
Matteo Jacquline, aktor yang sedang naik daun tersandung kasus pelecehan seksual. Diduga ia memperkosa penata riasnya. Hal itu terlihat dari rekaman CCTV. Saat ini, Matteo sedang diperiksa.
Bella menggigit bibir menyaksikan berita yang ditayangkan di televisi. Ingatan bagaimana Matteo dan Julian hendak melecehkannya membuat sekujur tubuhnya merinding.
"Kau baik-baik saja?" Glend menggenggam tangan Bella seolah tahu apa yang sedang merasuki wanita itu.
Bella menoleh, menyunggingkan senyum manis. Kepalanya mengangguk, menyatakan bahwa ia baik-baik saja.
"Kapan kita akan pulang?"
"Lusa."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Bagaimana jika kita pergi berkencan?" Glend memandangi Bella yang tidak langsung memberikan jawaban. Air wajah Bella sedikit terkejut mendengar ajakannya.
Pun ia juga sedang menguji Bella. Setelah apa yang mereka lewati tadi malam, apakah Bella masih membuat batasan di dalam hubungan mereka. Masihkah Bella memikirkan pandangan orang tentang mereka.
"Kau yakin mengajakku berkencan?" raut wajah Bella masih menyisakan kebimbangan.
Glend mengangguk. "Ya, agar kau tidak bosan. Kita bisa berkencan. Di sekitar sini ada kebun margasatwa. Bioparco. Mungkin kau ingin berkenalan dengan buaya atau pun predator lainnya."
"Mengenal satu predator saja sudah cukup bagiku." Bella menimpali.
"Ck! Apakah aku predator yang kau maksud?"
"Kau pintar sekali." Bella pun berdiri dari kursinya. Di dorongnya kursi roda menuju ke lantai atas, tempat kamar mereka berada.
"Kita mau ke mana?"
"Mengganti pakaian. Kita mau berkencan, bukan?"
"Kau bersedia?" Glend tersenyum. Ia kira Bella akan menolak ide tersebut.
"Kau mengajakku, tidak ada alasan bagiku untuk menolakmu."
"Terima kasih." Glend mengecup punggung tangan Bella. Seperti biasa Bella selalu tidak bisa ditebak. Sesaat wanita itu menyatakan secara terang-terangan tentang dirinya yang malu jika sampai publik melihat mereka jalan berdua. Pernyataannya itu tidak sesuai dengan apa yang Bella lakukan sekarang.
"Aku akan mengganti pakaianku. Kau tidak perlu mengganti pakaianmu. Tidak akan ada berubah. Sepertinya mulai sekarang kau harus mulai mengoleksi pakaian dengan warna lain."
"Lakukan sesuai inginmu." Glend membenarkan. Koleksi yang ada di dalam lemarinya memang didominasi warna hitam Bukan berarti ia tidak memiliki koleksi lainnya. Hanya saja dalam wujudnya yang sekarang ia memang sengaja mengoleksi satu warna. Hitam.
"Tunggu di sini. Aku hanya sebentar." Bella masuk ke dalam ruang ganti. Dibukanya laci-laci lemari. Melihat kira-kira benda apa yang bisa digunakan untuk menutupi wajah Glend.
"Akh, aku menemukannya." Bella megambil masker dan topi. Masing-masing satu untuk mereka. Bella pun segera mengganti pakaiannya, ditanggalkannya kemeja Glend dari tubuhnya. Dikenakannya pakaiannya saat datang kemari. Jeans dan thsirt. Masker dan topi pun ia kenakan, lalu ia keluar.
Melihat penampilan Bella, Glend sedikit kecewa. Bella menyembunyikan identitasnya. Artinya Bella memang malu berjalan beriringan dengannya.
"Aku sudah siap. Kau juga harus mengenakan ini." Dipasangnya topi dan masker di wajah Glend. "Sempurna." Bella bertepuk tangan melihat hasil karyanya. Wajah Glend yang cacat tidak terlihat sama sekali. Hanya manik Glend yang memabukkan yang terlihat. "Kau terlihat menawan saat mengenakan masker. Apa aku sudan pernah mengatakan jika manik matamu sangat indah, Glend."
"Hm, tadi malam kau mengatakannya," sahut Glend dengan tidak semangat.
"Siapa yang akan menyetir?" Bisa bahaya kalau Glend tahu jika sesungguhnya ia tidak lihai dalam mengendarai mobil. Ini baru pertama kali ia menginjakkan kaki di Sisilia, belum mengerti jalan-jalan yang akan dilalui.
"Kita memiliki sopir." Glend mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Aku tidak melihat ada orang lain di sini."
"Sebentar lagi Bill akan datang. Dia yang akan menjadi sopir kita."
"Bill, di sini?"
"Hm, dia menginap di hotel."
____
"Glend, kau lihat harimau itu? Dia terlihat sepertimu. Mengerikan, tangguh, dan membuat penasaran."
Kebun binatang Romawi ini adalah salah satu yang paling banyak dikunjungi di Italia. Harimau, gajah, kera, jerapah dan masih banyak lagi satwa lainnya.
Seperti biasanya, hari ini pengunjung juga sangat ramai karena kebetulan juga sedang akhir pekan. Bella bahkan harus hati-hari mendorong kursi roda milik suaminya agar tidak menabrak atau pun ditabrak pengunjung lain. Sementara Bill, setelah menurunkan mereka di lokasi langsung pergi karena ada urusan yang harus pria itu selesaikan.
"Penasaran? Kau penasaran denganku, Bella?"
"Ya, aku penasaran seperti apa wajahmu sebelum kau mendapatkan luka mengerikan itu."
"Tampan, mengagumkan, hingga banyak wanita yang datang mengemis kepadaku."
Plak!
Bella memukul pundak suaminya. "Sudah tidak ada gunanya menyombongkan diri disaat yang tersisa adalah wajah yang menyedihkan."
"Kau bertanya dan aku menjawab sesuai fakta."
"Apakah menurutmu luka di wajahmu itu merupakan sumpah dari para wanita yang kau sakiti? Mungkin semacam karma. Karma buruk."
Glend merenungi apa yang dikatakan Bella. Benarkah demikian? Benarkah ia termakan sumpah? Apakah ucapan buruk wanita itu merupakan sumpah yang ditujukan kepadanya. Tapi kenapa ia harus mendapatkan sumpah buruk disaat semua yang terjadi bukanlah kesalahannya sepenuhnya.
"Mungkin," lirihnya. Kepalanya tertunduk, emosi mulai berkecamuk.
"Astaga, kau serius sekali menanggapi ucapanku. Aku hanya bergurau. Apa leluconku keterlaluan?"
Glend mengangkat kepala kemudian menggeleng. "Jika aku harimau, kira-kira hewan apa yang menggambarkan dirimu, Bella?"
"Aku? Mungkin lumba-lumba."
"Kenapa?"
"Menggemaskan dan mudah untuk disukai."
Glend tergelak. "Kau wanita yang haus pujian ya?"
"Tidak. Aku tahu dengan jelas kelebihanku. Tidak perlu menunggu pujian dari orang lain. Tapi jika kau ingin memujiku tidak usah sungkan-sungkan. Aku tidak akan menolaknya."
Glend semakin tergelak.
"Katakan apa pendapatmu tentang Hyena tutul?"
"Bryson Dixton? Siapa itu?" Bella mengernyitkan dahi.
"Spesies hewan yang tidak bisa setia."
"Lalu bagaimana dengan rubah? Rubah merah itu cantik sekali." Tunjuk Bella kepada kumpulan anak rubah yang berada di kandang.
"Rubah licik? Alice Anderson."
Bella semakin mengerutkan dahinya. Dua nama disebut dan disamakan dengan hewan. Apakah dua nama ini berasal dari masa lalunya, pikir Bella.
"Kuda laut?"
"Andreas."
Mendengar nama Andreas sontak saja langkah Bella terhenti. Jantungnya tiba-tiba berdebar tidak karuan.
"A-Andreas?"
"Ya, Andreas Dixton. Kuda laut identik dengan kesetiaan, Bella. Apa yang paling kau sukai saat berkunjung ke tempat rekreasi?"
Bella tidak mendengar apa yang sedang dikatakan Glend. Pikirannya melayang, membayangkan bagaimana jika Glend dan Andreas ternyata saling mengenal satu sama lain.
"Bella. Hei, Bella, kau melamun?" Glend menepuk punggung tangan wanita itu.
"Oh, kau menanyakan sesuatu?"
"Kau melamun?"
"Tidak. Aku hanya haus. Tunggulah di sini sebentar. Aku akan membeli minuman."
Glend mengangguk, pun Bella segera pergi.
Tidak jauh dari tempatnya, Glend melihat ada toko yang menjual berbagai boneka hewan. Glend segera menghampiri toko tersebut. Mengambil satu boneka lumba-lumba untuk diberikan kepada Bella.
Setelah membayar, Glend memutar kursi roda untuk kembali ke tempat di mana Bella tadi meninggalkannya. Beberapa gerombolan anak-anak tiba-tiba menyerang toko tersebut. Glend mengalami kesulitan untuk maju hingga akhirnya dia hanya tetap diam di tempat. Anak-anak yang berlari saling mendorong, para orang tua mereka pun menyusul. Aksi dorong masih saja berlanjut hingga seseorang menabrak kepala Glend dengan cukup kuat hingga topi dan maskernya terlepas.
"Aaarrggghhh..." jeritan beberapa anak menggema seketika.
"Mo-monster." Seorang anak yang terjatuh menutup wajahnya dengan takut dan panik.
Glend terkejut. Bukan karena reaksi para anak-anak tersebut, melainkan melihat bocah yang jatuh di dekat kakinya.
"Stacy.." gumamnya.
"Mom... Mom..." teriak bocah itu.
Glend mengangkat kepala. Benar saja, wanita yang ia kenal sebagai ibu dari bocah tersebut menghampiri.
"Oh, Sayang, Mommy di sini. Apa yang terjadi?"
"A-ada monster, Mom?" bocah bernama Stacy itu membenamkan wajah ke dalam pelukan ibunya.
"Monster?" Wanita itu menoleh ke arah Glend. "Akh..." pun wanita itu terkejut dan memalingkan wajah.
Glend masih bergeming di sana.
Wanita itu berdiri, masih memeluk putrinya. Berbalik menatap Glend dengan jijik. "Astaga, apa yang kau lakukan di sini, Tuan? Tidakkah kau sadar wajahmu yang mengerikan itu menakuti pengunjung lain? Atau itukah tujuanmu kemari. Membuat aksi pertunjukkan topeng monyet? Oh Tuhan, siapa yang membiarkan pria lumpuh mengerikan ini masuk ke sini. Tutupi wajahmu yang menjijikkan itu. Kau membuat putriku takut! Jika ingin mengemis, cari tempat yang lebih layak. Menyedihkan!"
Barulah Glend sadar bahwa masker dan topinya sudah lepas.
"Menjijikkan! Pergi dari sini!" Wanita itu melemparkan beberapa lembar uang ke wajah Glend.
"Siapa yang kau katakan menjijikkan, Nyonya bermulut sampah." Bella sudah berdiri di belakang wanita itu.
Wanita itu berbalik, mengerutkan dahi melihat Bella yang juga sudah melepas topi dan maskernya.
"Kau berbicara padaku?" tanya wanita itu.
"Memangnya siapa lagi yang bermulut sampah?" Bella mendekati Glend, memungut masker dan topi suaminya.
"Mulut sampah?" sinis wanita itu, tidak terima dengan apa yang dikatakan Bella.
"Ya. Mulutmu berbau busuk. Sangat menjijikkan. Minta maaf pada suamiku."
Wajah wanita itu shock seketika. Terkejut dengan pernyataan Bella yang mengaku sebagai istri dari pria yang wanita itu cemooh, juga terkejut atas perintah yang menyuruh untuk meminta maaf.
"Suami? Minta maaf?"
"Selain bermulut busuk, kau juga tuli dan krisis akhlak." Sarkas Bella. Dipungutnya kembali uang yang dilemparkan wanita itu. Pun ia merogoh kantong Glend untuk mengambil dompet. Mengeluarkan semua uang cash yang ada di sana dan menarik tangan wanita itu, memberikan uang tersebut. "Untuk membeli catton bud. Simpan sisanya untuk membeli cairan pembersih mulut. Oops, suamiku tidak membutuhkan permintaan maaf dari wanita yang minim akhlak. Permisi." Bella duduk di atas pangkuan Glend membuat wanita itu semakin shock.
"Ayo, Sayang, kita pergi sebelum tercemari bau busuk menjijikkan." Bella melingkarkan tangan di balik leher Glend dengan penuh percaya diri.
"Kau mencuri uangku," bisik Glend di telinganya.
"Aku menyelamatkan muruahmu, Suamiku. Jadi berhenti mempermasalahkan hal itu. Jalankan kursinya." Bella pun menyahut dengan bisikan.
Glend tersenyum, diliriknya Stacy dan ibu bocah itu sebelum menjalankan kursi roda.
"Kau beruntung memiliki istri cantik sepertiku, Glend." Bella berseru setelah mereka menjauh dari wanita itu.
Glend terkekeh, diusapnya kepala Bella dengan lembut. "Terima kasih atas pertolonganmu, istriku yang cantik."
"Kembali kasih."
"Tolong pasang kembali topi dan maskerku."
"Tidak usah."
"Kenapa? Kupikir kau malu berjalan denganku?"
"Untuk apa aku malu? Aku memiliki fisik yang sempurna. Yang kukhawatirkan adalah kau. Aku takut kau merasa rendah diri. Bisa-bisa mentalmu terguncang karena mendapat tatapan menohok para pria yang cemburu padamu karena memiliki istri cantik sepertiku. Dan sekarang, waktunya kau memamerkan istrimu."
"Aku salah faham padamu." Glend bergumam.