
Apakah ini semacam tempat persembunyian?" Bella menengadah ke atas, langit malam ditaburi bintang dan bulan. "Indah tapi sulit untuk digapai."
"Itukah yang kau rasakan sekarang terhadap suamimu?" tebak Alex. Bella menoleh cepat, menemukan tatapan prihatin dari pria itu.
"Aku sedang membicarakan langit yang bertabur bintang, Alex, bukan Glend." Bella menyangkal pertanyaan yang menjurus ke pernyataan tersebut.
Mereka sedang berada di rooftop, beberapa saat lalu Alex mengetuk pintu kamarnya lalu membawanya kemari secara sembunyi-sembunyi. Glend sendiri sedang berada di kamar ibu suri.
Alex tersenyum, "Kutahu kau wanita yang kuat, jika kau sudah memilih jalan ini, kuharap kau menyelesaikannya sampai tuntas." Alex memberi semangat dan dukungan kepada wanita itu tetapi wajah pria itu tampak muram, seperti ada beban berat yang mengganjal di hatinya.
"Aku hanya bisa memberimu semangat, tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu. Aku hanya ingin kau dan Glend hidup bahagia."
"Banyak yang bisa kau lakukan. Termasuk tidak membiarkanku menderita kelaparan," Bella menunjuk beberapa menu makanan yang berhasil pria itu selundupkan untuk Bella. Mereka berdua seperti sedang piknik di tengah malam, menggelar kain di sana yang diisi dengan berbagai makanan, buah dan coke."
"Ya, aku tidak akan pernah membuatmu merasa kelaparan. Glend pernah mengatakan bahwa kau sudah terlalu sering kelaparan."
"Apakah Glend selalu menceritakan apa yang sudah kami lewati?"
Alex mengangguk, tidak ada yang dilewatkan sama sekali. Setiap ada kesempatan, pria itu selalu membawa Bella dalam pembahasan mereka. Entah itu hal-hal intim atau pun hal konyol yang membuat mereka terbahak. Alex jelas masih ingat saat pria itu membeberkan acara malam pertama yang mereka lalui di Sisilia. Manik Glend saat itu berkaca-kaca saat mengumumkan bagaimana Bella datang kepadanya menyerahkan diri.
"Setiap kesempatan. Dia sangat tergila-gila padamu."
Bella tersenyum lebar, tidak dipungkiri jika ia sangat senang mendengar hal ini. "Tapi tidak dengan sekarang. Apakah aku bisa membuatnya tergila-gila lagi kepadaku?"
"Ini hanya sementara, Glend pasti akan kembali kepadamu." Alex mencoba meyakinkan. Tidak hanya kepada Bella tapi juga kepada dirinya sendiri. Ia tidak ingin Glend kelak akan menyesal di mana pada akhirnya Bella harus merasakan apa yang dirasakan oleh mendiang ibunya dulu.
"Kau terlihat muram, apa kau memiliki masalah?"
"Akan selalu ada masalah selama tinggal di dalam istana, Bella." Pria itu bergumam tidak jelas.
"Maksudmu?"
"Jangan mempercayai siapa pun di sini. Termasuk aku," Alex tersenyum getir, lalu menyembunyikan wajahnya yang muram dengan cara menundukkan kepala.
"A-apa maksudmu?"
Alex menarik napas panjang sebelum ia mengangkat kepalanya kembali. "Anndora negara yang aman, sangat aman. Memang itulah yang dirasakan penduduk di sini. Tapi Istana menyembunyikan sejuta intrik dan juga kekejaman, Bella. Yang tinggal di dalam istana dipaksa bungkam jika tidak akan menjadi petaka untukmu. Kau dipaksa berkhianat meski naluri menolaknya."
"Lalu katakan padaku siapa yang kau khianati?"
Alex terkesiap, lalu detik selanjutnya ia terkekeh. "Benar apa yang dikatakan suamimu, kau polos dan lugu tapi terkadang sangat ahli membaca situasi. Sudah waktunya kembali ke kamarmu, Princess."
"Kau mengalihkan pembicaraan, tapi omong-omong di mana Bill dan Justin?"
"Mereka mendapat hukuman. Terjun ke lapangan mengurus aset kerajaan."
"Kau tidak dihukum?"
"Ayahku sedang sakit, tidak ada yang mengawasi pelayan dalam menyiapkan makanan, aku bertugas menggantikannya."
"Jadi ayahmu tinggal di sini juga?"
"Ya. Kuberi satu rahasia. Istana hanya dihuni penduduk asli Anndora. Begitu pun dengan pemimpin dan pasangannya."
Bella mengernyit bingung, mencoba mengartikan apa maksud di balik pernyataan pria itu. Oke, ia akan mengingat hal ini.
"Ayo, saatnya kau kembali ke kamarmu." Alex berdiri lalu mengulurkan tangan untuk membantu Bella berdiri. Saat mereka hendak berbalik, mereka terkejut dengan bayangan seseorang yang berlari meninggalkan tempat tersebut.
Alex mengejar untuk memeriksa, tapi pria itu kehilangan jejak.
"Ingat yang kukatakan, Bella. Jangan percaya pada siapa pun."
Bella mengangguk memberikan respon.