La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Apa Kau Cemburu?



Glend mendengarkan semua hinaan dan umpatan yang dilontarkan Andreas kepadanya. Ia jelas masih mengenali suara yang terdengar dari rekaman yang ada di ponsel milik Alice. Ya, suara itu asli milik Andreas.


Aku merasa muak kepada diriku disaat aku harus berpura-pura baik dengannya. Kau tahu berapa jam waktu yang kuhabiskan di kamar mandi setelah aku bersentuhan dengan anak dari jalanng murahan itu? Empat jam. Waktu itu seakan tidak cukup untuk membuatku bersih kembali. Menjijikkan. Kau pikir aku menyukaimu, Alice...


Ya, mungkin dulu aku sempat mengagumi, tapi kau justru jatuh cinta pada anak jalanng itu. Kau juga sangat memuakkan bagiku. Lihatlah, aku berhasil membuat kau dan dia menderita. Aku ingin membuatnya gila karena aku sudah berhasil menyentuhmu. Ayo layani aku, Jalanng!!


Glend mematikan rekaman tersebut. Ia tidak sanggup mendengarnya lebih jauh lagi. Tenggorokannya terasa kering, ludahnya terasa alot. Ia menunduk, mendadak ia merasa kehilangan arah. Ada apa sebenarnya. Ternyata ia dan ibunya tidak lebih dari sekedar figuran pelengkap derita di dalam drama istana ini.


Glend menundukkan kepala, sakit di kepalanya kembali menyerang.


"Glend, maafkan aku." Alice terisak sambil memeluknya dari belakang. Tidak pernah sekali pun aku melupakanmu. Jika kau tersiksa, aku pun demikian, Glend."


Glend memejamkan matanya. Kenangan bersama Alice terekam jelas. Mereka menjalin hubungan cukup lama. Kira-kira empat atau lima tahun. Glend lupa. Tidak pernah ada pertengkaran, Alice selalu menjadi pelipur lara disaat ia merasa gundah. Alice selalu mengulurkan tangan menawarkan pelukan disaat Glend merindukan kehangatan seorang ayah.


"Tidak sekalipun aku melupakanmu. Tidak pernah sama sekali. Aku berani bersumpah padamu." Alice sudah berada di hadapannya. Dicakupnya wajah pria itu, diarahkannya agar menoleh kepadanya. Keduanya berada tatap dengan mata sayu dan keadaan rapuh. Alice tidak berbohong tentang perasaannya terhadap Glend, ia mencintai pria itu.


Alice mengikis jarak wajah mereka, menyatukan bibir yang sama-sama sudah bercampur air mata. Rasa asin mereka abaikan. Kesedihan yang mereka rasakan kini berubah menjadi gairah yang menggebu gebu. Glend mulai beraksi, membalas semua yang diberikan oleh Alice. Mengabaikan seorang wanita lain yang berstatus istri sedang menyaksikan hal itu. Dalam beberapa jam, Bella kembali melihat adegan tidak layak itu.


Sampai ciuman itu berakhir, Bella masih berada di sana.


"Istirahatlah," Glend mendorong tubuh Alice. Wanita itu tersenyum dan mengangguk.


Glend berbalik dan menemuka Bella yang menatapnya dengan ekspresi tidak terbaca.


Bella segera beranjak pun Glend mengikutinya.


"Apakah statusku yang merupakan istri bagimu tidak cukup menjadi sebuah tembok bagimu untuk menghalangi wanita lain mengusik hubungan kita?" pertanyaan itu meluncur dengan tenang begitu mereka sampai di dalam kamar. "Kutahu kau melupakanku, tapi kau jelas tahu kau seorang suami. Dimana keangkuhanmu yang mengatakan kau tidak akan pernah sama dengan ayahmu." Bella tersenyum kecut. "Tapi kau ada benarnya juga. Kau dan dia memang tidak akan sama. Dia begitu hebat dan kau begitu menyedihkan."


"Apakah kau cemburu?"


"Dan pertanyaanmu semakin menegaskan bahwa kau pria bodoh yang sangat kejam." Bella melewatinya dan masuk ke dalam toilet. Di dalam toilet ia juga tidak menangis sama sekali. Ia membasuh wajahnya dengan sangat kasar, meluapkan rasa sesak yang begitu menghimpit, ia seolah berada di lobang sempit yang tidak memberi ruang baginya untuk bergerak.