
Andreas sedang menghadiri rapat dan terlihat serius menyimak apa yang disampaikan kepadanya. Sesekali matanya melirik layar ponsel yang ia letakkan di atas meja. Titik merah yang ada di sana masih di tempat, di wilayah kampus. Kembali ia mengalihkan tatapannya pada rekan bisnisnya yang menjabarkan keuntungan jika Andreas bersedia bekerja sama untuk tambang minyak yang ada di Timur Tengah.
Sepuluh menit berlalu, ia kembali melirik ponselnya. Titik merah masih di tempat. Tawaran bisnis yang dikemukakan cukup menggiurkan dan menarik minatnya, tapi ia masih ingin melihat segigih apa rekannya tersebut meyakinkannya.
Sepuluh menit berikutnya ia lagi dan lagi melirik ponselnya. Dahinya mengernyit melihat titik merah itu mulai bergerak. Fokusnya mulai teralihkan saat memperhatikan titik tersebut keluar dari pelataran kampus.
"Ini akan memberi keuntungan besar kepada Merveille Corp dan juga Adam's Company.
Marveille Corp sendiri adalah perusahaan yang Andreas rintis sejak pertama kali ia terjun ke dunia bisnis. Ia merangkak dari nol tanpa bantuan Ayahnya dan memang ia tidak membutuhkan dukungan siapa pun. Justru ia sengaja bersaing untuk mengalahkan bisnis keluarganya.
"Aku akan menghubungimu dengan segera dan memberitahu keputusanku. Tapi sepertinya, sekarang aku harus pergi. Maafkan aku Mr. Attas."
Tanpa menunggu respon Attas, mengabaikan kebingungan semua yang ada di sana, Andreas segera meninggalkan ruangan. Titik merah di ponselnya terus bergerak menjauh dari lokasi kampus. Ya, yang sedang ia pantau adalah Bella. Saat gadis itu berada di apartemennya sibuk memasak, tanpa sepengetahuan Bella, Andreas mengambil ponsel gadis itu dan segera mengaktifkan pelacak dan sekarang, ia hanya berharap ponsel itu tetap menyala.
Di hari pertama bertemu dengan Bella, yang ada di dalam pikirannya bibir gadis itu begitu manis. Di kali kedua, pandangannya tentang Bella bertambah. Gadis yang menarik. Dan saat Bella mengantarnya ke apartemen, ia tahu jika Bella gadis yang baik. Ia tertarik? Mungkin.
Andreas terus mempercepat langkahnya menuju mobil tanpa melepaskan tatapannya dari layar ponselnya. Di mobil, ia segara melaju dengan cepat. Ia yakin ada yang tidak beres mengingat titik merah itu memasuki wilayah yang belum pernah Bella datangi selama dalam pengawasan Andreas.
____
Matteo tersenyum culas memandangi wajah Bella yang kini terbaring di atas ranjang hotel mewahnya. Ia akan bersenang-senang dan akan lebih menarik jika Bella dalam keadaan sadar. Tapi tanpa sepengetahuan Bella, Matteo sudah menanggalkan hoodie yang ia pasangkan ke tubuh Bella beberapa saat lalu. Kamera yang ada di depan ranjang juga sudah merekam aksi Matteo dan Bella seolah keduanya sedang memadu kasih. Matteo akan memanfaatkan hal itu untuk mengancam Bella.
"Kau sungguh akan bersenang-senang dengan Bella, Matt?" Julian Dowsen, orang yang bertugas mengambil foto mereka bertanya dengan penasaran. Sesekali mata nakalnya melirik tubuh Bella yang setengah telanjang. Begitu menggoda iman. Bella terlihat seperti putri Aurora dalam versi yang sangat seksi, feminim dan menggoda. Dan ia berharap menjadi pangeran yang bisa membangunkan Bella dengan ciuman.
Angan-angan yang keterlaluan memang mengingat ia tidak akan berani melawan Matteo dan poin pentingnya, mulutnya sudah dibungkam untuk diam. Lalu sekarang, apa yang harus ia lalukan? Ada rasa tidak tega melihat Bella yang akan dilecehkan oleh Matteo, tapi sisi brengseknya juga ingin turut serta mencicipi.
"Tentu saja. Selain untuk memberinya pelajaran juga untuk menjadikannya milikku. Dia sudah berani menolakku dan bersikap jual mahal. Dan melihat pria menjijikkan yang menciumnya tadi membuat harga diriku terluka. Wajah tampanku tak ada harganya. Gadis murahan ini berhasil mengelabuiku," Matteo duduk di tepi ranjang, jemarinya terulur mengusap wajah mulus Bella yang cantik. Jemarinya menjelajah di sekitar pipi Bella hingga berhenti di sudut bibir gadis itu. Matteo menunduk dan memberikan sapuan lidah di sana. "Hei gadis nakal, bangunlah!" Bisiknya dengan nada sensual kemudian ia pun memagut bibir itu kembali. Menyecapnya dengan rakus dan kasar.
Akhirnya, Bella menemukan kesadarannya. Merasakan serangan di mulutnya sontak membuatnya membuka mata. Ia terkejut melihat wajah yang terpampang di hadapannya. Terang saja Bella langsung memberontak.
"Apa yang kau lakukan, Brengsek?!" Serunya dengan nada kuat. Bella tidak bisa mendorong Matteo karena ternyata tangannya sudah diikat dengan menggunakan dasi.
"Menjauh dariku, Matteo! Aku akan melaporkanmu, aku bersumpah!" Panik mulai menyerangnya. Kehormatannya terancam. Bella merutuki kebodohannya yang percaya begitu saja kepada Matteo yang tadinya ia anggap sebagai penyelamat.
Matteo pun menjauh, bukan karena hardikan Bella yang membuatnya takut tetapi karena ia ingin menyaksikan wajah Bella yang sudah berhasil ia permalukan.
Pria itu menyeringai iblis, mengusap bibirnya dengan lidah, rasa manis bibir Bella masih terasa.
Tatapan nakal pria itu membuat Bella merasa jijik. Dilihatnya Matteo menyapu pandangan ke tubuhnya, ia pun mengikuti dan seketika maniknya membeliak ngeri. Ia dalam keadaan nyaris telanjang!
"Harus kuakui, kau sangat seksii. Sangat seksi, Bella. Bukan begitu, Julian?"
Bella memendarkan pandangan. Matanya beradu dengan Julian yang juga menyorotnya dengan tatapan penuh hasrat. Bella merasa malu. Lidahnya mendadak kelu, bibirnya bergetar dan matanya panas menahan air mata. Ini pelecehan! Dan dalam beberapa jam ini, ia sudah dilecehkan sebanyak dua kali.
"Saatnya bersenang-senang, Bella." Matteo naik ke atas ranjang. Jemarinya mulai mengusap betis Bella. Gadis itu spontan menarik kakinya. Matteo terkekeh, ditariknya lagi kaki Bella hingga terlentang.
"Kita hanya akan bersenang-senang, Bella." diusap pria kurang ajar itu paha Bella.
"Tolong jangan lakukan ini, Matteo. Aku mohon," Bella benar-benar takut jika Matteo benar-benar melakukan niat jahatnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memohon dan mengiba, berharap kemurahan hati pria itu.
"Mohon? Astaga, Bella, ini bukan sesuatu yang baru bagimu? Bukankah si buruk rupa itu juga sudah menggerayangi tubuhmu, Bella. Apa kau menjerit, Bella? Katakan padaku. Aku bahkan bisa membuatmu melayang dan terbuai." Matteo berkicau dengan ujaran-ujaran yang merendahkan membuat Bella semakin merasa terhina.
Daddy... Glend... bagaimana ini? Oh Tuhan...
"Julian, kau jangan khawatir kau akan mendapatkan giliran setelah aku." Matteo menyeringai dan mulai merangkak naik ke atas tubuh Bella, mulai mengendus dan mencium leher gadis itu.
"Aku bersumpah akan membuatmu menyesal!" Bella memalingkan wajah ke kiri ke kanan, tidak memberi akses sama sekali kepada Matteo untuk menyerang bibirnya.
"Jangan banyak bergerak, Bella. Kau justru semakin membuatku bergairah." Matteo menarik Bella hingga posisi tubuh Bella setengah duduk. Dijambaknya rambut gadis itu, membuat kepala Bella mendongak ke atas. "Gadis murahan sepertimu tidak usah bersikap munafik di hadapanku."
Bugh!
Bella menyundul kepala tepat mengenai hidung Matteo.
"Argghh, dasar gadis binal!" darah segar keluar bercucuran dari hidung Matteo. Pandangan pria itu berkunang-kunang atas serangan tidak terduga Bella.
Bella memanfaat kesempatan itu dengan menarik kakinya lalu menendang Matteo hingga jatuh ke bawah.
"Oh sial! Kau mau cari mati," Matteo berdiri, sementara Bella sudah turun dari ranjang dan bersiap untuk berlari. Ia abaikan rasa sakit di kedua tangan yang terikat.
"Tangkap jalaang itu, Julian!"
Julian bergerak maju dan menghadang jalan Bella yang sudah berada di depan pintu kamar.
"Berani menyentuhku akan membuat perhitungan denganmu, Julian. Aku tidak sedang mengancammu!" Bella menatapnya penuh kemarahan. "Menyingkirlah!"
"Tahan dia, Julian, atau kau yang kuhabisi." Matteo masing merasakan pening luar biasa di kepala, untuk itu ia perlu menenangkan diri sebelum memberi pelajaran kepada Bella. Pria itu memasuki toilet untuk membersihkan hidung yang penuh darah.
"Maafkan aku, Bella." Julian segera mengangkat tubuh Bella dan memanggulnya bagaikan karung beras. Bella memaki, mengeluarkan sumpah serapah yang ia tahu.
"Glend... Daddy.... Glend... atau siapa pun seseorang di luar sana, tolong aku!!!"
Ceklek.
Suara pintu dibuka dengan tenang. Bella mengangkat kepala dengan harapan besar di benaknya, semoga yang membuka pintu bukan komplotan dari Matteo.
Seketika ia mengembuskan napas lega ketika melihat wajah yang ia kenali. Tangisnya pecah detik itu juga.
Andreas dengan langkah tenang, mimik datar, memasuki ruangan. Julian berbalik hendak melarikan diri dengan bodohnya. Memangnya kemana ia hendak melarikan diri saat ia memasuki ruangan kamar lebih dalam.
"Kau baik-baik saja, Cinderella?"
Bella menggeleng, pria itu mengangguk faham sebagai respon.
"Jadi, Buddy, katakan kepadaku. Kau ingin menurunkannya atau aku yang akan mematahkan tanganmu." Andreas terus melangkah mendekat tanpa melepaskan sorot matanya yang tajam dari Julian. Tatapan penuh ancaman bagaikan singa lapar yang kelinci miliknya dicuri paksa.
Julian membatu di tempat. Kakinya tidak mampu bergerak. Ia tahu siapa pria itu, tentu saja. Pemilik baru universitas tempat mereka menuntut ilmu. Siapa namanya, ia kurang tahu.
Seperti terhipnotis, Julian berbalik menghadap Andreas. Ia menelan saliva saat tatapan Andreas terpaku pada tangannya yang berada tepat di bokong Bella.
Mengikuti nalurinya yang sedang merasakan bahaya, perlahan ia menurunkan tangan hingga berhenti di paha Bella. Lagi, ia menelan saliva yang mendadak alot saat melihat rahang pria itu mengeras ketat.
"Aku tidak akan mengulangi peringatanku," Andreas mengitari tubuh Julian. Kini ia berdiri tepat di belakang pria itu, di hadapan Bella.
Andreas mengulurkan tangan, menyingkirkan rambut Bella yang menjuntai ke bawah menutupi wajah. Gadis itu masih menangis dengan bibir gemetar pucat.
Dibelainya wajah Bella dan diusapnya air mata gadis itu. "Aku di sini. Jangan takut, jangan menangis," ucapnya dengan nada lembut sembari membebaskan tangan Bella dari dasi yang mengikatnya.
Detik itu juga Bella melaungkan tangisannya.