
Bella menelan salivanya yang terasa alot. Kenapa mendadak terasa menyakitkan saat pria itu bersikap acuh tidak acuh kepadanya. Rasanya seperti dicubit lalu diremass paksa.
"Jika pada akhirnya ingatanmu tidak kembali, kau juga tidak penasaran, menurutmu apa lagi yang bisa kulakukan selain menyerah." Bella menerbitkan senyum tipis di kedua sudut bibirnya. Rasa nyeri itu kembali menyerang, tapi ia harus tegas, baik kepada dirinya juga kepada Glend dan hubungan mereka. "Kebersamaan kita memang sangat berkesan, tapi tidak lantas hal itu membuat diriku terlihat bodoh. Sebagai istrimu, aku akan berjuang memulihkan ingatanmu, tapi semua ada batasnya, bukan? Selagi aku diperlakukan layak, aku akan bertahan. Tapi jika sudah tidak ada lagi penghargaan, kurasa di situ saatnya aku harus mundur. Bagiku, kau ibarat buku kosong, butuh usaha keras untuk mengisi setiap lembar demi lembar. Sedangkan di sini, ada Alice. Ada cerita antara kau dengannya. Banyak kenangan yang kalian lalui. Ini sangat menyulitkan usahaku sebenarnya, Glend. Jadi disaat kau jenuh denganku, tolong katakan saja, jangan biarkan aku terluka dengan kecurangan yang mungkin akan terjadi antara kau dan Alice. Ingat, aku adalah istrimu, tapi kutegaskan sekali lagi, aku tidak akan mengekang atau pun menahanmu. Kau bebas, perasaanmu milikmu. Aku percaya padamu, dan semakin yakin setelah kau mengatakan dengan tegas bahwa kau tidak sama dengan ayahmu."
"Kau terlihat pasrah tapi di balik kepasrahanmu itu kau juga berharap serta memberikan tuntutan kepadaku, tepatnya seperti apa maumu, Bella?"
"Inginku? Tidak ada yang terluka, baik aku atau pun kau."
"Kau mencintaiku?" Glend kembali melontarkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh Bella.
"Kurasa belum..." jawabnya meragu.
"Bagus. Jangan jatuh cinta kalau begitu. Dengan tidak jatuh cinta artinya tidak akan ada luka. Masalah selesai. Kurasa sudah saatnya kita turun ke bawah untuk makan malam."
Bella menghela napas berat. Yang dikatakan Glend benar adanya. Tidak akan ada luka jika tidak ada cinta. Bella harus membentengi dirinya kalau begitu.
"Pria buruk rupa lebih menarik. Pria murahan tidak akan membuatku goyah." Bella bermonolog lirih.
"Kau mengatakan sesuatu?"
Bella menggeleng, "Kau bisa berjalan?"
"Ya, walau tertatih. Ayo."
____
Suasana meja makan hening tidak ada suara. Semuanya duduk tenang menunggu dilayani. Bella mengira Glend akan melayaninya seperti biasa. Ia melupakan lagi jika sekarang sudah berbeda.
"Hai, Alex," Bella menyapa begitu Alex menyajikan makanan ke dalam piringnya. Alex hanya menganggukkan kepala sebagai respon.
"Terima kasih," sahut Bella singkat. Diliriknya pria yang ada di sebelahnya, Glend terlihat santai meski ekspresinya tidak terbaca.
Begitu Alex selesai mengisi piringnya, Bella menyendokkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
"Maaf, Bella, kita akan mulai makan jika Queen Hellga sudah mulai menyendokkan makanan ke dalam mulut."
Astaga, apa-apaan ini? Glend sialan, kenapa ia tidak mengatakan jika begitu banyak aturan di sini.
"Bella akan belajar ke depannya, bukan begitu, Nak?" Queen Hellga bertanya lembut.
"Tentu saja, Granny."
Saat semua mulai menikmati makanan, Bella hanya bengong memandangi makanan yang ada di piringnya. Seleranya mendadak hilang. Perbincangan terakhirnya dengan Glend cukup mengusik pikirannya. Ia tahu ini akan sangat melelahkan. Apakah sebaiknya ia mundur.
"Apa makanannya tidak enak, Bella?" suara King Bryson membuatnya tersentak. Semua menoleh ke arahnya. Ia berbuat kesalahan lagi, ia menjadi salah tingkah.
"Tentu saja enak, ayah mertua." Bella mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Baru satu suapan, semuanya sudah meletakkan garpu dan pisau mereka secara serentak. Bella lagi dan lagi dibuat bingung.
Kompak sekali mereka.
Sisa makanannya masih banyak dan ia belum merasa kenyang sama sekali. Pun Bella memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya.
"Etika yang harus kau perhatikan kembali, begitu Ibu suri menyendokkan suapan terakhir. Kau harus berhenti, Bella."
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi," Bella mendelik kesal.