La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Aku Sudah Menikah



"Jadi Glend tidak ada di rumah?" Bella menghubungi kediaman Vasquez dan yang menjawab telepon rumah adalah Bill. "Sejak kapan dia pergi?" Bella kembali bertanya. Ia menginap di rumah seorang pria, hal itu membuatnya diserang rasa bersalah. Bukan hanya itu saja, ia bahkan membiarkan pria lain menciumnya. Nalurinya memberontak, menyalahkan tindakan yang ia lakukan. Ini salah. Sangat salah.


"Di hari dia mengantarmu ke kampus," terdengar jawaban Bill dari seberang telepon. "Hari ini adalah hari kematian saudaranya dan besok hari juga merupakan peringatan kematian Nyonya Vasquez, ibu kandungnya. Menurut yang biasa, Glend selalu mengunjungi pemakaman ibu dan saudaranya yang berada di Sisilia. Tapi aku tidak tahu apakah dia akan pergi mengunjunginya kali ini."


Bella terhenyak mengetahui tentang betapa sulitnya hari ini bagi Glend. Harusnya ia berada di sisi pria itu sebagai istri yang mendukung suaminya.


Bella kembali terpukul membayangkan Glend yang menghabiskan hari dengan meratapi kematian dua keluarga yang begitu penting bagi pria itu, sementara ia justru menyerahkan dirinya disentuh oleh pria asing.


Detak jantung Bella berdegup tidak karuan, sampai-sampai ia merasa jika detak jantungnya akan meledakkan gendang telinganya.


Hari ini dan besok merupakan hari penting bagi Glend. Ia harus berada di sisi pria itu. Sisilia, ya, Bella memutuskan untuk menyusul Glend dan meminta dengan apa yang sudah dilakukannya bersama Andreas.


Langkah pertama yang harus ia ambil adalah pulang ke rumah dan bertanya kepada Bill alamat jelasnya. Ia juga membutuhkan paspor dan surat-surat penting lainnya.


"Apa sebelumnya dia pernah menghubungimu, Bill?"


"Ya, setengah jam yang lalu dia baru menghubungiku."


"Dia bertanya tentangku?"


"Kau ingin dia bertanya tentangmu?"


Bella terkejut mendengar pertanyaan Bill. Ya, apakah Bella sungguh ingin Glend bertanya tentang dirinya. Dan kenapa Bill bertanya seperti itu? Sungguh menyebalkan! Sangat tidak sopan sekali! Bella merasa malu sekaligus tertampar. Dirinya juga merasa kerdil. Tanpa sadar ia menginginkan Glend mengingat dan mengkhawatirkan dirinya. Lalu di lain waktu ia justru menikmati perhatian Andreas.


"Lupakan saja pertanyaanku, Bill."


"Aku akan menyampaikan kepadanya bahwa kau merindukannya." Bill kembali menimpali dengan nada enteng.


Oh Tuhan, majikan dan asisten sama-sama menyebalkan. Kapan Bella mengatakan jika ia merindukan Glend!


"Aku tidak mengatakan demikian, Bill!" sergahnya. Itu fitnah yang mendekati kebenaran, eh.


"Tapi itulah yang tersirat saat kau penasaran apakah dia mengingatmu atau tidak, Bella. Dan omong-omong di mana dirimu? Kau di rumah orang tuamu?"


"Aku akan pulang." Bella pun memutuskan sambungan telepon. "Arrgghh." Bella memekik kaget. Andreas tiba-tiba muncul di belakang dan memeluknya. "Ka-kau membuatku terkejut, Andreas!" Bella mencoba melepaskan kedua tangan Andreas dari perutnya tapi tangan Andreas justru semakin melingkar ketat. "Lepaskan aku, Andreas, please." Bella harus mengatakan soal statusnya agar Andreas juga tidak menyentuhnya sembarangan. Apapun keadaannya, seperti apa pun kondisi Glend, faktanya ia dan Glend adalah suami istri. Sah secara hukum. Tidak sepantasnya ia mengotori ikatan suci pernikahan tersebut dengan bermain api. Ini kecurangan, tidak adil buat Glend. Bella benar-benar merasa buruk seketika.


"Tidak akan kulepaskan sebelum kau mengatakan siapa kekasihmu." Andres menunduk memberikan kecupan di pundak Bella. "Bill, apakah pria yang bernama Bill yang baru menghubungimu itu adalah kekasih yang kau maksud, Bella?"


Bella menggeleng, "Lepaskan aku terlebih dahulu. Aku akan menjawab pertanyaanmu."


"Tidak!" Andreas bersikeras. Ia sangat menyukai aroma tubuh Bella yang tidak menyengat tapi cukup menggoda. Lembut dan feminim, sangat berbanding terbalik dengan sikap dasar gadis itu yang sedikit pembangkang.


"Andreas, lepaskan aku. Aku sudah menikah!"


Entah terkejut atau bagaimana, Andreas melepaskan pelukannya. Bella bahkan merasa jika tubuh pria itu menjauh darinya beberapa langkah.


"Aku sudah menikah. Pria yang kuhubungi tadi adalah asistennya. Jadi berhenti bersikap manis kepadaku. Aku harus mengatakan ini agar kau tahu batasanmu."


"Jadi siapa kekasih yang kau maksud? Suamimu?"


"Ya. Suamiku." Memangnya siapa lagi yang bisa ia sebut sebagai kekasih. Ia tidak berpengalaman tentang pria dan ia memang tidak memiliki teman pria. Jika suami bisa disebut sebagai kekasih, artinya Glend adalah kekasih pertamanya.


"Kau mencintainya?"


"Kau tidak berhak mempertanyakan hal itu." Tandas Bella. Pertanyaan Andreas terlalu pribadi dan menurutnya tidak kewajiban baginya untuk menjawab atau pun membahas hal itu. Andreas adalah orang asing. Tidak sepatutnya masalah pernikahan atau pun perasaannya dipertanyakan pria itu. Sangat tidak sopan sekali.


"Tentu saja aku berhak karena aku sepertinya mulai menyukaimu."


Bella terkejut mendengar pernyataan yang diungkapkan secara blakblakan tersebut. Pernyataan yang disampaikan dengan sangat ringan tapi dengan ekspresi yang sangat serius.


"Ka-kau menyukaiku?"


"Sepertinya." sahut Andreas.


"Aku tidak berhak melarangmu untuk menyukaiku. Tapi saranku, sebaiknya kau hapus dan hilangkan perasaanmu itu. Karena seperti yang kukatakan tadi bahwa aku sudah menikah."


"Untuk itulah aku bertanya, apa kau mencintai suamimu?"


"Itu bukan urusanmu."


"Akan menjadi urusanku karena kau sepertinya sangat menikmati ciuman yang kuberikan. Kau tidak akan merespon jika suamimu cukup berarti untukmu."


"Aku tidak merespon!" Bella menolak pernyataan pria itu. Dan kenyataannya memang begitu. Ia tidak memberikan respon sama sekali. Ia hanya diam dan sikap diamnya itu dipicu oleh keterkejutannya yang luar biasa. Serangan Andreas yang tiba-tiba membuat tubuhnya mendadak lumpuh.


"Jika pernikahanmu cukup berarti harusnya kau menamparku atau mendorongku. Itulah reaksi alami yang sewajarnya kau lakukan, Bella."


"Dan kesalahan terbesarku adalah tidak melakukan hal itu. Kau benar, aku istri yang curang. Tidak mempunyai harga diri. Tanpa harus kau perjelas aku sudah merasa hina. Aku tidak mencintai suamiku dan aku yakin hal itu tidak akan pernah terjadi. Pernikahan kami memang sedikit tidak normal, kuakui hal itu. Tapi dia suami yang baik dan penuh perhatian, jadi tolong, mulai sekarang jangan menggangguku lagi." Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur. Ia marah dan malu. Apa pun yang terjadi, ia harus mengaku kepada Glend.


"Jadi kau merasa bersalah padanya?"


"Tentu saja!"


"Dia bahkan tidak mencarimu, Bella."


"Itu karena dia sedang ada urusan."


"Seorang suami yang baik, sesibuk apa pun dirinya, harusnya ia meluangkan waktu sedikit untuk bertukar kabar dengan wanita yang ia cintai. Jika kau tidak mencintainya dan dia juga demikian, lalu mau dibawa kemana pernikahan kalian, Bella?" Andreas mendekat, mengulurkan tangan menyentuh pipi Bella dengan lembut.


Bella menggeleng seraya melepaskan tangan Andreas dari pipinya. "Aku tidak tahu mau dibawa kemana hubungan kami, tapi tolong jangan menambah kebingunganku dengan sikapmu yang manis, Andreas. Aku tidak ingin terlihat seperti wanita murahan. Aku harus menyadari statusku. Tolong jangan menarik perhatianku dengan pesona yang kau miliki. Aku tidak ingin tersesat."