La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Daddy



Felix mengambil alih kertas dalam genggaman Gavin. Membaca isi kertas tersebut dengan seksama. Felix tersenyum setelah selesai membaca isi dari kertas tersebut. "Ini sertifikat. Bukan surat kontrak. Sertifikat atas kepemilikan salah satu sirkuit di London. Kau pemiliknya."


Gavin membeliak, "Aku memiliki sebuah sirkuit balap?" Gavin masih tidak mempercayai hal ini.


"Ya," sahut Glend singkat.


"Ini hebat!! Apa yang harus kulakukan dengan ini?!" Gavin melompat-lompat kegirangan lalu memeluk kaki panjang Glend. "Terima kasih, Uncle.Terima kasih!"


Glend mengangkat Gavin ke dalam gendongannya. Memeluk keduanya dengan erat, lalu mengecupnya satu persatu. Perasaannya campur aduk. Ia bahagia bisa memberikan sesuatu kepada anak-anaknya, tapi ia juga bersedih karena esok ia harus pergi meninggalkan negara ini. Ia tidak akan kuat melihat persiapan pernikahan Bella dan Felix.


"Uncle, kau memberi hadiah yang begitu hebat kepada Gavin. Katakan, kau akan memberikan apa padaku?" untuk kesekian kalinya Grace melayangkan protes yang disambut gelak tawa semuanya.


"Tukang cemburu," Gavin dengan sengaja meledek adiknya agar semakin panas.


"Uncle, aku tidak mau tahu, kau harus memberikan sesuatu yang lebih hebat dari hadiah yang kau berikan kepada Gavin! Aku memaksa!"


"Kalau begitu kita harus pergi sekarang dan mencari tahu apa yang kau sukai, gadis manis."


"Ya! Dari tadi aku sudah tidak sabar."


"Baiklah, sekarang kau harus berpamitan pada semuanya. Pada Mommy, Daddy dan saudaramu."


"Mom, Dad, Gavin, jangan merindukanku. Aku ingin berkencan dengan Uncle. Tidak usah menungguku untuk makan siang atau pun malam karena kami akan terlambat pulang. bukan begitu, Uncle?"


Glend lagi dan lagi dibuat tertawa oleh tingkah gadis kecilnya itu. Menggemaskan. Sama persis seperti ibunya.


🦁


"Terima kasih sudah bersedia pergi berkencan denganku, Sweetheart."


"Terima kasih sudah mengajakku pergi... Dad."


Glend menginjak rem seketika. Tangannya juga dengan sigap melindungi putrinya. Ia menoleh ke arah putri kecilnya itu dengan perasaan membuncah. Apakah ia salah mendengar? Glend menelan salivanya, ia bingung bagaimana untuk memperjelas hal yang baru saja ia dengar tadi. Apakah telinganya sedang bermasalah atau ia sedang berhalusinasi.


"Beberapa minggu yang lalu, Mommy membeli parfum baru. Wanginya sangat enak. Wajahnya selalu berseri setiap ada yang memuji aromanya. Pertama kali bertemu denganmu, aromanya sama persis. Semenjak hari itu Mom tidak pernah memakai parfum tersebut lagi. Mom mengigau, sering berbicara sendiri. Dia menyebut namamu tanpa sadar. Jadi apa yang sedang kau lakukan Daddy? Apakah kau mengajakku berkencan adalah sebagai tanda salam perpisahan?"


"Oh, Sayang." Glend melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya dan membawa Grace ke dalam pangkuannya. Dipeluknya dengan erat, diberikannya kecupan secara bertubi-tubi.


"Apakah kau pergi karena tidak ingin melihat Mom dan Daddy Felix bersama?"


Glend menggeleng, "Tidak, Honey, tidak seperti itu. Mommy dan Daddy Felix saling mencintai. Mereka harus bahagia."


"Lalu bagaimana denganmu, Dad?"


"Oh, Sayang, bisakah kau mengulangi panggilan itu. Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"


"Daddy.... Daddy... Daddy.... Apa kau senang, Dad?"


Glend mengangguk haru. Ini di luar dugaannya. Bukti betapa baiknya Tuhan kepadanya.


"Katakan, Sayang, siapa yang memberitahumu?"


"Karena mata kita sama. Aku mengajak Gavin berbicara. Ia mencari tahu tentangmu di internet. Dia juga mengatakan kita terlihat mirip. Aku mengatakan kepada Gavin jika kau adalah putra Grandpa Bryson. Lalu Gavin mengatakan jika kau adalah ayah kami."


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Dad."


"Pertanyaan?"


"Kau mengajakku dan Gavin pergi berkencan hanya karena ingin meninggalkan kami. Gavin mengatakan seperti itu. Ia memintaku agar terus berpura-pura bahwa kami tidak tahu apa-apa karena kau dan Mommy pasti punya alasan untuk tidak mengatakannya. Tapi aku tidak tahan," ucapnya dengan nada memelas. "Aku sangat menyukaimu sejak pertama kali bertemu dan aku senang bahwa kau adalah ayah kami. Aku tidak menginginkan hadiah apa pun, tapi berjanjilah bahwa aku boleh menghubungimu kapan saja."


"Tentu saja, Sayang." Glend kembali membawa Grace ke dalam pelukannya. Ini hadiah terindah dalam hidupnya. Ia mungkin akan kehilangan Bella tapi tidak dengan anak-anaknya. Tuhan memang Maha Baik.