La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Marabahaya



Ternyata semesta tidak berpihak kepada Bella. Ia belum menghilang, masih berada di dalam mobil mewah milik suaminya. Ia juga masih menyaksikan beberapa wajah yang menatapnya dengan penuh rasa penasaran. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?


Menoleh kepada Glend yang sudah memalingkan wajah. Tidak ingin memperlihatkan wajahnya lebih jelas kepada orang-orang di luar sana. Jika Bella saja terkejut dan malu, tentunya Glend juga merasakan hal yang sama. Bukan hanya malu, Glend pasti merasa rendah diri.


Bella menghela napas, sebaiknya ia turun dan menghadapi masalahnya.


"Aku pergi," pamitnya. Tanpa menunggu respon dari Glend ia pun segera turun. Berjalan melewati Lizzie dan yang lainnya. Tidak menghiraukan mereka sama sekali. Deru mobil terdengar meninggalkan pelataran parkir. Bella menghitung dalam hati, menebak jika dalam satu menit ke depan akan ada yang menahannya dan menodongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Hei.. kemana kau, Bella!" seperti dugaannya Lizzie dan teman-temannya menghadang jalan. "Setelah mencuri rokku kau menghilang begitu saja." Dicekalnya tangan Bella dan diseretnya pergi.


"Tunggu..." Suara Matteo menghentikan langkah mereka. "Hentikan, Lizzie. Biarkan Bella pergi, mau sampai kapan kau mengusiknya."


Lizzie memutar bola matanya, tidak suka mendengar pembelaan Matteo tetapi tidak bisa berkutik juga di depan pria yang ia sukai. Mau tidak mau akhirnya ia melepaskan Bella begitu saja.


Bella segera berlalu disusul oleh Eli.


"Katakan jika apa yang kulihat tadi tidak benar?"


"Apa yang kau lihat?" Bella menanggapi tidak acuh. Terus menatap lurus ke depan.


"Kau berciuman."


"Aku dikecup, bukan berciuman." Ralatnya dengan segera. Lagipula apa masalahnya. Berciuman dengan intim di depan publik juga sudah biasa di negera mereka. Lantas kenapa kecupan Glend harus menjadi permasalahan. Akh, karena Glend berwajah buruk rupa. Sekarang Bella tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Apakah perasaan tidak nyaman yang ia rasakan sekarang karena ia merasa malu tertangkap basah bersama pria buruk rupa oleh teman-temanya atau karena ia memikirkan perasaan Glend saat ini. Pria sampai berpaling menyembunyikan wajah.


"Terserah apa pun sebutannya. Apakah kau sungguh kabur dari rumah dan memilih tinggal bersama pria kaya yang..." Kalimat Elizabeth terhenti di udara karena Bella menatapnya dengan sorot mata tajam. "Ka-kau terlihat seolah ingin menerkamku," cicit gadis itu sembari menundukkan kepala.


"Itulah yang memang akan kulakukan jika kau berani meneruskan kalimatmu, Eli!" hardiknya dengan wajah serius. Tidak melunak sama sekali meski Eli memasang mimik memelas.


"Aku temanmu, bukan?" Nada suara Eli terdengar seperti bisikan.


"Ya, kau temanku. Untuk itulah kau tidak boleh menghina sua... menghina siapa pun," hampir saja ia mengumumkan jika Glend adalah suaminya. Sepertinya jauh di dalam lubuk hatinya ia sudah mengakui status mereka dan bahkan lidahnya terbiasa menyebut Glend sebagai suaminya. "Lagipula hanya karena kau temanku, kau bisa mencampuri urusanku." Bella semakin bingung atas apa yang dirasakannya. Ia tidak terima jika ada orang lain yang merendahkan Glend meski kenyataannya Glend memang sangat buruk rupa.


"Aku hanya tidak ingin kau sesat. Ayolah, kau gadis yang sangat cantik, Bella. Bukan hal yang sulit bagimu untuk mendapatkan seorang pria kaya yang berwajah tampan."


"Tidak ada yang sesat, Eli! Ini juga bukan tentang harta. Aku tidak ingin mau berteman denganmu jika kau terus saja membahas hal ini dan menjelekkan pria yang menciumku tadi, maksudku mengecupku tadi." Setelah memberi peringatan dengan jelas, Bella pun segera berlalu. Ia perlu merenung, memutuskan untuk tidak masuk kelas.


_____


"Jadi kau sembunyi di sini?"


Bella tersentak dan menoleh ke belakang. Lizzie bersama teman-temannya ada di sana. Bella melihat sekeliling, sepi dan senyap. Mereka sedang berada di belakang gedung laboratorium yang sudah tidak terpakai. Tempat memang jarang dilalui oleh orang lain, untuk itulah Bella ke sana menenangkan diri. Tapi sepertinya Lizzie mengawasinya dari tadi. Bagaimana bisa mereka mengetahui keberadaannya.


"Harusnya aku tidak terkejut mengetahui dirimu begitu sangat liar dan murahan. Nyatanya, aku sangat terkejut," Lizzie mendramatisir. Melangkah perlahan mendekati Bella seraya melayangkan tatapan mencemooh. "Jadi kau sungguh menjual dirimu demi kepuasan harta, Bella?"


"Apa kau tahu kau sangat menjijikkan?" Lizzie kini berdiri tepat di hadapannya. "Meninggalkan Daddy hanya untuk pria buruk rupa? Oh, Bella, kau benar-benar sangat menggelikan." Cecar Lizzie dengan tampang yang sangat memuakkan. "Apa kau tidak merasa jijik saat wajah menggelikan itu menyentuhmu. Matamu buta hanya karena hartanya. Oh Tuhan, ibumu pasti menangis melihat dari liang lahat."


Plak!


"Berhenti menyebut nama ibuku dengan mulut hinamu, Lizzie! Kau boleh saja menghinaku tetapi tidak dengan ibuku."


"Brengsek! Kau menamparku? Hah?" Lizzie menerjangnya, menarik rambutnya. Pun Bella tidak mau diam. Ia membalas menjambak hingga akhirnya mereka berdua berguling di atas tanah.


"Kau pantas mendapatkannya karena mulutmu lancang sekali!"


"Kau wanita hina yang menjijikkan, Bella! Aku akan melaporkanmu kepada Daddy dan Mommy! Triple P, kenapa kalian diam saja. Tarik dia dariku."


Setelah mendapat perintah dari Lizzie, Pevita, Penelope dan Poppy pun segera menarik Bella, menjauhkan gadis itu dari Lizzie.


Lizzie mendapat cakaran di wajah dan lengan. Tidak sedikit pun Bella merasa bersalah, justru ia merasa puas.


"Arggghhh... kau merusak kulitku!" Lizzie mencakar wajah Bella yang tidak bisa menghindari atau pun membalas serangan wanita itu karena kedua tangannya ditahan Penelope dan Poppy sedangkan kepalanya di tahan Pevita agar tetap menghadap ke depan.


"Rasakan ini!" Lizzie menyobek bagian lengan baju Bella. "Kau mencuri rokku kemarin, bukan. Sekarang giliranmu yang kutelanjangi!"


"Jangan menyentuhku, sialan! Lizzie, hentikan." Bella mulai panik karena Lizzie dan Pevita mulai melucuti pakaian yang ia kenakan. Keempat wanita sialan itu tertawa menikmati kepanikan Bella. Permohonan Bella mereka abaikan, pendengaran mereka mendadak tuli.


"Ini akibatnya karena mencari masalah denganku. Dan harusnya bertelanjang seperti ini bukan hal yang baru bagimu, bukan? Pria menjijikkan itu pasti sudah menggerayangi tubuhmu, kan?"


Kini yang tersisa hanya tanktop hitam dan pakaian dalamnya.


Dengan kejam, Lizzie mengeluarkan pemantik dan membakar baju Bella. Bella berusaha memadamkan api hingga tangannya melepuh. Lizzie dan teman-temannya semakin tertawa terbahak.


"Apa yang terjadi di sini?" Kelima gadis itu menoleh ke sumber suara. Lagi dan lagi Matteo yang muncul bersama dua temannya. Bella sontak berbalik membelakangi semuanya. Tapi percuma saja, tindakannya yang dilakukannya itu justru mempertontonkan bokongnya.


"Astaga, Lizzie, kau sungguh keterlaluan! Benar-benar saudari tiri yang kejam. Bagaimana bisa kau menelanjangi saudarimu." Matteo membuka hoodienya dan memasangkannya di tubuh Bella. Beruntung hoodie itu mampu menutupi setengah pahanya.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Matteo memberi peringatan sembari menuntun Bella pergi dari belakang gedung tersebut.


Bella hanya diam dan sesekali menyeka air matanya. Ia malu dan marah. Saat Matteo membimbingnya masuk ke dalam mobil, ia juga hanya bisa pasrah. Ia terlalu shock dengan apa yang ia rasakan.


"Minumlah." Matteo memberinya minum dan tanpa merasa curiga sedikit pun Bella meminum air yang diberikan Matteo. Tidak berapa lama ia diserang rasa kantuk yang luar biasa hingga akhirnya menyerah dan tertidur.


Matteo tersenyum. Tangannya terulur menyentuh paha mulus Bella. "Kita akan bersenang-senang sebentar lagi, baby. Ternyata di balik sikap jual mahalmu itu, kau adalah wanita murahan yang menggelikan."