
"A-aku akan mengobatimu," Justin menarik Glend untuk segera duduk di sofa. Bill dengan sigap memanggil pelayan untuk membereskan kamar seperti biasa.
"Kau belum menemukan obat mujarab untuk rasa sesak di dadaku?"
"Ikhlas. Itulah obat paling mujarab," sahut Justin yang mendadak berubah menjadi ahli sufi.
"Apa yang ingin kuikhlaskan disaat aku tidak mengingat apa-apa selain makian yang terngiang-ngiang."
"Nah, artinya kau harus ikhlas menerima dirimu yang brengsek itu," tandas pria itu dengan enteng. Meski Justin sangat terluka melihat kehancuran temannya itu, tapi rasa kesalnya kepada pria itu juga perlu disalurkan.
Glend menarik tangannya, menolak untuk diobati oleh pria itu. "Aku ingin menonjokmu!"
"Percayalah, Dude, aku juga merasakan hal yang sama. Ingin menghajarmu secara membabi buta."
Glend berdiri, tidak menanggapi ucapan pria itu lagi. Justin dengan sigap mengikutinya. Hari ini, mereka akan meninggalkan Anndora.
"Dua jam lagi kita akan berangkat, Glend."
"Ya," sahut pria itu singkat sembari terus melangkahkan kakinya.
Justin terus mengawasi dalam jarak beberapa meter. Bisa saja pria itu berbuat nekad dengan benar-benar memutuskan untuk mengakhiri hidup.
"Untuk apa dia kemari?" Justin mendesah kasar begitu mereka sampai di penjara bawah tanah.
Glend menuju ruang tahanan Alice. Setelah lima bulan berlalu, ini pertama kalinya Glend menyambangi tempat itu.
Ia melihat Alice meringkuk di ruangan yang sangat kecil itu. Ruangan yang sangat mengerikan. Sempit, pengap, dan lembab. Tahanan hanya bisa duduk. Tidak bisa tidur telentang, tidak bisa berdiri. Hanya bisa merangkak menuju toilet yang tidak memiliki pembatas sama sekali. Hellga juga mendapatkan ruangan yang sama. Ruangan yang tidak ubahnya dengan rumah seekor guguk.
"Alice,"
"G-Glend? Kaukah itu? Kau datang? Aku tahu kau pasti datang untuk membebaskanku," Alice memegang jeruji besi, mengulurkan tangan ke luar, menggapai-gapai di udara. Glend menyambut tangan wanita itu.
"Aku minta maaf kepadamu atas obsesi dan ambisimu terhadapku. Kutahu kau merencanakan pembunuhan untuk Andreas hanya agar bisa bersamaku. Tapi aku juga terluka, Alice. Terluka mengetahui obsesi dan ambisimu lebih besar untuk menjadi seorang ratu. Bukankah dulu aku pernah mengatakan kepadamu bahwa aku hanya ingin hidup sebagai rakyat biasa."
Alice menggeleng, "Maafkan aku, Glend."
"Ya, aku memaafkanmu. Apakah kau juga memaafkanku?"
Alice mengangguk cepat, "Pasti. Pasti. Pasti aku memaafkanmu, Glend. Aku mencintaimu."
Glend mengangguk meski Alice tidak bisa melihatnya.
Glend melepaskan genggaman tangannya di tangan wanita itu. Sama sepertinya, Alice juga terlihat seperti pengemis yang sangat menyedihkan. Tubuhnya kurus kering. Hanya tinggal tulang berlapis kulit.
Glend mengulurkan tangan mengusap wajah Alice, jemarinya menyusuri pipi wanita itu hingga tangannya sampai di dagu Alice.
"Akh..." Alice meringis kesakitan, merasakan cengkraman yang begitu kuat di wajahnya.
"G-Glend... Ss-sakit..."
"Ya, itulah tujuannya, Alice. Katakan, Alice, apakah Bella saat itu juga memohon? Apa kesalahan janin dalam perutnya?" Tangannya turun hingga ke leher wanita itu. Glend mencekiknya hingga mata wanita itu membeliak, lidahnya menjulur ke luar.
"Apa yang kau lakukan, Bodoh!"Justin mendorong Glend hingga terjatuh. Jika Justin tidak ada di sana, mungkin Alice sudah tinggal nama.
Glend sudah cukup menanggung beban rasa bersalah atas kebodohannya. Justin tidak ingin pria itu menjadi pria yang jauh lebih bodoh lagi karena berubah menjadi seorang pembunuh.