La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Muncullah, Bella



Apa aku memang tidak layak dimaafkan?" Glend bergumam, menekuri pinggiran gelas kristal yang ada di hadapannya. Gelas ke sekian untuk satu jam terakhir.


"Jika aku jadi Bella, kau memang tidak layak dimaafkan, Dude." Alex berkata jujur apa adanya. Sayangnya jawaban jujurnya itu tidak disambut baik oleh ketiga pria yang duduk berbaris dengannya. Semua menyorotnya dengan tatapan protes, Bill yang ada di sebelahnya justru sengaja menendang tulang kering pria itu. Alex hanya bisa mengumpat tanpa berniat untuk membalas kekerasan yang ia dapatkan.


"Kau ingin dia mencoba bunuh diri lagi?" Hardik Justin dengan wajah kesal. Dalam satu tahun terakhir, ia tidak tahu bagaimana rasanya tidur dengan nyenyak tanpa ada gangguan dari pria malang itu. Hampir tujuh tahun berlalu, Bryson masih saja tidak berbaik hati memberitahu keberadaan Bella. Mereka yakin jika Bryson sesungguhnya tahu Bella ada dimana. Jika memang benar bukan Bryson dalang di balik menghilangnya Bella, bukanlah hal yang sulit bagi mereka untuk mencari keberadaan wanita itu. Setiap detektif atau pun orang yang sengaja mereka bayar untuk memata-matai Bryson selalu berakhir mengundurkan diri. Entah karena Bryson membayar mereka lebih mahal atau ada alasan tertentu lainnya. Bryson terlalu bersih memainkan permainan petak umpet ini.


Justin, Bill, dan Alex yakin jika Bryson mempunyai alasan kuat kenapa tidak membeberkan keberadaan Bella. Kemungkinan terburuknya adalah Bella sudah tiada. Hanya saja tidak ada yang berani untuk mengemukakan hal tersebut. Bisa-bisa mereka dihajar habis oleh Glend si pejuang cinta nelangsa.


Alex mengidikkan bahu seolah tidak peduli Glend mau bunuh diri atau tidak. "Lima jam yang lalu, aku bertemu dengan seorang wanita yang kukira adalah jodohku, namun saat kami bercumbu, panggilanmu datang dan menghancurkan semuanya. Apa katanya tadi? Alex? Melangkah dari kamar ini, kau tidak usah bertemu denganku lagi. Apakah teman-temanmu itu lebih penting dari hasratmu yang sedang berkobar? Ck! Dan di sini lah aku." Alex meneguk kasar minumannya. Sama seperti Glend, ia pun mulai mabuk.


"Kau tidak sendiri," Justin menekuk wajahnya yang tampan hingga terlihat aneh. Lingkaran hitam jelas terlihat di bawah matanya, begitu pun Bill dan Alex. "Dua hari yang lalu aku bahkan sedang bercinta di atas ranjangku dan si keparat ini masuk bagaikan zombie." Justin melayangkan tatapan tajam kepada Glend yang sudah membenamkan wajah di atas meja bar.


"Kau diputuskan oleh kekasihmu?" Bill penasaran.


"Aku yang memutuskannya." Justin menarik napas panjang.


"Apa kesalahannya?" Alex menimpali.


"Si keparat ini mengatakan wanita itu berulang kali menggodanya."


"Sahabatmu itu juga melayangkan kalimat menjijikkan. Justin, dadanya terlalu besar dan lembek. Kau akan kesulitan bernapas. Saat itu posisi wajahku memang sedang berada diantara wanita murahan itu."


Bill dan Justin semakin terpingkal-pingkal.


"Harusnya kalian di sana menyaksikan wajah wanita itu. Malu dan marah, wanita itu pergi tanpa mengenakan **********."


"Jika begini terus, kisah asmara kita juga tidak akan berjalan mulus. Ayolah, aku juga ingin menikah." perkataan Bill diaminkan keduanya. "Kita akan berempat akan termasuk dalam kelompok ikatan jomblo lucu imut."


"Dan itu tidak lucu." Alex dan Justin mendesah kasar.


"Cheers, untuk nasib kita yang menggelikan," Bill mengangkat gelasnya, Alex dan Justin pun melakukan hal serupa. Mereka pun mendentingkan gelas mereka satu sama lain. Keempat pria itu kompak mengalami mabuk berat.


"Bella, kau di mana? Muncullah!!" Bill berjalan sempoyongan sembari menengadahkan tangan ke atas.


"Bella, kami merindukanmu." Justin merangkul pundak Glend sembari mengusap dada pria itu memberi kekuatan agar tetap tegar dan sabar.