La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Kami Bertunangan



"Kau mencintainya?"


"Kami bertunangan."


"Kita juga menikah tanpa ada perasaan waktu itu."


"Pada akhirnya kau jatuh cinta padaku," Bella menyesali ucapannya tersebut. Kenapa ia harus mengatakan kalimat tersebut.


"Kau benar. Sampai bahkan sampai sekarang perasaanku juga sama. Masih seperti dulu bahkan semakin bertumbuh setelah melihat kau melahirkan anak-anakku."


"Jika perasaanmu sebesar yang kau sebutkan, apakah mungkin pengkhianatan yang kau lakukan bersama Alice akan terjadi? Jangan membual. Aku ingin tertawa tapi aku sadar ini tidak lucu, tapi menyakitkan." Bibir Bella gemetar, amarahnya terpancing. Ia benci keadaannya yang ternyata masih saja bereaksi. Ia kira waktu bisa menyembuhkan lukanya. Nyatanya, rasanya masih sama. Nyeri dan perih. Kenapa Glend harus muncul kembali membawa penyesalan yang tiada berarti lagi. Ia sudah menutup lembaran kisah mereka dan merajut kisah yang baru bersama Felix, pria baik hati yang sangat penyayang.


"Aku sadar tidak memiliki kemenangan di sini." semburat penyesalan sangat jelas terlihat. "Aku salah, sangat salah. Aku sedang tidak membela diriku. Yang kulakukan bersama wanita itu benar kusengaja. Tapi lihatlah kondisiku, Bella? Aku tidak mengingatmu. Aku mengalami krisis kepercayaan. Semua sibuk memikirkan cara untuk saling menyingkirkan dan menjatuhkan."


"Apakah status kita sebagai suami istri tidak mampu membentengimu?"


"Tidak harus kujelaskan seperti apa rasanya krisis kepercayaan. Aku yakin kau juga mengalaminya." Glend menunduk, menyembunyikan kegetiran di wajahnya. "Yang kulakukan bukan sebuah pengkhianatan. Aku tidak menggunakan perasaan. Yang kulakukan adalah mengikuti permainan. Memanfaatkan orang lain untuk mendorong yang lainnya. Aku mencumbu wanita itu agar kau pergi. Ya, kuakui itu. Tapi apakah aku pernah tidur dengannya? Tidak. Lalu, apakah kau menunjukkan sekuat apa hubungan kita? Tidak Bella, kau sibuk mencari tahu apa yang tidak kuketahui. Kau juga tidak berbagi denganku tentang apa yang menjadi tujuanmu. Kau menyimpan hal itu di dalam hatimu. Kau sibuk mengatur rencana dengan ayahku. Kau tidak pernah mengatakan seberapa penting aku bagimu. Aku haus akan hal itu, Bella. Diriku di Anndora berbeda dengan diriku yang kau kenal sebelumnya. Aku buta tentangmu saat itu. Kau bagikan kertas kosong. Kau menunjukkan pesan terakhir sebelum kecelakaan. Kau benci pengkhianatan. Dan di sana kau juga mengatakan bahwa menerima cintaku, tapi kau juga mengatakan agar aku tidak berharap lebih. Aku yang rapuh, bertanya-tanya, apa alasan wanita ini bersedia menikahiku? Apakah ada sesuatu yang diinginkan dariku? Sebelum ingatan tentangmu hilang, aku tidak peduli tentang seberapa penting aku bagimu. Karena yang kulakukan adalah menunjukkan kepadamu sebesar apa rasa cintaku padamu. Hingga bahkan aku tidak peduli dengan nyawaku."


"Apa kau..."


"Sstttt.... jangan menyela ucapanku dulu. Biarkan aku mengatakan apa yang ingin kukatakan agar hatiku sedikit lebih lega. Aku sedang tidak menyalahkan siapa-siapa. Aku juga tidak sedang meracuni otakmu agar kau kasihan padaku. Aku sudah bisa menerima keadaan ini. Seperti yang kau katakan, aku tidak akan merusak kebahagiaanmu bersama tunanganmu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau akan selalu bersemayam di hatiku. Terima kasih, Bella. Terima kasih sudah menjadi hal terindah dalam hidupku. Berkatmu, aku percaya bahwa di dunia ini masih memiliki banyak orang-orang yang tulus dan penuh kasih. Dan aku bersyukur, anak-anakku terlahir dari rahimmu."


Glend menggeleng, "Aku tidak sekejam itu, cara mia. Aku pernah menghancurkanmu satu kali. Dan kutahu aku akan menyesalinya seumur hidupku. Aku tidak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Jika kau tidak ingin Grace dan Gavin mengetahui bahwa aku adalah ayah mereka, aku tidak akan menyalahkanmu. Tidak akan menuntut pengakuan dari mereka. Karena aku sadar tidak memiliki kontribusi dalam tumbuh kembang mereka. Aku menyesali semuanya, sungguh. Baiklah, kemarin kau yang mengucapkan selamat tinggal padaku, kali ini aku akan mengakhirinya dengan ucapan selamat bahagia. Dari hatiku yang paling dalam, aku sungguh menginginkan kebahagiaanmu, cara mia."


Bella terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Otak dan hatinya sibuk mencerna apa yang dikatakan Glend kepadanya. Bahkan saat pria itu berbalik dan melangkah menjauh darinya, Bella masih mematung di tempat. Hingga hembusan angin mengembalikan kesadarannya.


"Argghh..." ia meringis. Glend sontak berbalik, melangkah cepat ke arahnya.


"Ada apa?"


"Mataku," Bella mendongak. Serangga atau debu yang masuk ke matanya, ia pun tidak tahu. Rasanya sangat perih.


"Biar kuperiksa." Glend mencakup kedua pipi Bella, lalu memeriksa apa yang sudah melukai mata indah wanita kesayangannya itu. Glend meniup perlahan agar perihnya hilang.


"Apa yang kau lakukan pada wanitaku?!" Tiba-tiba Felix muncul dan melayangkan bogeman di wajah Glend hingga pria itu terjungkal.


Bugh!


Sebuah bogeman kembali melayang di wajah Felix. Alex lah yang melakukannya. "Jangan mengaku jika Bella adalah wanitamu jika sebenarnya kau juga bermain-main dengan wanita lain!"