
Halo semua. Apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat. Berhubung besok adalah Ramadhan, penulis ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa🙏🙏 Selalu jaga kesehatan agar kita bisa menjalani bulan penuh rahmat ini dengan khidmat dan nikmat.
🍁
"Selamat pagi," Andreas menyapa Bella yang baru saja bangun dibarengi dengan senyum sejuta dollar andalannya yang begitu memukau. "Tidurmu nyenyak?" tatapan kagum ia layangkan secara terang-terangan kepada Bella yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Ya, Bella sedang menginap di apartemennya, di kamarnya. Meski Bella sudah memaksa pulang tapi ia tidak memberi izin dengan alasan Bella perlu mengkondisikan hati dan pikirannya.
Sejak beberapa menit lalu, Andreas duduk di tepi ranjang memperhatikan Bella yang sedang tidur. Wajah Bella saat tidur sungguh menggemaskan. Mulut gadis itu terbuka sedikit, mengeluarkan dengkuran halus. Wajah Bella tampak cantik dan tenang.
"Di mana aku?" suara Bella yang serak khas bangun tidur menggelitiki hormon lelakinya. Andreas menipiskan bibirnya, menahan godaan untuk menyentuh Bella. Ck! Godaan yang sangat sulit.
"Di kamar kita, maksudku di rumahku."
"Oh," Bella hanya bergumam.
"Apa kau ingin membasuh wajahmu atau langsung menikmati sarapanmu? Aku sudah memasak untukmu."
Bella memiringkan kepala melihat ke arah nakas. Aroma sarapan yang begitu menggoda. Grits, bubur jagung dari butiran kecil jagung yang direbus dan disajikan penambahan perasa. Andreas memberikan toping di atasnya berupa udang, sosis, dan serpihan daun bawang. Seketika Bella merasa lapar.
"A-aku akan membasuh wajahku terlebih dahulu." Bella mengeluarkan kaki dari balik selimut dan menurunkannya dari ranjang. Lagi dan lagi Andreas merasa tergoda melihat pahatan kaki mulus yang begitu cerah.
Rambut sedikit berantakan, kemeja kebesaran, telanjang kaki, kombinasi yang benar-benar menguji kewarasan seorang pria.
"Baiklah," suaranya serak karena harus menahan sesuatu. Ayolah kawan, jangan katakan dia mesum. Hari masih pagi, hormon testosteron meningkat tinggi. "Aku akan mengantarmu ke toilet."
Sebelum Bella sempat memberikan reaksinya, Andreas sudah mengangkat tubuh Bella ke dalam gendongannya.
"Aku bisa berjalan sendiri. Kau tidak perlu mengantarku," Protes Bella. Andreas terlalu bersikap manis. Ia khawatir jika dirinya mulai lupa diri dan menikmati apa yang diberikan Andreas. Godaan terbesar adalah sikap manis yang dilengkapi dengan wajah yang rupawan. Manik mata grey, kenapa manik itu selalu menggoda!
"Tanganmu sedang sakit. Memarnya masih terlihat."
"Aku hanya membutuhkan kakiku untuk berjalan, bukan tanganku."
"Akh, kau benar juga," Andreas terkekeh geli. "Tapi aku sudah terlanjur menggendongmu, nikmati saja. Percayalah, hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan layananku ini."
"Jadi maksudmu aku termasuk orang yang sangat beruntung?"
"Ya," sahut Andreas singkat dan penuh percaya diri.
"Setelah kuingat-ingat, kekasihmu yang datang kemari adalah model Rusia."
"Ya, kau benar. Model majalah dewasa," Andreas mengerling jenaka.
"Jadi dia sungguh kekasihmu?"
Andreas menggelengkan kepala. "Tidak. Kami hanya partner."
"Partner ranjang?"
"Bella-ku mulai nakal. Kau cemburu?"Andreas menghentikan langkah sesaat, menunduk untuk melihat mimik wajah menjawab pertanyaannya yang mengandung godaan.
Oh Tuhan, aku belum sikat gigi! Bella menjerit di dalam hati dengan perasaan malu. Akhirnya, yang ia lakukan adalah menahan napas hingga wajahnya merah.
"Jadi kau sudah memiliki kekasih?" Andreas mengunci pergerakan matanya. Rahang pria itu mengatup keras. Manik yang menenggelamkan itu menatap dengan tajam dan penuh intimidasi. Jelas sekali jika Andreas tidak menyukai pernyataan Bella barusan. "Jawab jika aku sedang bertanya, querida."
Bella menggeleng, tidak berani membuka mulut. Ini memalukan, sangat memalukan.
Kapan pria ini menyingkir dari atas tubuhku, aku bisa kehabisan napas.
"Apa kau sedang menahan napasmu?" Andreas mulai menyadari wajah Bella yang merah padam dan tersiksa.
Bella mengangguk membenarkan dan berharap pria itu peka dan segera menyingkir dari atas tubuhnya.
"Bernapas lah bodoh! Atau kau sengaja ingin membuat dirimu pingsan agar aku bisa menyumbangkan napasku?"
Bella menggeleng dengan manik membulat lebar.
"Aku tidak akan keberatan membagi napasku padamu, mi amor," si brengsek Andreas yang tidak berperasaan semakin mendekatkan wajah hingga hidungnya menyentuh hidung Bella. Andreas sengaja menggeseknya.
Bella semakin menggeleng, melindungi menghindari sentuhan hidung Andreas di wajahnya. "Menjauh, bodoh!" Bella akhirnya mengeluarkan suara dengan menutup wajah menggunakan kedua tangannya. "Aku belum menyikat gigiku," cicitnya pelan.
Bella merasakan tubuh Andrean bergetar. Ia mengintip dari balik jemarinya dan ternyata pria itu sedang menahan tawa.
"Apakah jika kau sudah menyikat gigi, aku boleh merasakan bibirmu yang manis?"
"Mesum, menyingkir dari tubuhku!"
Andreas terkekeh, alih-alih menyingkir justru tangan Bella yang ia singkirkan dari wajah gadis itu dan dikecupnya bibir Bella. Hanya kecupan singkat, sangat singkat tapi reaksi yang tubuh Bella mengalahkan ledakan Hiroshima Nagasaki. Dahsyat dan menggemparkan.
Wajah Bella yang terkejut justru membuat Andreas tidak bisa menahan diri. Dimasukkannya tangannya ke bawah kepala Bella dan dipagutnya bibir itu. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Gairahnya benar-benar diuji saat berdekatan dengan Bella. Kapan terakhir kali ia menggebu-gebu seperti ini terhadap wanita? Ck! Ia tidak ingin repot-repot mengingatnya. Ciuman ini terlalu indah. Bibir termanis yang pernah ia rasakan.
Dibimbingnya tangan Bella agar melingkar di balik lehernya. Gadis itu tidak menolak, tapi Andreas tahu, jika reaksi itu bukan karena Bella menerima ciumannya tetapi karena terlalu shock dengan apa yang terjadi. Andreas akan meminta maaf nanti, biarkan ia menikmati ini. Diperdalamnya ciumannya dengan gerakan lembut mendayu. Ciuman yang penuh kehati-hatian tanpa mengurangi keintimannya. Seingatnya, belum pernah ia seperti ini. Dulu, ia sangat liar, kasar, dan menuntut. Apakah karena pasangannya juga begitu agresif. Bersama Bella, ia takut wanita itu hancur menerima setiap sentuhannya.
Mengalah pada gairah dan hasratnya, Andreas akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. Matanya berkilat dipenuhi kabut gairah. Ia harus berhenti karena semakin ia menjelajah, semakin ia serakah dan menginginkan lebih.
Kejutan lagi, dulu ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Memuaskan apa yang perlu dipuaskan. Tapi kali ini berbeda, ia harus memikirkan perasaan Bella. Ini bukan tentang kepuasannya, tapi tentang perasaan Bella.
"Aku tidak akan meminta maaf untuk ciuman yang manis ini, mi amor. Tapi aku minta maaf karena sudah membuatmu terkejut." Bisiknya lembut seraya mengusap bibir Bella yang basah akibat ulahnya. "Bagaimana ini, sihirmu sepertinya berhasil melumpuhkanku, Bella."
"Kau mencuri ciumanku lagi."
"Ya, aku mencurinya lagi," pria itu terkekeh. Andreas mengira ia akan mendapat tamparan mengingat beberapa saat lalu Bella mengatakan ia sudah memiliki kekasih. Reaksi Bella selalu di luar dugaan.
"Kau... Kau pencuri mesum!"
"Ya, aku pencuri mesum yang sangat menawan." Andreas menyingkir dari atas tubuh Bella dan membantu gadis itu untuk berdiri. "Basuhlah wajahmu, sarapanmu mulai dingin, aku akan memanaskannya kembali." Andreas mengangkat tangan, mengacak lembur rambut Bella yang kusut. "Kemejaku membuatmu terlihat seksii. Aku menyukainya," Kembali ia menunduk, mendaratkan satu kecupan hangat di kening Bella. "Aku akan menuntut jawabanmu tentang kekasih yang kau katakan tadi." Sentuhan terakhir yang ia berikan adalah membelai lembut pipi Bella. Ia pun berbalik, meninggalkan Bella yang mematung di tempat. jiwa gadis itu sudah tidak berada di dalam raganya lagi.