
"Selamat sore, akhirnya aku menemukanmu," Ella menarik napas lega setalah berhasil mendaki bangunan yang setengah jadi dengan menaiki tangga. Selama delapan bulan, Ella selalu mengejar pria itu untuk memberikan terapi. Glend selalu menghindarinya dengan lebih banyak menyibukkan diri di luar. Kali ini, Glend terjun ke lapangan untuk memeriksa langsung pembangunan mall yang akan ia dibuka tahun depan.
"Ini sudah jam 4 sore jika kau lupa." Glend mengerang kesal. Wanita itu pantang menyerah meski Glend berulang kali hampir mencelakainya. Pernah satu waktu, Ella harus dilarikan ke rumah sakit karena harus menghalangi Glend membenturkan kepala ke dinding. Wajahnya lah yang menjadi sasaran hingga hidungnya patah dan mengeluarkan banyak darah. Tapi sejak kejadian itu, Glend mulai membuka diri kepadanya.
"Aku milikmu selama 24 jam," Ella menarik kursi kayu yang sedikit kotor. Wanita itu segera mengeluarkan catatannya seperti biasa.
"Di sini panas, Ms.Collin."
"Tidak masalah jika kau nyaman di sini." Pungkas wanita itu, tidak membiarkan Glend mencari celah untuk menghindari pengobatan.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Masih kesepian," Glend akhirnya duduk di hadapan wanita itu. "Apa yang kau tulis? Angka 3?"
"Poin atas jawabanmu. Bagaimana pendapatmu tentang dirimu?"
"Diriku? Hm, bersikap dingin."
"Ya, kau memang sangat dingin. Tidak menarik." Ella menimpali sembari memberikan nilai atas jawaban tersebut. 3 poin untuk jawaban tersebut.
"Bagaimana sikapmu terhadap keluarga? Biasa saja, pendiam, tidak tahu?"
"Biasa saja."
"Kau sering berkumpul, menghabiskan waktu bersama temanmu?"
"Ya, hanya bersama teman. Justin, Bill dan Alex."
"Dua poin untuk ini."
"Dua poin," sahut Ella. "Kutipan mana yang kamu pilih? Hidup itu membosankan, teman sejati selalu ada di masa sulit, hidup itu seperti permen karet, atau hidup itu indah?"
"Hidup itu seperti permen karet. Manisnya hanya sekejap."
Ella terkekeh mendengar jawaban pria itu. "Apa kau sudah bisa mengendalikan emosimu?"
"Tergantung situasi."
"Empat poin untuk jawabanmu. Apa yang kamu lakukan di waktu luang? Berpikir banyak hal, menonton film, mendengarkan musik atau memilih mengobrol bersama temanmu?"
"Memikirkan banyak hal."
"Mana yang jadi keinginanmu? Hidup bahagia, jadi manusia yang lebih baik, berhenti khawatir atau ingin bersenang-senang?"
"Berhenti merasa was was dan mengkhawatirkan yang tidak penting."
"Pertanyaan terakhir, bagaimana kau menjalani kehidupanmu?"
"Aku tidak peduli."
Ella menghela napas panjang, "Mari kita hitung hasilnya dan lihat sejauh apa perkembanganmu. Apa kau masih sering memimpikan saudaramu, Andreas? Atau mungkin memimpikan saat ayahmu memukulmu? Atau mungkin tentang Alice yang sudah mengkhianatimu?" Ya, selain mengadakan wawancara seperti ini, Ella juga menggunakan terapi hipnotis. Saat di bawah pengaruh hipnotis, Glend menyuarakan semua kegundahannya. Rasa kecewanya terhadap orang-orang di sekitarnya yang pernah ia anggap begitu penting dalam hidupnya. Pria itu menangis menyuarakan rasa kecewa yang begitu mendalam.
"Satu bulan ini aku tidak bermimpi tentang mereka lagi, tapi aku memimpikan Bella," Glend menunduk menyembunyikan perasaannya.
Ella yang sedang menghitung poin jawaban pria itu seketika menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, menatap pria itu. Delapan bulan bertemu dengan intens, nama Bella sangat jarang disebut. Hanya terhitung jari. Ella tidak berani bertanya lebih lanjut karena pada terakhir kali ia mengulik tentang wanita itu, Ella berakhir di rumah sakit.