
Semuanya sudah duduk di meja makan. Sudah satu bulan, Rose menjalan perannya sebagai ibu rumah tangga yang baik. Sementara Bella tidak perlu repot bangun pagi-pagi lagi untuk terjun ke dapur hanya untuk sekedar membuat sarapan untuk Rose dan Lizzie. Jika diingat-ingat olehnya, ayahnya jarang bergabung dengan mereka di meja makan seperti ini. Tapi akhir-akhir ini, Harry selalu ikut serta, tidak pernah absen sama sekali. Apakah karena mereka kedatangan tamu atau ada alasan lain? Bella tidak tahu apa alasannya, yang pasti ia senang bisa menikmati makan bersama ayahnya di meja yang sama.
Sharon datang membawa kopi untuk Harry dan Glend. Mengenai Sharon, Rose tidak keberatan wanita itu tinggal bersama mereka dengan begitu Sharon bisa membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Tepatnya wanita itu yang mengerjakan semua sedangkan Rose tinggal mengawasi.
"Kopimu, Mr.Vasquez." Sharon meletakkan cangkir kopi tersebut di hadapan Glend.
"Terima kasih, Sharon," Glend memindahkan kopinya ke sisi kirinya. "Aku yakin kopi buatanmu sangat enak, bukan begitu, Ayah mertua?" Glend melemparkan tatapan geli secara terang-terangan kepada Harry.
"Nikmati saja kopimu dengan tenang, Vasquez. Siapa tahu kau mendapat pencerahan untuk apa yang kau lakukan tadi malam," Harry tidak terusik sama sekali dengan tatapan Glend yang sengaja untuk menggodanya dan Sharon.
"Yang kulakukan?" Glend tertawa renyah. "Benarkah hanya yang kulakukan, Sharon?" Tidak berhasil menggoda Harry, Glend beralih kepada Sharon. Sungguh ia bertanya-tanya kenapa ada affair di rumah ini. Dari cerita yang ia dengar dari Bella bahwa istrinya itu memilih diam dengan semua perlakuan Rose dan Lizzie hanya demi ayahnya. Yang ia tangkap dari cerita Bella, Harry tidak ingin mengalami lagi apa itu kehilangan. Tapi jika Harry sendiri yang berbuat curang di belakang Rose, bukankah artinya Harry sendiri yang mengundang perkara. Perselingkuhan adalah sesuatu yang fatal di dalam rumah tangga. Hal yang sangat sulit untuk dimaafkan.
Namun, satu bulan di sini, Glend memperhatikan semuanya. Interaksi antara Harry dan Rose sendiri tidak begitu hangat. Keduanya juga tampak kikuk, jelas sekali ada jarak pembatas. Ada yang salah di dalam pernikahan mereka. Apakah pernikahan ini sesungguhnya bukan sesuatu yang diinginkan Harry? Jika demikian Harry dan Bella terjebak di dalam pemikiran mereka masing-masing. Bella diam untuk Harry dan Harry bertahan untuk Bella. Ck! Situasi macam apa ini?
Sharon hanya tersenyum canggung menanggapi pertanyaan Glend. Semoga saja tidak ada yang menyadari wajahnya yang bersemu merah.
"Memangnya apa yang kau lakukan tadi malam?" Bella yang duduk di sisi kanannya bertanya. "Apa yang kulewatkan?"
"Sesuatu yang panas dan mendebarkan," Glend tersenyum penuh arti. "Sayang sekali kau tidak melihatnya. Ibu tiri mungkin melihatnya. Apa kau melihat sesuatu tadi malam, Ibu tiri?" Glend mengalihkan tatapannya pada Rose yang dari tadi memilih diam menikmati sarapannya.
"Apa yang perlu kulihat?" sahutnya ketus tanpa mengalihkan tatapan dari piring di hadapannya.
Glend tergelak, "Astaga, kau dingin sekali," Glend mengulurkan tangan untuk menjangkau buah, tanpa sengaja sikunya menyenggol cangkir kopi miliknya hingga isinya tumpah.
"Astaga!" Lizzie memekik kaget, selain tangannya roknya juga terkena tumpahan air kopi. "Kau sengaja melakukannya, hah?" Lizzie menyorot Glend dengan tatapan horor.
"Pelankan suaramu. Kau hampir membuat gendang telingaku pecah," Glend mengorek kupingnya. "Kita tidak sedang berada di hutan." Wajah pria itu tampak kesal.
"Tidak usah berlebihan, Lizzie. Kopinya juga sudah dingin, tidak akan sampai membuat kulitmu melepuh. Masalah bajumu, aku akan mencucinya nanti."
"Mencuci katamu?!" Lizzie segera berdiri, menatap Bella dengan berang. "Apa kau tahu berapa harga rok yang kukenakan ini? Nodanya tidak akan hilang hanya karena kau mencucinya."
"Lizzie, pelankan suaramu. Kau bereaksi terlalu berlebihan," Rose menarik tangan Lizzie agar segera kembali duduk ke tempatnya.
Lizzie menghempaskan tangan ibunya dengan sedikit kasar. "Apa kau tidak melihat apa yang suami monsternya itu lakukan terhadap pakaianku, Mom? Si buruk rupa ini pasti sengaja melakukannya untuk membalas apa yang sudah kulakukan kepada istri sialannya itu." Keburukan Lizzie jika sedang mengamuk, tidak akan mampu mengendalikan dirinya, tidak peduli tempat dan situasi, wanita itu akan meluapkan emosinya detik itu juga.
"Ck! Aku merasa tidak ada harganya di sini. Hei, saudari tiri, jika wajah buruk rupaku ini tidak bisa membuatmu takut, apakah kedudukanku sebagai atasan ayahmu tidak bisa membuatmu sungkan dan segan kepadaku. Ayahmu terlihat shock melihat kemarahanmu."
Lizzie sontak menyadari di mana ia saat ini berada. Ia menolehkan ke arah Harry, menemukan pria itu menautkan kedua alis. Menyorot dengan tatapan tajam. "Apa ini, Lizzie? Apa kau baru saja mengatakan Bella sebagai istri sialan?"
"Da-Dad..."
Harry mengangkat sebelah tangan memberi isyarat agar Lizzie tidak membuka mulut lagi.
"Minta maaflah kepada Bella dan suaminya, Lizzie. Reaksimu tadi berlebihan dan sangat kasar," Rose menasehati. Sikap bijaknya itu tentunya hanya sekedar pura-pura untuk menutupi kebusukannya di hadapan Harry.
"Bella, maafkan aku," dengan terpaksa Lizzie meminta maaf meski ia merasa lidahnya terbakar. Ia bersumpah akan memberi pelajaran pada wanita itu. "Aku akan mengganti pakaianku," Lizzie berlalu pergi.
___
"Mau sampai kapan kita di sini? Tidakkah sebaiknya kita pulang ke rumah?" Bella duduk di atas pangkuan Glend sembari memasangkan dasi pria itu. Hari ini, Glend akan menghadiri rapat direksi yang diingat Justin tepat satu bulan yang lalu.
"Kau tidak betah di sini?"
Bella mengangguk, "Rose dan Lizzie selalu memandangmu rendah. Aku tidak menyukainya. Itu membuatku marah. Dan aku tidak ingin membuat keributan di hadapan ayahku."
Glend mendaratkan satu kecupan hangat di kening istrinya, dibelainya wajah Bella dengan lembut. "Apa kau yakin Ayahmu mencintai Ibu tirimu, Sayang?"
"Kenapa kau bertanya begitu?" Bella mengernyit bingung. Ia tidak pernah memikirkan hal itu.
"Aku merasa hubungan mereka tidak hangat sama sekali."
Bella semakin menautkan kedua alisnya. Mencoba memutar memorinya tentang hubungan ayahnya dan Rose. "Aku memang tidak pernah menyaksikan atau melihat mereka duduk bersama menghabiskan waktu," Bella bergumam.
Ketukan di pintu menghentikan perbincangan mereka. Bill masuk pertanda bahwa sudah saatnya mereka pergi.
"Apa kau yakin tidak ingin ikut denganku?" Glend memastikan untuk kesekian kalinya. Rose dan Lizzie memang tidak ada di rumah tapi tetap saja Glend tidak rela meninggalkan Bella di rumah ini.
"Aku dan Sharon akan pergi membeli keperluan Polly. Esok hari, Polly mulai masuk sekolah. Aku akan menghubungimu begitu kami sudah selesai. Kau mungkin sempat menjemput kami."
"Baiklah, hubungi aku jika terjadi apa-apa." Glend memiringkan kepala, mengecup singkat sudut bibir Bella.
_____
"Baiklah, Mr. Kingston, semoga kerja sama ini berjalan lancar bagaimana semestinya."
Harry mengangguk seraya mengulurkan sebelah tangan. Harry dan rekannya pun berjabat tangan.
Rekannya tersebut menganggukkan kepala, saling melempar senyum dengan Rudolf.
Pertemuan ini tidak ada di dalam agendanya sama sekali. Kontrak kerja sama ini juga tidak pernah ia tahu sebelumnya. Selama ini, dirinya lah yang menangani hal seperti ini. Mempelajari kontrak yang ditawarkan lalu melaporkannya kepada Bill apakah Glend bersedia untuk melakukan kerja sama atau tidak.
Glend tiba-tiba menghubunginya dan meminta untuk menghadiri pertemuan mendadak tersebut. Ada yang aneh menurutnya. Baik dari kontrak kerja atau pun hal lainnya. Harry menyanggupi hal tersebut karena ia pun membuktikan kecurigaannya selama ini. Apakah Rudolf yang melakukan pencucian uang yang dituduhkan kepadanya beberapa bulan yang lalu.
Rudolf adalah orang kepercayaannya, sekretaris yang sudah bekerja dengannya selama 10 tahun lamanya. Pria itu juga lah yang mengelola keuangan selama ini. Satu bulan terakhir ini, Harry menaruh curiga kepadanya, hanya saja ia belum mendapatkan bukti yang cukup. Tapi Harry yakin jika Rudolf terlibat dalam hal ini.
Di lain tempat, Glend juga baru selesai menghadiri rapat direksi bersama Justin dan Bill. Rapat para pemegang saham beserta jajarannya mengenai tentang siapa yang akan menjadi pemimpin rumah sakit tempat Justin bertugas. Suara akhirnya dimenangkan oleh pria itu. Selesai menghadiri rapat, ketiga pria itu singgah di restoran yang dikelola Alex. Glend tanpa penyamarannya.
"Kudengar kau melakukan tes DNA ulang terhadap Stacy?" Justin memulai pembicaraan begitu Alex ikut bergabung dengan mereka. "Ini untuk kemenanganku?" Justin menunjuk lobster besar yang disajikan di hadapannya.
Alex mengangguk, "Selamat untukmu, Dude." Pria itu mengangkat gelasnya yang disusul oleh Glend dan yang lain.
"Harusnya kau melakukannya sejak dulu," Alex mengembalikan topik pembicaraan ke awal. "Untuk apa kita memiliki sahabat seorang dokter jika selama ini kau bersama keluargamu berhasil dibodohi oleh Alice."
"Bagaimana aku sempat melakukannya sedangkan aku butuh perawatan satu tahun agar bisa berjalan kembali. Ibuku meninggal begitu juga dengan Andreas."
"Kenapa Alice melakukan hal itu? Jika dia meninggalkanmu demi Andreas harusnya dia menutup rapat hubunganmu dengannya selamanya." Justin menimpali. Mereka menjadi saksi betapa manis dan mesranya hubungan Glend dan Alice. Keduanya memang melakukan backstreet, sehingga tidak ada yang tahu tentang hubungan mereka kecuali ketiga sahabatnya.
Alice lah yang meminta hubungan ini disembunyikan entah untuk alasan apa. Glend yang sudah terlanjur cinta setengah hidup selalu memenuhi ingin wanita itu.
"Alice terlihat sama terkejutnya dengan Glend saat membaca hasil tes DNA. Kurasa Alice juga tidak mengetahui hal ini," Bill yang dari tadi diam membuka suara. Justin dan Alex mengernyit bingung mendengar hal itu.
"Biar kuluruskan, maksudmu Alice juga menduga jika selama ini Glend adalah ayah biologis Stacy? Ini bukan akal bulusnya untuk menghancurkan Glend dan juga Andreas?"
Bill mengangguk.
"Sampai sekarang aku juga masih bertanya-tanya kenapa Alice bisa memilih menikah dengan Andreas disaat hubungannya dengan Glend baik-baik saja."
Glend mengusap wajahnya mendengar penuturan Justin. Baginya itu juga masih misteri. Selama pernikahan Alice dan Andreas berjalan, selama itu pula Alice berusaha membujuknya. Glend yang tidak bisa menolak perasaannya, lambat laun luluh juga. Sesekali ia dan Alice masih bertemu secara sembunyi-sembunyi. Sebrengsek itu lah dirinya. Mengkhianati saudaranya sendiri. Hingga akhirnya petaka itu terjadi. Andreas mengetahui apa yang ia lakukan bersama Alice.
"Bryson Dixton mencium hubunganku dengan Alice. Andreas sudah lama menyukai Alice, hal itu kuketahui saat lamaran mereka terhadap Alice. Andreas yang mengatakannya langsung kepadaku. Bryson selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Andreas, putra kesayangannya," Glend tersenyum getir. Selama hidupnya, ia tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Bryson. Sangat jelas perbedaan keduanya, antara dirinya dan juga Andreas.
"Jadi maksudmu ini ulah ayahmu?" Alex bertanya.
"Ck! Pria itu bukan ayahku." Glend menolak hubungan darah diantara mereka. Mengingat ayahnya, emosinya selalu membuncah. "Saat seperti ini aku merindukan sentuhan Bella."
"Ucapanmu sepertinya terkabul, Dude." Justin melambaikan sebelah tangannya begitu melihat Bella bersama Sharon dan Polly memasuki pintu utama restoran.
"Kenapa kau memanggilnya, Bodoh! Apa kau memang berniat membongkar penyamaranku," Glend yang memang duduk membelakangi pintu utama segera melepaskan jas dan dasinya lalu memberikannya kepada Alex. "Sembunyikan benda itu. Aku bersumpah akan membunuhmu, Justin!"
"Maaf, Dude, aku melupakan hal itu." Tukas pria itu dengan enteng. "Kendalikan dirimu, dia sudah dekat. Hai, Bella, kau di sini?" Justin segera berdiri untuk menyambut wanita itu.
"Hm, di mana suamiku?" Bella bertanya to the point, menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di sana.
"Ada aku di sini, duduklah, mungkin sebentar lagi Glend akan tiba," Justin menarik kursi di sebelah Glend. Sengaja Justin lakukan untuk mempersulit Glend yang wajahnya sudah pucat pasi. Memilih bergeming di tempat tanpa berani menoleh ke arah Bella.
Bella menggeleng, "Kami akan mencari meja yang lain. Tapi omong-omong di mana, suamiku, Bill? Jika kau di sini, dia pergi bersama siapa?"
"Hah? Oh? Glend? Kemana dia tadi?" Dengan konyolnya Bill celingukan ke sana kemari lalu bahkan menunduk ke kolong meja mencari keberadaan pria yang jelas ada di depannya dalam wujud asli. Bella tidak kalah konyolnya, dia pun ikut berjongkok untuk melihat ke bawah kolong meja.
"Apa yang kau cari di sini?" Bella mengernyit bingung dan menyadari kebodohannya.
"Kupikir dia jatuh," sahut pria itu ngasal.
Bella mencibik, segera berdiri, "Auchh..." Kepalanya membentur meja.
"Hati-hati, Bella." Glend sontak berdiri, membantu Bella berdiri lalu mengusap kepala istrinya yang terbentur meja.
"Kau!" Bella menepis tangan pria itu dengan kasar. "Kenapa kau ada di sini?"
Bella mengenal jelas sosok pria yang ada di hadapannya. Pria rupawan yang mencuri ciuman pertamanya. Pria yang sama dengan yang menyelamatkannya saat Matteo hendak melecehkannya. Juga pria yang membantunya mengganti pakaian Lizzie yang tidak sengaja ia rusak. Andreas. Ya, Andreas adalah Glend.
Glen berdehem, "Kenapa aku tidak boleh di sini? Ini tempat umum, Bella. Kepalamu sakit?"
"Kau mengenalnya?" Bella bertanya kepada Justin, mengabaikan pertanyaan Glend yang ia anggap sebagai Andreas.
Justin mengangguk, "Ya, teman juga rekan bisnis."
"Glend mengenalnya?" Kali ini Bella menoleh ke arah Bill dan Alex.
"Tentu saja," jawab keduanya kompak namun dengan wajah tegang.
"Jadi kau mengenal suamiku?" Bella menatap Andreas dengan sengit. "Dan kau sengaja mempermainkanku? Merayuku disaat kau tahu aku sudah menikah? heh? Ada dendam apa kau pada suamiku?"
"Aku hanya cemburu kepadanya, kenapa dia memiliki istri yang begitu cantik," sahut Andreas dengan enteng.
"Pria murahan." Bella berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Permisi!" Bella menatap keempat pria itu secara bergilir dengan tajam lalu menarik Polly pergi dari sana disusul oleh Sharon di belakangnya.