La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Legitnya Berkurang



"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Yang harus kita lakukan adalah hidup bersama, bahagia selamanya." Glend menjawab apa adanya. Ia duduk di sebelah Bella, mengambil surat Felix dari tangan Bella dan memasukkannya ke dalam kantong.


"Maksudmu, kita tinggal bersama?" wajah Bella bersemu merah. Ia merasa tidak adil pada Felix tapi hati sialannya itu mengkhianatinya. Hatinya meletup-letup membayangkan ia dan Glend kembali bersatu.


"Ya. Kau menolak?" Glend menukik sebelah alisnya.


"Se-sebelum tinggal bersama a-apa yang harus kita lakukan?"


"Katakan, kau ingin aku melakukan apa padamu?"


"Aku bertanya karena aku tidak tahu."


"Hm, apa yang harus kita lakukan?" Glend tampak berpikir sejenak. "Bagaimana jika kita berpelukan sebagai pemanasan?"


"Kurasa itu hasrat terbesarmu sejak melihatku," sarkas Bella dengan delikan mata kesal.


"Dan aku percaya kau tidak akan menolak gagasanku itu. Kuyakin kau juga memiliki hasrat yang sama besarnya."


"Selalu besar kepala dan penuh percaya diri."


Glend mengangguk membenarkan, "Cenderung tidak tahu malu jatuhnya. Tidak usah sungkan untuk mengatakan hal itu, Bella."


Bella tergelak, inilah Glend, selalu mampu membaca apa yang sedang ia pikirkan.


"Izin darimu."Glend tergelak, pun ia menarik Bella ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat. Sangat erat. Setelah hitungan tahun, akhirnya ia bisa kembali merasakan betapa indahnya hidup. Oksigen kembali bekerja dengan baik melalui pernapasannya. Lega, kini ia bisa merasakan hal itu. "Terima kasih, Bella." Dikecupnya pucuk kepala dengan hangat dan dalam. Bersumpah kepada diri sendiri bahwa ia tidak akan pernah membuat wanita itu menangis lagi karena ulahnya.Ia berjanji, mulai detik ini hanya ada tangisan kebahagiaan.


"Bagaimana, apakah aku masih legit?" Glend mengurai pelukan mereka. Nyatanya bukan hanya ia yang menangis haru. Manik Bella ternyata juga berlinang air mata.


"Legitnya sudah berkurang. Bagaimana denganku, apakah masih memabukkan?" Bella balik bertanya.


"Sekedar pelukan tidak bisa membuatku menjawab pertanyaan tersebut," jemarinya mengusap sudut bibir, Bella. Bella meneguk salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Glend tetaplah Glend, selalu memanfaatkan celah walau sebesar lobang semut sekalipun untuk menggoda atau merayu Bella.


"Jadi, saat lamaran kemarin adalah pertama kali Felix menyentuhmu?" Glend menatap bibir Bella yang masih menyisakan luka yang mulai kering. Saat menyadari Bella sengaja melukai bibirnya, Glend hampir mengurungkan niatnya untuk mundur. Ia tahu jika Felix bukan yang diinginkan Bella. Lalu ia berpikir, hidup bukan hanya tentang apa yang diinginkan, tapi juga tentang orang-orang di sekitar. Seperti yang dikatakan Felix, ada kalanya mundur meski yang ditawarkan adalah ketulusan. Karena yang memiliki ketulusan bukan hanya seorang saja.


"Felix kurang legit," Bella bergumam lirih sembari menundukkan kepala. Secara tidak langsung, ia mengakui bahwa itu pertama kali bibir pria lain menyentuhnya. Ia bersyukur, Felix adalah pria yang sopan. Semoga Felix menemukan wanita terbaik, sempat-sempatnya Bella berdoa di dalam hati di tengah debaran jantungnya yang menggila.


Glend tergelak. "Tapi dia sangat memukau dan juga seksii."


"Aku tidak memperhatikannya."


"Jadi siapa yang kau perhatikan?"


"Tidak ada."


"Bagaimana dengan diriku?" Glend mengangkat dagu Bella agar wanita itu menatapnya. "Aku bertanya, bagaimana pendapatmu tentang diriku?"


"Buruk rupa dan mesum."