
"Mr. Orlando, apakah aku boleh mengajak wanitamu berdansa?" Justin dengan wajah tebal meminta izin kepada Felix. "Hanya berdansa. Tidak lebih. Meski aku berniat merebutnya, aku yakin Bella tidak bersedia menerimaku," kelakarnya, tapi dengan wajah serius.
Felix tergelak begitu pun dengan Bella. "Baiklah, aku akan bermurah hati, Mr.Romano."
Justin tersenyum lebar, "Pesonaku memang sulit untuk diabaikan," ia mengerling jenaka sembari mengulurkan tangan yang disambut Bella dengan segera.
"Bagaimana pendapatmu tentang Glend dan Ella?" Justin membimbing tangan Bella agar bersandar di bahunya. "Arah jam sembilan, mereka juga sedang berdansa seperti kita. Kau ingin kita bergabung dengan mereka."
"Aku tahu kau sengaja mengajakku berdansa hanya untuk membahas hal yang menurutku kurang menarik, Justin." Bella hanya melirikkan ekor matanya sekilas kepada pasangan yang harus ia akui memang terlihat sangat serasi.
Justin tergelak, "Hm, kupikir kau tertarik untuk mengetahui kisah mereka. Omong-omong, Bella, kalau tidak menarik lantas kenapa kau bersedia berdansa denganku?"
"Kita bisa mengakhiri dansa ini jika kau mau," tukas Bella dengan mimik datar. Justin berdecak. Ia lupa jika Bella adalah wanita yang pintar memainkan kata.
"Bagaimana kabarmu?" Bella mengganti topik.
"Seperti yang kau lihat, aku masih seperti ini. Melajang dengan wajah yang sangat memukau. Aku belum menemukan wanita yang sepertimu. Bagaimana jika kau meninggalkan Felix Orlando dan..."
"Dan kabur denganmu? Itukah yang ingin kau katakan?" Bella menyela ucapan Justin. Sesekali matanya mengawasi sosok yang tidak jauh dari mereka. Ella membenamkan kepala di dada Glend, tawa wanita itu tidak pernah lepas sama sekali dari kedua sudut bibirnya. Entah apa yang sedang dikatakan Glend kepada wanita itu hingga Ella senantiasa memamerkan barisan giginya yang putih.
Bella tersentak. Tarian mereka berhenti sejenak. Keduanya saling mengunci tatapan masing-masing.
"Kutahu ini bukan urusanku, Bella. Tapi aku berani mengatakan seperti ini karena sudah menjadi saksi betapa hancurnya pria itu sejak kepergianmu dan karena kutahu kau di hatimu masih ada namanya."
"Cih! Sejak kapan kau jadi berubah menjadi cenayang."
"Sejak tadi. Kau mengawasinya terus. Akuilah Bella jika kau cemburu," Justin mengulum senyumnya begitu melihat pergerakan pupil wanita itu. Bella mungkin ahli dalam memanipulasi ekspresi. Tapi dengan tidak pergerakan pupil dan kedutan di bibirnya.
"Aku tidak mempunyai alasan kenapa aku harus cemburu."
"Alasannya karena kau masih mencintainya."
"Kurasa... " Bella menjeda ucapannya untuk menarik napas. "Kurasa, berdansa denganmu tidak menarik. Ck! Aku salah dalam mengambil keputusan."
Alih-alih tersinggung, Justin malah tertawa, "Glend berulang kali mencoba mengakhiri hidup. Beribu kali memohon kepada ayahmu dan juga mantan ayah mertuamu. Jika ada kata yang lebih buruk dari kata gila, tidak waras, maka kata itu lah yang lebih pantas disematkan padanya. Dia menjadi seorang pecandu hanya untuk bisa tidur walau sejenak. Aku dan yang lain terlalu baik hati hingga kami bertiga pun ketularan ketidak warasannya. Ia menghajar semua psikolognya karena menertawakannya di belakang. Ella datang, berjuang walau berulang kali celaka. Ia pantang menyerah hingga akhirnya ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Ella tergila-gila padanya. Aku kasihan padanya karena tidak sekali pun Glend menoleh kepadanya. Ella selalu menjadi penyelamat bagi kami setiap kami tersesat dalam keadaan mabuk. Jika kau bisa menerima pria lain, harusnya Glend bisa menerima Ella, bukan? Aku harap hati pria itu terketuk, karena yang kulihat, kau memang tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk memohon maaf. Katakan, Bella, apa kesalahannya yang paling fatal? Hanya karena ia berciuman dengan dengan Alice sebanyak dua kali? Lalu bagaimana denganmu? Kau juga berciuman dengan pria lain saat kau berstatus sebagai istrinya."