerahkan sepucuk surat yang diberikan pelayan Felix kepada mereka. Glend menautkan kedua alisnya, menerima surat tersebut.


"Jika ini untuk Bella, maka Bella yang harus menerimanya." Glend berjalan mendekati Bella. Memijat lembut bahu wanita itu yang sedang memandangi putra mereka. Bella mendongak, pun Glend tersenyum. "Sebaiknya kau istirahat."


Bella dengan patuh mengangguk. Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju sofa yang memiliki multifungsi. Sofa tersebut bisa dijadikan sebagai tempat tidur yang sangat nyaman dan empuk.


"Kau belum mendapatkan kabar dari Felix?" Glend menyusun letak bantal agar Bella merasa nyaman.


Bella menggeleng.


"Sepertinya Felix ada urusan mendadak, dia meninggalkan secarik kertas untukmu." Glend memberikan kertas yang ia dapatkan dari Bill kepada Bella.


Bella terlihat bingung, meski demikian, ia tetap menerima kertas tersebut dan membuka lipatannya.


Bella, My Dear.


Begitu kau menerima surat ini artinya aku sudah tidak di negara ini lagi. Maafkan aku pergi secara tiba-tiba. Ada langkah yang harus terhenti, mundur, atau bahkan memutar arah meski jalan yang sudah dilalui sudah cukup jauh. Ada harapan yang harus dibunuh paksa meski itu berasal dari doa-doa yang bersumber dari lubuk hati yang paling dalam, doa yang sudah bersemayam sejak lama. Ada perasaan yang harus disudahi meski itu adalah sebuah ketulusan. Kau pasti mengernyit membaca kalimat pujangga ini. Tapi percayalah, Bella. Apa yang kutuliskan di atas adalah gambaran sosok pria yang sangat mencintaimu. Glend Vasquez. Sehari setelah melamarmu, dia datang menemuiku, berlutut dan memohon agar aku tidak melukai atau pun menyakitimu. Dia melepaskanmu untukku. Merelakan anak-anakmu memanggilku dengan sebutan 'Daddy'. Aku tahu saat itu ia pasti sangat hancur. Level tertinggi seseorang dalam mencintai adalah melepas dengan ikhlas seseorang tersebut menjemput kebahagiaannya.


Aku senang kau menerima lamaranku, Bella. Terima kasih. Tapi kau bukan pembohong yang hebat. Parfum yang kau kenakan adalah aroma yang sama persis dengan yang dipakai oleh Glend. Hari pertama aku bertemu dengan Glend, hari itu aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa menghapuskan pria itu dari hatimu. Aku mungkin akan tetap terus berada di sisimu meski kau butuh waktu seumur hidup untuk mencintaiku seandainya Glend tidak muncul kembali.


Bella, aku mencintaimu juga Grace dan Gavin. Aku melihat sosok istriku yang rapuh ada padamu di hari pertama aku melihatmu. Alasan kuat aku mendekatimu hanya karena kau dan anak-anakmu mengingatkanku pada anak dan istriku, hingga akhirnya aku benar-benar jatuh hati padamu. Tapi Glend Vasquez, ia mencintai dirimu karena kau adalah Bella Kingston.


Kutahu kau juga merasakan hal yang sama. Berulang kali aku melihat kau mencuri pandang kepada Glend saat ada di pesta. Wajahmu sangat lucu saat sedang cemburu. Ini mungkin sedikit membuatmu malu, aku melihat kau menciumnya. Dan pria tolol itu mengatakan bahwa dia yang merayumu. Jangan khawatirkan aku, hiduplah dengan bahagia.


Katakan pada pria bodoh itu bahwa aku tidak akan berbaik hati padanya jika kembali berulah dan hilang ingatan.


Aku akan sangat merindukan celotehan Grace dan aku menantikan Gavin menjadi sosok pria yang hebat.


Dari yang mencintaimu, Felix Orlando.


"Apa aku baru saja dicampakkan?" Bella melipat kertas itu kembali.


"Tidak. Kau baru saja dikembalikan kepada pemilik sesungguhnya," Ah! katakanlah Glend brengsek, ia bahagia Felix pergi.


"Ini semua gara-gara parfum sialanmu!"


"Kau selalu tergila-gila dengan aromaku, cara mia."


"Kau sungguh berlutut di hadapannya?"


"Apa pun akan kulakukan demi kebahagiaanmu."