La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Jangan Ambil Anakku



Bella layaknya mayat hidup. Wajahnya pucat pasi, bibirnya gemetar, dan pandangannya nanar menatap sesosok tubuh mungil yang sedang mendapat pertolongan medis. Seseorang yang juga sedang berlatih di sirkuit mengalami kerusakan mesin hingga mobilnya tidak terkendali. Nahas, Gavin yang juga melintas di arena yang sama kena tabrak hingga bocah itu terpental. Sementara si pengemudi yang hilang kendali, mobilnya meledak beberapa detik setelah pengemudi tersebut berhasil meloloskan diri.


Gavin segera dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi tidak sadarkan diri. Darah segar bercucuran dari beberapa bagian tubuh bocah mungil itu.


Sampai di rumah sakit, Bella meluruh ke lantai. Ia memiliki trauma tersendiri melihat cucuran darah. Mengingatkannya pada kejadian disaat Alice hendak mencelakainya. Otaknya tidak mampu lagi berpikir. Ketakutan yang luar biasa menggerogoti setiap aliran darahnya. Tangisan Grace di sisinya ia abaikan, seakan ia tidak mendengarnya. Tubuhnya menggigil ketakutan, ia sibuk menenangkan diri dengan cara yang tidak ia ketahui. Teriakan Alice yang mengejarnya seakan menggema.


"Mom, apa Gavin akan baik-baik saja?"


"Mom, bagaimana ini? Apa Gavin akan mati?"


"Aku akan mencoba menghubungi Daddy. Di mana ponselmu, Mom? Di mana tasmu?"


Tidak menemukan jawaban, akhirnya Grace berinisiatif mencari sendiri. Sayang, ia tidak menemukan tas ibunya sama sekali. Sepertinya tertinggal di sirkuit.


"Aku tidak menemukan tasmu, Mom," Bella masih saja mengabaikannya. "Mom, lihat aku, Mom. Aku di sini, Gavin jagoan kita, dia akan baik-baik saja. Mom, kumohon sadarlah." Grace menepuk-nepuk wajah ibunya dengan kedua tangan mungilnya. Kondisi keduanya dalam keadaan bercucuran air mata. "Mom, tolong katakan sesuatu, apa yang harus kulakukan." Grace memeluk Bella dengan erat. Kondisi Bella yang seperti ini bukan pertama kalinya ia hadapi. Bella memang selalu bersikap seperti ini setiap melihat banyak darah.


"Ja-jangan ambil anak."


Orang-orang yang lalu lalang hanya menatap iba lalu pergi begitu saja. Beberapa perawat keluar masuk dari ruangan di mana Gavin sedang mendapat perawatan. Para perawat itu berlari membawa beberapa kantong darah.


"Dokter, suster, perawat, kalian harus menyelamatkan Gavin. Kumohon. Apakah di sini masih ada dokter? Ibuku butuh perawatan."


"Keluarga pasien?" seorang perawat kembali keluar, menatap Bella dan Grace dengan seraut wajah bingung. "Permisi, apakah Anda, ibu dari pasien yang dirawat di..."


"JANGAN AMBIL ANAKKU! JANGAN MEREBUTNYA!!" Bella mendorong Grace dari pelukannya, menatap tajam perawat yang berdiri di hadapannya.


Perawat itu tersentak kaget, begitu pun dengan pengunjung yang lain. "Jangan ambil anakku," Bella memeluk perutnya dengan erat seolah ia masih mengandung.


Grace mengusap air matanya, mencoba tegar menghadapi situasi ini. "Ma-maafkan ibuku, suster. Ya, yang di dalam sana adalah saudaraku."


Perawat itu menatap Grace dengan tatapan bingung dan iba. Tidak mungkin ia menyampaikan keadaan pasien kepada seorang bocah. Perawat itu mengalihkan tatapannya kepada Bella, ia meringis menyadari jika Bella juga tidak bisa diajak untuk berbicara. Terpaksa perawat itu masuk kembali ke dalam ruangan untuk menyampaikan keadaan keluarga pasien kepada sang dokter yang sedang memberikan pertolongan kepada Gavin.


Tidak berapa lama seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Terkejut melihat kondisi Bella yang menggigil ketakutan. Ia memberi perintah kepada beberapa perawat agar membawa ke dalam ruangan untuk mendapatkan perawatan.