
Bella berulang kali membuang napas, mereemas jemarinya agar Felix tidak melihat jika sesungguhnya tangannya sedang gemetar hebat.
Sayang, Felix sudah melihat hal itu sejak di cafe. Felix mengulurkan tangan, menyatukan jemari mereka. Bella tersentak, menoleh cepat ke arahnya.
"Aku, Felix. Priamu." Felix menerbitkan senyum terbaiknya. "Ini sudah hampir jam makan malam, bagaimana jika kita makan malam di luar?"
"Setuju!!" Gavin dan Grace berseru kompak.
"Felix..."
"Hmmm?"
"Terima kasih," Bella menundukkan kepala.
Felix membelai rambut wanita itu dengan lembut. "Aku tidak ingin bertanya untuk apa ucapan terima kasih itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau dan anak-anak sangat penting bagiku. Kebahagiaan kalian adalah prioritas bagiku. Apa pun yang kulakukan semata mata karena aku memang ingin melakukannya. Aku ingin kau, Gavin, Grace, merasakan kehadiranku. Itu saja."
Bella mengangkat kepala, ia menatap pria itu dengan sendu, sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Gav, apa kau tahu jika Uncle yang menyelamatkanku tadi juga sangat menyukai Iron Man, like you."
"Benarkah? Hm, apa dia juga sangat kaya?"
"Tentu saja! Dia adalah putra dari Grandpa!"
"Putra Grandpa?" Gavin tampak mengernyitkan dahi. Otaknya berpikir keras, menerjemahkan seperti apa hubungan mereka. "Aku tidak tahu jika Grandpa memiliki anak. Mom, Grandpa memiliki anak?"
"Jika Grace mengatakan seperti itu artinya dia tidak berbohong, Buddy. Ibumu sedang tidur, jangan mengganggunya," Felix menatap kedua bocah itu dari kaca. Ia mengerling jenaka, tersenyum hangat kepada keduanya.
"Daddy, dia pahlawanku!"
Felix mengangguk, "Ya, pahlawanmu. Kau menyukainya?"
"Daddy kurang memperhatikannya, Sayang."
"Kau melihatnya, Gav?"
"Aku juga kurang memperhatikannya," Gav menjawab tidak acuh. Ia sibuk memainkan ponsel ibunya. Mencari sesuatu di sana.
"Siapa namanya?" Gavin bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel.
"Aku lupa bertanya," Grace menyahut sembari merapatkan tubuh pada Gavin. Ia penasaran dengan apa yang dicari oleh saudara kembarnya itu.
"Daddy, kau tahu namanya?" Grace bertanya kepada Felix.
"Glend. Glend Vasquez."
"Thank you, Daddy." Grace memekik kegirangan. "Ayo, Gav, cari profilnya. Apakah Uncle itu sama terkenalnya dengan Daddy."
"Vasquez? Grandpa tidak menggunakan nama Vasquez. Tapi Dixton." Gavin memang memiliki otak yang cerdas dan daya ingat yang cukup kuat. Sangat berbanding terbalik dengan Grace yang lebih mementingkan mainan.
"Astaga, lupakan tentang nama belakang mereka. Kau harus melihat matanya, sama denganku! Sungguh! Oh, fotonya muncul di mana-mana. Dia terkenal, Dad! Sama sepertimu."
Felix hanya tertawa melihat tingkah kedua bocah tersebut. Grace terus saja berceletoh tentang Glend hingga mereka selesai makan malam dan Felix mengantar Bella dan Grace kembali ke rumah.
"Istirahatlah, aku dan Gavin besok akan menjemputmu dan Grace. Kita akan pergi bermain kuda."
Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ada empat pasang mata yang memperhatikan. Keempat pria itu kompak menarik napas. Sudah dikatakan, Glend dan ketiga temannya tidak senasib, tapi sepenanggungan.
"Kau sepertinya harus lebih banyak bersedekah, Dude. Mungkin dengan begitu semesta akan berbaik hati padamu. Mereka terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia," Bill berucap tanpa mengalihkan tatapannya dari Bella yang sedang mendongak, berbincang bersama Felix. Wanita itu terlihat sering memamerkan barisan giginya. Felix juga kerap kali mengusap lengan Bella dengan lembut.