La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Kau Legit! (Hmmm, Ini Masih Aman, Mak!)



Tok.Tok.


"Bella, Uncle Harry memintaku untuk memanggilmu. Semuanya sudah menunggu di meja makan."


Bella meronta, menggeliat, berusaha meloloskan diri dari pelukan suaminya yang membungkam mulutnya dengan mulut suaminya.


"G-Glend, ini sudah pagi." akhirnya Glend melepaskan tautan bibir mereka setelah Bella menepuk dada pria itu. Hampir saja ia kehabisan napas. Glend benar-benar luar biasa mesum. Bella bertanya-tanya apakah alasan dirinya tidak bisa melupakan Glend karena sentuhan Glend yang membuat ketagihan.


"Aku tahu."


"Daddy sudah menunggu kita."


"Kita akan turun sebentar lagi."


"Kau harus mandi."


"Kita yang akan mandi." Glend melepaskan pelukannya, Bella pun berguling turun dari atas tubuh suaminya.


"Tidak ada acara mandi bersama. Aku akan mandi terlebih dahulu." Bella berlari masuk ke dalam toilet. Sepanjang malam mereka tidak tidur sama sekali.


Astaga! Aku liar sekali.


Bukannya merinding ngeri, Bella justru tersenyum malu-malu kambing. Dipandanginya wajahnya di depan cermin. Merona merah bagaikan tomat segar.


"Kenapa dia enak sekali?" Bella melompat kegirangan layaknya anak kecil yang baru mendapat hadiah. "Dia berlama-lama di sini," Bella memeluk dadanya. "Sepertinya dia menyukai bagian ini. Hmm, aku akan menyemprotkan parfum sebanyak-banyaknya di sana." Bella terkikik geli. Sepertinya bukan hanya Glend saja yang mesumnya tidak ketulungan tetapi dirinya juga.


"Sebaiknya aku mandi dan berhias," Bella bersenandung riang di bawah guyuran shower. "Hm, mari kita tuangkan sabun sebanyak-banyaknya. Akan kuhempaskan Alice dari pikirannya! Haiiss, Alice lagi, Alice lagi! Ini menyebalkan."


"Bella, kau masih lama?" terdengar ketukan dari balik pintu.


Bella mengernyit bingung, "Glend?"


"Ya? Kau membutuhkan sesuatu?" tanya pria itu.


"Bagaimana kau bisa sampai di depan pintu toilet?" Seingat Bella, ia meletakkan kursi tersebut di dekat sofa. Lalu, bagaimana caranya Glend bisa menjangkau benda tersebut?"


"Dengan kursi roda, aku merangkak," jawab pria itu asal.


Pintu segera dibuka, menampilkan sosok Bella yang penuh dengan sabun. "Kenapa kau merangkak? Apa yang terjadi? Kau butuh sesuatu? Astaga, maafkan aku. Ini kecerobohanku karena meletakkan kursi rodamu terlalu jauh dari jangkauanmu. Kau ingin menggunakan toiletnya? Masuklah, laksanakan hajatmu," Bella menarik kursi roda tersebut masuk ke dalam toilet, tidak menyadari rekasi wajah Glend yang ternganga.


Glend yakin hidupnya akan sangat menyenangkan sekarang. Ia akan awet mudah, memiliki umur yang berkah. Memiliki istri ajaib seperti Bella benar-benar anugerah tidak ternilai. "Kau seperti mummi cantik yang sangat menggoda. Baiklah, akan kutunaikan hajatku. Di sini, bersamamu."


_____


"Selamat pagi semua," Glend menyapa tanpa merasa bersalah sama sekali. Sudah sejak satu jam yang lalu, Lizzie, Polly, dan bahkan Rose datang berulang kali mengetuk pintu kamar mereka untuk mengajak sarapan pagi. Sementara yang lain sudah menunggu di meja makan.


"Selamat pagi, Mr.Vasquez," Sharon lah yang menjawab sapaannya.


"Semoga yang tidak menjawab sapaanku, tidak masuk angin," seloroh Glend sembari menarik kursi untuk istrinya, Bella. "Maafkan keterlambatan kami ayah mertua, maklumi saja, kami adalah pengantin baru yang sedang kasmaran, bukan begitu, Sayang." Glend menarik tangan Bella agar segera duduk di kursi yang sudah ia sediakan untuk istrinya.


Rose dan Lizzie beradu pandang dan kompak bergidik jijik.


"Berikan aku croissant dan susu cokelat." Glend menatap Rose yang artinya perintah itu diberikan kepada wanita itu.


"Ada di hadapanmu, Mr. Vasquez." seperti biasa wajah Rose masam dan kecut. Kekesalannya kepada pria itu semakin bertambah mengingat apa yang dilakukan Glend terhadapnya tadi malam. Memerintahnya memasak lalu mengabaikannya begitu saja.


"Tanganku sedang letih," Glend tersenyum manis. Tapi bagi Rose dan Lizzie tidak ada manis-manisnya sama sekali. Justru senyuman itu sangat memuakkan bagi mereka.


"Merepotkan," gerutu wanita itu sembari mengisi piring sesuai permintaan Glend. Diulurkannya piring dan susu tersebut ke hadapan Glend.


"Berikan kepada istriku," Glend kembali memberi perintah.


"Apa..." Rose menelan ucapannya kembali. Hampir saja ia mengeluarkan makian di hadapan suaminya. Meski tidak rela, akhirnya Rose meletakkan piring di hadapan Bella. Ia bersumpah akan memberikan Bella hukuman begitu ia memiliki kesempatan.


"Makanlah yang banyak. Kau membutuhkan tenaga ekstra." Glend menatap Bella dengan tatapan memuja, sesekali ia membersihkan sudut bibir istrinya itu. Sementara genggaman tangan mereka tidak lepas sama sekali.


Harry memperhatikan semuanya dengan seksama. Meski tidak percaya dengan apa yang ia lihat, tapi Harry bisa merasakan jika putrinya sangat menikmati perhatian kecil yang diberikan Glend kepada Bella.


Tidak sedetik pun Glend melepaskan tatapannya dari Bella sampai wanita itu menghabiskan sarapannya sendiri.


"Kau pintar sekali," Glend memuji, layaknya seorang ayah yang memperlakukan putrinya dengan sangat manis. Begitulah yang dilakukan Harry dulu terhadap Bella setiap Bella kecil berhasil menghabiskan sarapan.


"Aku akan membuatkan kopi untukmu."


Glend tersenyum lebar sembari mengangguk. "Hati-hati." Ucapan yang terdengar berlebihan di telinga Rose dan Lizzie.


"Paman buruk rupa, kau sangat perhatian sekali kepada Bella. Aku senang melihatnya." Ternyata Polly yang terlihat asik menikmati sarapannya juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Harry.


"Bella adalah istriku, little girl, aku mencintainya. Aku harus melakukan yang terbaik agar Bella merasa aman dan nyaman."


Tanpa sadar Harry mengulum senyumnya mendengar pernyataan Glend yang mengikrarkan cinta terhadap putrinya di hadapannya. Entah itu sekedar angin lalu atau di luar kesadaran Glend, yang pasti Harry sedikit terharu. Mendadak wajah buruk rupa itu terlihat tidak buruk-buruk amat.


"Sayang sekali wajahmu sangat buruk, Paman. Apakah jika Bella menciummu, kau akan berubah tampan seperti yang ada di dalam dongeng?"


Glend tertawa renyah mendengar pernyataan polos gadis kecil itu. "Sepanjang malam kami berciuman dan tidak ada yang berubah di dalam diriku selain perasaanku yang semakin menjadi kepadanya."


Kompak semua yang ada di sana tersedak berjamaah. Harry bahkan menumpahkan minumannya hingga mengotori bajunya. Sementara Sharon dan Rose tersedak air ludah mereka sendiri. Sharon merona malu sedangkan Rose merona jijik dan mual.


"Dasar kasta rendah. Murahan," wanita itu mencibir dengan nada pelan.


"Kau mengatakan sesuatu, Ibu tiri..., di mana putrimu?" bahunya mendadak tegang, tatapannya menghunus penuh ancaman.


"Aku tidak tahu," ketus wanita itu.


Glend segera menjalankan kursi rodanya menuju dapur. Jika sampai ia menemukan Lizzie di sana. Habislah wanita itu.


___


Bella yang tersentak kaget tanpa sengaja menyiram tangannya dengan air panas.


Lizzie menyeringai puas. Saat ia melihat Glend sibuk bercengkrama dengan Polly, ia berdiri dan meloloskan diri sana. Ia tidak berselera makan melihat wajah Glend. Bukan hanya pandangannya yang rusak tetapi juga pencernaannya.


"Hanya karena si buruk rupa itu di sini lalu kau jadi besar kepala dan bertingkah bagaikan ratu, heh? Kau sengaja mengurung diri di kamar dan membiarkan ibuku memasak untukmu? Astaga, apa kau sungguh melayani monster itu, Bella? Bagaimana caranya si lumpuh itu memuaskanmu? Ewww, ini menjijikkan, kau menyedihkan sekali."


"Perhatikan ucapanmu, Lizzie! Monster yang kau sebut itu adalah suamiku."


"Ops, ada yang bangga memiliki suami seorang monster. Kau memang tidak waras!"


Bella menarik napas panjang, menghitung satu sampai sepuluh di dalam hati lalu ia angkat cangkir kopi tersebut untuk ia sajikan kepada suaminya.


"Kau mau kemana? Aku belum selesai." Lizzie menghadang jalan dengan merentangkan kedua tangan. "Kau benar-benar membangkang hanya karena suamimu di sini? heh? Memangnya apa yang bisa dilakukan si lumpuh itu jika aku menjambakmu?" Lizzie pun menarik rambut Bella hingga mendongak ke atas.


"Lepaskan rambutku, Lizzie!" Bella menggeram.


"Jika kau tidak ingin mendapat perlakuan seperti ini, minta suami buruk rupamu itu pergi dari sini!"


"Jangan menghinanya, sialan," Bella pun menarik rambut Lizzie dengan sebelah tangannya.


"Berani melawanku, gadis murahan!" Lizzie merampas kopi dari tangan Bella dan menyiramnya ke tubuh Bella.


"Siapa yang murahan? Kau yang murahan, brengsek! Kau mengejar dan mengemis cinta pada pria bangsat seperti Matteo dan mencari perhatian pada Andreas yang baru satu kali bertemu denganmu," Bella yang terbakar emosi tidak menyadari rasa panas akibat siraman kopi di perutnya. "Aku hanya bercinta dengan suamiku, lalu apa masalahmu? Agrhhh!!!" Bella mendorong tubuh Lizzie hingga jatuh ke lantai. Lizzie yang menarik dirinya juga ikut terjatuh. Keduanya berguling-guling di dapur. Saling menjambak dan saling memaki.


"Oh Tuhan, apa yang kau lakukan kepada Bella, Jalaang!!" hardikan Glend sontak membuat Bella dan Lizzie menghentikan aksi pertengkaran mereka.


Glend mendekati Bella dan mengulurkan tangan untuk membantu istrinya berdiri.


"Kenapa tanganmu merah? Dia melukaimu?"


"Aku..." kalimat Bella menggantung karena Glend menyela ucapannya. Pria itu mengalihkan tatapannya dari tangan Bella ke arah Lizzie. Disorotnya wanita itu dengan penuh kemarahan.


"Apa yang kau lakukan kepada tangannya? Kenapa tangannya bisa merah begini?" Glend menekan setiap ucapannya.


"Aku tidak melakukan apa pun!"


"Kau pikir aku percaya!" Glend menggeram menahan amarah yang hampir meledak.


"Cih! Memangnya apa yang bisa kau lakukan, pria buruk rupa. Kau hanya pria lumpuh yang tidak bisa melakukan apa-apa. Menjijikkan dan mengerikan!"


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di wajah Lizzie.


"Sudah kukatakan berhenti mengatakan hal buruk tentang suamiku, Lizzie!"


Amarah Glend yang tadinya menggebu sirna seketika akibat pembelaan yang dilakukan Bella terhadapnya. Jantungnya meletup-letup kegirangan, hatinya diselimuti kehangatan yang begitu menyenangkan.


"Apa kau baru saja menamparku?!"


"Ya, kau pantas mendapatkannya!"


"Apa? Bella menamparmu?" Rose muncul disusul Harry, Sharon dan Polly.


"Mom," Lizzie berlari ke dalam pelukan ibunya. "Dia memaki dan menamparku." adu wanita itu dengan tersedu-sedu.


"Kenapa kau menamparnya, Bella?" Rose bertanya dengan lembut layaknya seorang ibu yang baik. Nadanya tenang tidak menghakimi.


"Dia menghina suamiku," sahut Bella dengan ketus. "Maafkan aku, Dad, sudah membuat keributan pagi-pagi."


"Kau baik-baik saja?" Harry bertanya dengan lembut.


Bella menganggukkan kepala.


"Lizzie, minta maaflah kepada Glend dan juga Bella," perintah Harry.


"Dad.." Lizzie melayangkan protes.


"Jangan membantah, Lizzie!"


"Tidak... Tidak... Jangan meminta maaf kepada Bella karena istriku pasti memaafkanmu. Aku akan membuat perhitungan denganmu, saudari tiri." Glend melayangkan ancaman lalu menarik Bella agar duduk di atas pangkuannya. Mereka pun pergi meninggalkan dapur tersebut.


"Terima kasih sudah membelaku. Kau membuatku jatuh cinta, Bella."


Deg!


Kali ini Bella tidak bisa menganggapnya sebagai rayuan gombal semata. Hatinya justru jingkrak-jingkrak kegirangan.


"Tanganmu sakit?"


"Hmm, perih dan panas." Bella memamerkan lukanya ke wajah Glend. Pria itu mengecup lalu meniupnya.


"Sebentar lagi Justin akan datang, dia akan mengobatimu. Omong-omong kau hebat sekali, kau bergulat di atas lantai menghajar saudari tirimu. Lain kali mari kita melakukannya di lantai."


Bella mengangguk patuh dan tawa Glend pun meledak seketika.


"Kau ketagihan, ya?"


"Aku istri yang patuh, tidak menolak keinginan suami." Bella membenamkan wajahnya yang merona di ceruk leher suaminya. "Kau legit."


"Dan kau memabukkan, Sayang."