La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Situasi Rumit



"Jadi ini sungguh dirimu, Glend?" Perempuan itu tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Antara jijik dan tidak percaya, sulit bagi wanita itu untuk memutuskan reaksinya yang paling tepat untuk situasi ini.


"Oh Tuhan, lelucon macam apa ini, Glend? Kau bertingkah..."


"Bukankah ini memang inginmu?!" Glend menyela ucapan Alice dengan segera. Ia tidak ingin wanita itu membongkar rahasianya di depan Bella. Jika pun Bella harus mengetahui semua kebohongannya, biarkan Glend sendiri yang mengatakannya langsung. "Bukankah ini inginmu, Alice? Menginginkan kelumpuhan atas diriku. Kau mengatakan aku menjijikkan, dan sekarang kau memang merasa jijik, bukan? Lalu apa yang kau sebut dengan lelucon?"


Mulut wanita itu tertutup terbuka. Jelas sekali jika Alice tidak tahu harus mengatakan apa. Dipandangnya Glend lalu beralih ke Bella kemudian terakhir ke Bill yang berdiri di sampingnya.


"Apa yang terjadi dengannya?" wanita itu memutuskan untuk meminta penjelasan pada Bill yang wajahnya masih merona karena menyaksikan adegan live secara gratis


"Billy Perker!" Sentak Alice yang berhasil mengembalikan kesadaran pria itu.


"Hah?"


"Aku sedang bertanya kepadamu, lelucon apa yang sedang dimainkan sahabatmu ini?"


"Lelucon? Tidak ada lelucon, Mrs. Dixton," sahut Bill yang sudah mampu mengendalikan diri dan terlihat tenang seperti biasa.


Wanita itu tampak menggeram tidak puas mendengar jawaban yang diberikan oleh Bill. Dialihkannya kembali tatapannya kepada Glend. Netra keduanya saling mengunci, sementara Bella hanya diam mengawasi, mencoba menebak dan membuat kesimpulan dari apa yang ia lihat.


Jika sekarang wanita itu tahu yang di hadapannya adalah Glend, kenapa waktu di taman margasatwa wanita itu seolah tidak mengenali Glend sama sekali. Pun Bella masih ingat seperti apa reaksi Glend saat memandang wanita itu bersama bocah kecil itu. Oke, mimiknya masih seperti biasa datar tidak terbaca, tapi Bella melihat jelas sorot mata Glend pada saat itu. Tersentak, terkejut dan terkesiap. Awalnya Bella mengira jika Glend shock menerima penghinaan yang dilontarkan kepada pria itu. Sekarang Bella melihat dari sisi yang berbeda. Keterkejutan yang ditunjukkan Glend beberapa jam lalu bukan karena amukan wanita itu melainkan karena kehadiran wanita itu dan putrinya.


Alice? Bella juga masih mengingat dengan jelas jika Glend mengumpamakan Alice sebagai seekor rubah licik. Dugaannya adalah bahwa Alice adalah wanita masa lalu suaminya. Hanya saja yang membuatnya terusik, kenapa Alice mengatakan ini rumah suaminya. Mungkin kah Bella dijadikan istri kedua?


"Kau tahu Glend, kau tampak menggelikan juga menyedihkan."


Glend tidak menggubris namun tidak melepaskan netranya yang mengintai pergerakan netra wanita yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Granny selalu mengkhawatirkanmu dan memaksa ingin mengunjungimu, memastikan kesehatanmu dan kau selalu menolak. Semua mengira bahwa kau memang masih membutuhkan perawatan, tapi ternyata kau hanya sedang memainkan peran menggelikan. Ini menjijikkan, Glend. Apa yang kau dapatkan dengan berlakon seperti ini? Ini bukan negeri dongeng, di mana trik semacam ini bisa kau gunakan untuk menemukan cinta sejatimu." Allice tersenyum sumbang, jelas sekali jika i


wanita itu sedang mengejek pria yang ada di hadapannya.


"Jika kau sudah selesai berbicara, keluarlah!"


Alice mengalihkan tatapannya dari Glend menuju ke Bella. Disorotnya wanita itu dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Kurasa wanita seperti ini bukanlah tipemu." Alice mengembalikan pandangannya kepada Glend yang ternyata masih tetap mengawasinya.


"Aku tidak tahu jika sekarang kau berprofesi menjadi seorang pengamat," sarkas Glend menimpali pernyataan Alice.


"Aku mengenalmu, Glend."


Glend menarik sudut bibirnya sedikit. Entah apa arti dari senyuman itu. Bella sungguh bertanya-tanya. Dan semenjak kehadiran wanita itu, tidak sedetik pun Glend menoleh ke arahnya. Hal itu sedikit membuat hatinya muram.


Lantas, ia mempertanyakan kegundahan hatinya akan sikap Glend yang enggan menoleh kepadanya. Ada apa? Bukankah harusnya ia senang jika ternyata Glend memiliki seorang wanita yang begitu cantik. Dari yang Bella lihat, Glend dan wanita itu memiliki ikatan yang cukup kuat, kenangan menyakitkan yang jelas terpancar dari masing-masing sorot keduanya. Bukankah kenangan menyakitkan itu tercipta karena banyak momen indah yang dilewati. Itulah yang Bella rasakan saat kehilangan ibunya. Hal paling menyakitkan adalah melupakan saat-saat indah bersama ibunya. Hal indah itu direnggut paksa darinya seiring kepergiaan ibunya. Itukah yang terjadi diantara Glend dan Alice.


Dadanya mendadak sesak membayangkan kebersamaan Glend dan Alice. Apakah Glend juga memperlakukan Alice dengan begitu sangat manis? Apakah Glend menyentuh Alice seperti pria itu menyentuh dirinya. Lembut dan penuh hati-hati?


Tubuhnya mendadak panas dingin. Ketakutan mulai menghinggapi. Ada apa ini? Apakah Bella sungguh takut jika Glend berpaling darinya?


Hei, Glend bahkan tidak mencintaimu, Bella? Lalu bagaimana denganku? Kenapa aku mempertanyakan hal itu? Apakah aku berharap Glend menyukaiku sementara aku sendiri sering mengatakan untuk tidak berharap lebih pada hubungan ini? Sekarang apa yang sebenarnya kutakutkan?


"Tentu saja kau sangat mengenalku, Alice. Sangat mengenalku hingga aku akhirnya seperti ini."


"Apa kau sedang menyalahkanku dengan semua yang terjadi?" protes Alice, tidak terima dengan ucapan Glend yang terkesan menyudutkannya.


"Kau yang menyalahkanku, Alice," nadanya melunak seiring dengan sorot matanya yang lembut mendayu. "Kau yang menyalahkan dan aku membenarkannya. Andreas pergi karena ulahku, karena keegoisanku dan juga karena aku terlalu mencintaimu wanita sepertimu."


Deg!


Bella menoleh cepat ke arah Glend. Tatapan pria itu begitu pasrah, tidak berdaya. Tatapan yang memohon untuk dikasihani.


Bella tertunduk lesu. Ada sengatan yang menghujam ulu hatinya. Sayatan tipis namun cukup menyakitkan.


Ada apa denganmu, Bella? Hanya karena kau dan dia menghabiskan satu malam, lalu perasaanmu berubah 180 derajat.


"Aku tidak menyalahkanmu." lirih Alice seraya melangkah lebih dekat ke arah Glend. Glend memundurkan kursi rodanya hingga tanpa sengaja menabrak Bella yang berdiri di sampingnya. Bella terjatuh, barulah Glend menoleh ke arahnya. Seolah terkejut melihat keberadaan Bella.


"Bella..." Glend mengulurkan tangan hendak menyentuh Bella, refleks Bella mundur menghindari sentuhan pria itu.


Terang saja Glend tersentak atas penolakan Bella. Pun ia semakin terkejut setelah melihat tatapan penuh kebencian yang dilayangkan Bella kepadanya.


"Bella."


"Jadi kau mencintai wanita itu?"


"Bella, bukan seperti itu..."


"Aku mendengarnya demikian. Beberapa menit lalu. Kau mengatakan kau mencintainya. Sama seperti yang wanita itu tanyakan, drama apa yang sedang kau mainkan, Glend? Mempermainkan hati?"


"Aku tidak mempermainkan siapa pun."


"Kau mempermainkanku! Mengikatku dalam hubungan pernikahan ini."


"Menikah?" Alice tiba-tiba menyela.


"BELLA!" Hardik Glend dengan gusar. Untuk pertama kalinya Glend meninggikan suara kepada Bella.


"Kau membentakku, Glend. Di mana dari kalimatku yang membuatmu marah? Pernyataanku yang menegaskan bahwa aku adalah istrimu atau hal lainnya?"


"Berhenti mengatakan hal konyol, Bella."


"Hal konyol? Jadi apa yang kukatakan ternyata sangat konyol? Pertanyaan apa hubunganmu dengan wanita itu, apakah juga merupakan pertanyaan konyol bagimu?"


Glend mengembuskan napas kasar. Situasi macam apa ini? Ia tidak menyangkan akan dihadapkan pada situasi seperti ini sebelum ia mempersiapkan diri. Kenapa Alice harus muncul secara tiba-tiba?


"Aku adalah wanita masa lalunya yang ceritanya belum selesai."


Bella menoleh ke arah Alice, menatap wanita itu dengan tidak bersahabat. "Apakah aku sedang bertanya padamu? Aku sedang bertanya padamu, Glend Vasquez, apakah mulutmu juga mendadak bisu?"


"Glend Vasquez? Sejak kapan Glend Dixton berubah menjadi Glend Vasquez?"


"Diamlah, Alice! Dan pergi dari sini!" Glend benar-benar tidak siap mengatasi situasi ini. Kehadiran Alice membuat emosinya tidak stabil yang berujung ia tidak tahu harus bagaimana mengatasi situasi ini. Bayangan tentang pertengkaran itu pun kembali terekam. Bagaimana Andreas yang begitu menyayanginya tiba-tiba melontarkan kalimat menyakitkan kepadanya untuk pertama kalinya.


"Glend Dixton? Mrs. Dixton? Bisa kau jelaskan, Glend? Aku sangat membenci kebohongan dan seharusnya kau sudah mengetahui hal itu mengingat aku selalu berkata jujur kepadamu meski yang kulakukan sedikit memalukan."


"Bukan hanya nama belakangnya yang dia sembunyikan darimu, kau akan terkejut jika mengetahui betapa banyak rahasia yang dia miliki," lagi dan lagi pernyataan Alice memperkeruh suasana.


"Benarkah? Hal itukah yang membuatnya enggan menjawab pertanyaanku?" suara Bella mulai melunak setelah beberapa menit lalu sempat merasa tegang. "Jadi aku harus bertanya apa agar kau bersedia memberikan jawaban, Glend? Pertanyaanku begitu mudah, tapi kau begitu enggan untuk menjawabnya. Baiklah, biar kuganti pertanyaanku. Apakah bocah itu putrimu?"


Glend tersentak kaget. Ini sesuatu yang belum siap untuk ia jelaskan kepada Bella. Dan di awal pernikahan mereka, ia memang tidak berniat untuk jatuh cinta kepada Bella. Glend tidak ingin melibatkan perasaannya sama sekali. Situasi ini akan lebih mudah diatasi andai ia konsisten dengan prinsipnya di awal. Jangan pernah jatuh cinta. Dengan begitu, harusnya ia tidak perlu menjelaskan situasi ini.


"Kita akan membahasnya nanti." Glend mencoba meraih tangan Bella, namun Bella kembali mengelak menghindari sentuhan Glend.


"Kenapa harus nanti disaat kau bisa menjelaskannya sekarang?" Bella bersikeras menuntut jawaban. Selain menikah dengan pria buruk rupa, menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain juga tidak ada dalam daftar cita-citanya.


"Ini sedikit rumit."


"Kata rumit itu hanya tercipta oleh pemikiran yang sempit."


"Ya, kau benar. Dan pikiranmu saat ini sedang sempit, Bella."


"Sempit? Kenapa jadi pikiranku yang sempit?"


"Kau sedang emosi."


"Terang saja aku emosi!" Amuk Bella seketika. "Dan kemarahanku adalah sesuatu yang wajar. Beberapa jam lalu aku membelamu di hadapan wanita itu. Lalu tiba-tiba ia muncul di sini dan kejutan, kalian berdua saling mengenal satu sama lain. Hal ini jelas sangat membingungkan. Tidak ada yang berubah dalam penglihatanku tentang dirimu selama beberapa jam ini, tapi kenapa tadi ia tidak mengenalimu dan sekarang ia mengenalmu dengan sangat jelas? Di mataku, kau masih Glend yang sama. Beberapa jam yang lalu bagi wanita itu kau menjijikkan. Sekarang, dia menyatakan bahwa dia adalah wanita masa lalumu yang ceritanya belum selesai."


"Kendalikan dirimu." Glend berhasil meraih tangan Bella. Digenggamnya dengan erat agar Bella tidak bisa menghempaskannya. "Bill, ambilkan air minum untuk Bella."


"Kau pikir aku butuh air minum? Aku butuh penjelasan. Kenapa kau mendadak bodoh? Pertanyaanku tidak sulit, Vasquez?"


"Jika kau sangat penasaran dengan hal itu, maka aku akan menjawabnya." Alice tiba-tiba menyela perdebatan itu.


"Tutup mulutmu, Alice!"


"Stacy adalah putri kami. Putriku dan Glend. Kuharap kau cukup pintar mengartikan hal itu."


Genggaman di tangan Bella lepas. Glend menundukkan kepala. Bella terkejut, hampir kehilangan keseimbangan.


Glend memiliki putri. Ada anak, artinya ada pernikahan. Benarkah aku menjadi simpanan? pertanyaan itu bagaikan kotoran yang dilemparkan ke wajahnya. Bella mendadak diserang rasa jijik yang luar biasa. Diusapnya bibirnya dengan kasar seakan membersihkan jejak ciuman Glend di sana.


Bella memutar tubuhnya, berbalik membelakangi Glend. Ini lah alasan kenapa Bella tidak terlalu menyukai kejutan. Selalunya berakhir menyakitkan. Kejutan ini juga tidak ia harapkan. Setidaknya bukan sekarang, disaat ia bisa menerima statusnya sebagai seorang istri.


Diseretnya kakinya meninggalkan tempat itu dengan harapan Glend menahannya. Tapi hingga ia sampai di ambang pintu pun, tidak ada tanda-tanda Glend akan menahannya.


Bella meremass hatinya yang diserang rasa sakit luar biasa. Rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Kenapa ia harus merasa sakit? Bukankah rasa sakit itu tercipta karena kita meletakkan harapan pada satu kondisi. Dan ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan itu, maka hanya akan ada kekecewaan yang berujung rasa sakit.


Lantas, apakah aku mulai berharap padanya?


Bella mendongak menahan air matanya agar tidak runtuh. Kenapa ia harus menangis? Apa yang ia tangiskan?


"Stacy merindukanmu. Tidakkah kau ingin menjenguknya? Dia putrimu, darah dagingmu."


Bella pun memantapkan hati untuk pergi tanpa penjelasan dari Glend. Dan bagi Bella semuanya sudah cukup jelas. Sebaiknya ia kembali ke rumah ayahnya, menunggu keputusan Glend tentang status pernikahan mereka.


____


"Di mana Stacy?" Glend melepaskan topeng di wajahnya. Ditatapnya Alice dengan wajah datar.


"Di mansion. A-apakah kakimu belum sembuh?" tanya Alice.


Glend tidak menjawab, tapi disaat ia berdiri dari kursi roda tersebut seakan memberikan jawaban kepada Alice. Alice pun semakin tersenyum sumringah.


"Apakah aku perlu mengikuti Bella?"


"Tidak perlu," sahut Glend. Jawaban yang diberikan Glend membuat Alice semakin berada di atas awan.