La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Berlutut Untuk Kebahagiaan Bella



"Apakah ada hal mendesak sehingga kau menghampiriku pagi-pagi sekali, Mr. Vasquez." Felix mempersilakan Glend untuk duduk.


Glend mengambil posisi yang berseberangan dengan pria itu. Meja menjadi pembatas diantara keduanya.


"Apakah ini masalah mansion yang ingin kau beli?" Felix menoleh ke belakang untuk melihat apakah gerombolannya ikut menyusul. Di matanya, keempat pria itu bagaikan teletubies. Kemana selalu bersama saling bergandeng tangan.


"Ya, salah satunya itu. Aku memutuskan untuk tidak membeli rumah tersebut," ucapnya to the point. Felix menganggukkan kepala, tidak menanyakan alasannya apa.


"Aku mencintai wanita yang ingin kau nikahi. Sama sepertimu, aku juga sangat mencintai Bella." Serunya secara terang-terangan. Seperti dugaannya, Felix tidak menunjukkan raut wajah terkejut sama sekali. Ya, Glend tahu jika Felix pasti sudah menyelidiki dirinya siapa.


"Lalu?" suara Felix tenang, tidak ada emosi tersirat. Glend mengagumi hal itu. Andai Felix melayangkan bogeman kembali di wajahnya, ia tidak akan keberatan sama sekali mengingat kelancangannya yang sudah mencium Bella di hadapan Felix.


Glend beranjak dari kursinya, ia mendekat beberapa langkah lalu secara mengejutkan Glend bersimpuh di hadapan Felix. Felix terhenyak, terkejut. Kenapa pria itu tiba-tiba berlutut.


"Apa ini Mr.Vasquez? Apakah kau berlutut untuk memohon agar aku melepaskan Bella? Apakah kau ingin mengatakan bahwa Bella tidak mencintaiku. Pernikahan kami tidak akan berhasil hanya karena ada satu pihak yang mencinta? Itukah yang ingin kau katakan, Mr.Vasquez."


Glend tersenyum getir. Ia menarik napas panjang sebelum mengangkat kepalanya.


"Pernikahanmu dan Bella akan berhasil, Orlando. Cintamu yang besar sudah cukup untuk melindungi pernikahan itu. Bella akan menghargaimu, merawat dan menjaga perasaanmu. Membalas semua kebaikan yang kau berikan. Aku berdoa dengan tulus agar kau, Bella dan anak-anakku senantiasa berbahagia."


"Aku tidak akan pernah memintamu untuk melepaskan Bella. Aku datang untuk memohon kepadamu, tolong jangan pernah melepaskan genggaman tanganmu darinya. Tetaplah menjadi sandarannya. Untuk apa yang kau lihat tadi malam, kumohon agar melupakan kejadian tersebut. Aku tidak akan meminta maaf untuk itu seolah aku menyesali apa yang sudah kulakukan. Aku tidak menyesal telah menyentuh Bella. Aku brengsek, aku tahu itu. Tapi aku akan menyesal dan terpukul jika di benakmu terbersit secuil kata yang mungkin merendahkannya. Aku berani bersumpah demi nama ibuku, Bella bukan wanita seperti itu. Kami hanya terbawa suasana dan ia menyesalinya. Aku pernah menghancurkan hatinya hingga merendahkannya. Aku tidak ingin kau melakukan kesalahan serupa yang kelak akan kau sesali. Tapi aku yakin jika kau adalah pria yang jauh lebih baik dariku. Terima kasih, Orlando, terima kasih sudah menjadi penyelamat bagi Bella, penerang di saat kegelapan melandanya. Terima kasih sudah menjadi ayah yang baik untuk Grace dan Gavin. Aku malu kepadamu. Sungguh. Kau begitu mencintai mereka, merawat mereka sepenuh hatimu. Teruslah seperti ini, kumohon, tetap lah mencintai mereka. Aku tidak akan membuat putra dan putriku bingung dengan mengaku sebagai ayah biologis mereka. Di mata mereka, kau adalah ayah yang hebat. Aku iri padamu, tetapi rasa terima kasihku lebih besar dibanding kecemburuanku yang tidak berarti."


Felix kehilangan kata-kata. Ia benar-benar tidak tahu harus menanggapi ucapan Glend seperti apa. Di lain sisi, ia bisa merasakan betapa sakitnya menjadi seorang Glend. Memiliki dua anak yang tidak menyadari keberadaannya. Mendengar anak-anaknya memanggil sebutan daddy kepada pria lain.


"Kurasa Bella tidak akan keberatan jika kau mengaku sebagai ayah dari anak-anakmu."


Glend mengangguk, "Tapi aku tidak ingin membuat Grace dan Gavin bingung. Kenapa mereka memiliki dua ayah. Biarkan mereka tahu bahwa ayah dan ibu mereka adalah dua sosok yang hebat. Kau dan Bella. Tapi bolehkah aku menghabiskan satu hari penuh bersama mereka?"


Sebelum aku benar-benar menghilang.


"Berdirilah," pinta Felix.


"Berjanjilah terlebih dahulu bahwa Bella akan selalu kau agungkan dan kau cintai."


"Aku berjanji akan memprioritaskan kebahagian Bella."


"Terima kasih," Ucap Glend dengan haru. Manik pria itu berkaca-kaca, bahagia dan sedih berbaur jadi satu.