La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Siapa Yang Kau Inginkan?



Sudah satu minggu sejak kejadian di Sisilia. Sejak itu pula Bella dan Glend tidak pernah lagi berkomunikasi.


Hari itu Bella langsung terbang ke rumah ayahnya. Menyibukkan diri dengan semua perintah Rose dan Lizzie nyatanya tidak berhasil membuat pikirannya teralihkan dari bayang-bayang Glend di benaknya.


Kenapa begitu sulit mengenyahkan pria itu dari pikirannya? Apa hebatnya si pria buruk rupa itu? Kenapa jadi seperti ini?


Brak!


Bella berjengket kaget, ia menoleh, Lizzie masuk dengan tampangnya yang sangar. Apa lagi kesalahanku? Bella membatin. Akhir-akhir ini Lizzie selalu meneriakinya karena pekerjaannya yang tidak becus, fokusnya bercabang entah kemana.


"Apa yang kau lakukan kepada gaun kesayanganku, Bella?! Kau sengaja merusak warnanya, hah?" Lizzie melemparkan gaun tersebut ke wajah Bella.


Bella melihat gaun berwarna merah muda itu dipenuhi bercak yang terlihat seperti noda yang tidak bisa dibersihkan.


"Aku akan menggantinya," ucapnya tenang.


"Mengganti katamu? Apa kau tahu jika itu adalah dress yang dikenakan Gigi Hadid di ajang fashion week tahun lalu. Kau kira kau bisa menggantinya? Ini limited edition! Pria kaya yang cacat itu pun tidak akan sanggup membeli ini kembali. Akh ya, omong-omong soal pria yang memeliharamu itu, ada apa dengannya? Kau dibuang olehnya? Istri tuanya tahu jika kau ada simpanan? Astaga, Bella yang malang. Kau memang selalu menjadi benalu, Bella. Pria cacat sekalipun enggan untuk mempertahankanmu. Tapi tidak masalah, setidaknya di sini kau berguna untuk menjadi babu."


Bella hanya diam mendengarkan ocehan dan hinaan Lizzie. Hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga jika ia terpancing amarah. Emosinya sedang tidak stabil, tidurnya tidak pernah nyenyak sejak kejadian satu minggu lalu.


"Karena kau mengatakan akan mengganti bajuku, baiklah, aku memberimu waktu dua hari. Aku ingin melihat kehebatan seorang wanita simpanan sepertimu." Lizzie pun berbalik, keluar meninggalkan Bella.


Bella menghela napas, dipandanginya gaun itu dengan tatapan nanar. Jika memang benar dress yang ada di dalam genggamannya adalah limited edition, akan sulit untuk mendapatkannya.


Brak!


Pintu kembali terbuka. Tidak bisakah mereka membuka pintu secara perlahan?


"Buatkan juice untukku. Sekarang. Apa saja yang kau lakukan di sini? Sampah menggunung dan yang kau lakukan hanya berkurung di kamar disaat banyak pekerjaan yang menantimu


"Aku akan membuat juice dan juga membuang sampahnya." Bella meletakkan dress milik Lizzie di atas ranjang, segera keluar dari kamar.


___


"Bella!!"


Oh betapa Bella merindukan lengkingan suara itu. Bella berbalik dan langsung disambar pelukan dari Polly.


"Kau kemana saja? Kami kehilangan dirimu. Lizzie mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu dan aku melemparnya dengan ice cream yang belum sempat kunikmati."


"Ouch, ice cream yang malang," Bella membalas pelukan bocah kecil itu. Diusapnya kepala Polly dengan kasih sayang. "Aku akan menggantinya kalau begitu? Ice creammu?"


"Kau memang yang terbaik, Bella. Aku ingin dua." Polly menunjuk jarinya sebanyak empat.


Bella terkekeh seraya menggeleng. "Dua, oke."


"Oke!"


Sambil bergandeng tangan, Bella dan Polly berjalan menuju mini market terdekat.


"Kau tidak membuang sampah itu juga, Bella?" Polly menunjuk paper bag yang ada di dalam genggaman Bella.


"Ini baju milik Lizzie yang tidak sengaja kurusak. Aku akan mencari gantinya." Bella menghela napas panjang. Jika ingin mendapatkan barang yang sama persis, Bella seharusnya mendatangi desainernya langsung sementara Bella bukan wanita yang begitu menggilai fashion. Ia tidak memiliki kenalan yang bisa membawanya ke salah satu desainer ternama. Ini tugas yang begitu berat.


Di mana teman-temanmu? Mei Mei, Lionel, dan Messi?" Bella mengalihkan beban pikirannya untuk sesaat. Bermain dengan Polly dan teman-temannya akan membuat hatinya sedikit tenang. Tidak hanya merindukan Polly, ia juga merindukan yang lainnya.


"Entahlah. Mei Mei sedang merajuk kepadaku." Bibir bocah itu mengerucut lima senti menunjukkan moodnya memburuk.


"Merajuk? Kau melakukan kesalahan?"


"Entahlah. Lionel mengatakan ia menyukaiku. Dan apa kau tahu jika Mei Mei menyukai Lionel?"


Bella membeliak kaget. Bagaimana tidak terkejut. Di usianya sekarang, ia bahkan belum pernah jatuh cinta dan sekarang ia dihadapkan pada bocah yang mangalami masalah tentang perasaan.


"Sejak itu Mei Mei tidak mau bermain denganku? Apakah aku salah, Bella?"


"Masalah perasaan sangat rumit, Polly. Sesungguhnya aku juga sedang dilema... Arggghh!!" Ia dan Polly kompak berjengket kaget. Sebuah mobil melaju dengan cepat dan hampir menabrak mereka.


"Brengsek! Apa kau tidak punya mata, sialan! Eh, mobilnya berhenti, Polly."


"Ya, kita akan meminta ganti rugi. Ayo, Bella." Polly menarik tangan Bella untuk menghampiri mobil tersebut.


Bella dan Polly berdiri di depan sebuah mobil mobil sport berwarna hitam. Perlahan pintu mobil tersebut terangkat ke atas.


"Kau!!"


"Ya, aku." Andreas tersenyum lebar. "Aku merindukanmu."


"Heh?" Bella memutar bola matanya. "Jangan mengatakan hal konyol di hadapan seorang anak kecil."


Andreas menurunkan tatapannya pada bocah di hadapannya.


"Hai," sapa Andreas sembari memamerkan senyum terbaiknya. "Kau temannya kekasihku?"


"Kekasih? Kau sungguh kekasih Bella?" Polly memekik tidak percaya. "Benarkah Bella?" Polly mendongak menatap Bella meminta jawaban.


"Tidak. Dia hanya bicara omong kosong."


Polly menarik napas panjang, terlihat kecewa dengan jawaban Bella.


"Ck! Kau membuat temanmu kecewa, Bella."


Bella mendelik kesal, "Pergilah, aku sedang tidak berselera meladenimu."


"Apa kau sedang datang bulan?" Andreas mengulum senyumnya melihat wajah Bella yang ditekuk. "Kau sensitif sekali." Dipandanginya Bella dari atas ke bawah dengan intens. Bella sedikit lebih kurus dari yang ada di dalam ingatannya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Pun wajah Bella tampak sedikit pucat.


"Ck! Mulutmu pedas sekali." Andreas geleng-geleng kepala. "Benarkah wajahku tampak menyebalkan, little girl?" Andreas meminta pendapat Polly seraya menerbitkan senyum terbaiknya untuk memenangkan bocah cilik itu.


"Kau menawan, Uncle. Tadinya kupikir kau memang kekasih Bella. Aku sudah tidak sabar untuk mengatakannya kepada Lizzie bahwa Bella memiliki seorang kekasih yang rupawan, bukan simpanan pria jelek buruk rupa." Polly berceloteh panjang lebar. "Sayangnya kau berbohong." Polly mendesah malas. "Aku sudah senang Bella berhasil meraih mimpinya. Memiliki pangeran yang rupawan seperti Cinderella. Aku tidak rela jika Bella harus menjadi simpanan pria buruk rupa."


"Pria buruk rupa?" Andreas melirik ke arah Bella. Bella bergeming tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


"Ya, itu lah yang dikatakan Lizzie. Gadis itu memang menyebalkan. Selalu menyiksa Bella."


"Polly, hentikan. Sebaiknya kita pergi." Bella menarik tangan Polly agar segera beranjak dari hadapan pria itu. Tidak ada gunanya meladeni Andreas, itu hanya membuang-buang waktunya saja.


"Kalian mau kemana?"


"Mini market. Membeli ice cream. Itulah yang dikatakan Bella." Polly lah yang menjawab karena Bella sudah malas untuk berbicara dengan pria itu.


"Bagaimana jika kau pergi sendiri, gadis cantik. Aku dan Bella masih ada urusan. Kau bisa membeli sebanyak yang kau mau." Andreas mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. Layaknya perempuan pada umumnya, disodorin yang begitu banyak, manik Polly berbinar seketika.


"Ini sungguh untukku? Aku boleh membeli ice cream dengan uang ini? Mei Mei mungkin akan memaafkanku jika aku memberinya ice cream kesukaannya. Vanilla dan cokelat."


Andreas mengangguk meski ia tidak tahu siapa itu Mei Mei. "Ya, pergilah beli ice cream yang banyak. Berikan pada Mei Mei. Kau dan Mei Mei akan kembali berteman."


"Terima kasih, Uncle. Kuharap kau dan Bella bisa benar-benar menjadi kekasih."


Mendengar hal itu Bella hanya menggelengkan kepala sementara Andreas tersenyum sumringah.


"Harapan yang sangat indah, Sweety."


"Baiklah, aku pergi. Bye, Bella. Bye, Uncle. Namaku adalah Polly."


"Bocah yang menggemaskan," ucap Andreas begitu Polly sudah menjauh dari hadapan mereka.


"Ya. Baiklah, aku juga harus pergi. Perhatikan jalanmu saat mengendarai mobil." Bella beranjak, melewati Andreas begitu saja. Pulang ke rumah adalah pilihannya karena jika ia tetap pergi mencari dress yang mirip dengan milik Lizzie, pria itu pasti mengikutinya. Bella lagi menghindari komunikasi dengan pria mana pun. Entah itu yan menawan atau pun yang buruk rupa.


"Aku sudah datang dan kau malah mengabaikanku." Andreas menarik tangan Bella dan memaksanya masuk ke dalam mobil, sebelah tangannya melindungi kepala Bella agar tidak terbentur.


"Kau mau menculikku kemana?"


"Makan. Badanmu kurus sekali. Kau seperti kekurangan gizi. Sudah berapa lama kau tidak makan?" Andreas memasang sabuk pengaman di tubuh Bella lalu ia melakukan hal yang sama kepada dirinya. Mobil pun melaju.


____


"Kau ingin membuatku gendut? Makanan sebanyak ini bagaimana menghabiskannya?"


Di hadapan mereka sudah tersaji beberapa menu makanan. Ayam goreng, mashed potato, kacang polong, buah cup, dan kukis cokelat. Makan siang khas negara mereka. Selain itu, di atas meja juga tersaji makanan ala Itali. Sepotong ikan di atas daun arugula, pasta dengan saus tomat, salad, baguette, dan buah anggur. Dan yang terakhir adalah masakan Spanyol. Nasi merah dengan tumis udang dan sayur, gazpacho, paprika segar, roti, dan jeruk.


"Makan semampumu saja." Andreas mengambil sendok dan mulai menikmati kacang polong yang ada di piring Bella. "Tapi aku akan senang jika kau menghabiskannya."


"Tidak, aku tidak ingin gendut." Bella menatap ngeri semua makanan yang tersaji di hadapannya.


Andreas tertawa, "Perasaanku tidak akan berubah hanya karena kau bertranformasi menjadi gentong. Ayo, habiskan semuanya."


"Gentong? Kau mendoakanku kalau begitu." Bella spontan membuka mulut saat Andreas mengarahkan sendok ke mulutnya. Begitu seterusnya hingga Bella menghabiskan satu porsi masakan Spanyol. Nasi merah dengan tumis udang.


"Bagaimana rasanya?" Andreas menatapnya dengan lembut, pria itu tersenyum melihat Bella yang mengeluarkan sendawa.


"Enak." sahutnya dengan singkat.


"Mau mencoba ini?" Andreas mengulurkan kukis cokelat.


Bella menggeleng, "Aku sudah kenyang, Andreas. Kau bisa menghabiskannya."


"Apa yang kau bawa itu?" Andreas menunjuk dengan mengarahkan dagu ke kursi kosong tempat Bella meletakkan papar bag yang ia tenteng sejak tadi.


"Dress. Aku merusak salah satu dress mahal kesayangan Lizzie. Aku harus menggantinya."


"Dress mahal?"


"Hmm, dia mengatakan Gigi Hadid pernah mengenakannya."


"Oh ya? Biar kulihat."


Bella pun memberikan paper bag tersebut. Andreas segera mengeluarkan isinya, mengamati dress tersebut dengan seksama.


"Ya, memang terlihat mirip. Tapi ini hanya barang murahan. Baiklah, kau akan mendapatkan yang asli."


"Benarkah?" Untuk pertama kalinya Bella tersenyum sejak pertemuan mereka dalam beberapa jam ini.


"Aku suka saat kau tersenyum, Bella. Tetaplah bahagia."


Senyum di wajah Bella raib seketika mendengar penuturan Andreas. Ya, ia pun sadar bahwa selama satu minggu ini ia jarang tersenyum. Ayahnya pun mengatakan hal serupa.


"Semua orang menginginkan kebahagiaan, tapi tidak semua orang mendapatkannya." Bella menunduk menyembunyikan seraut wajahnya yang sedih.


"Kau hanya tinggal percaya padaku. Jadilah milikku seutuhnya, akan kutunjukkan kebahagiaan padamu."


"Kebahagiaan yang kau tawarkan tidak akan berarti bagiku jika kau bukan orang yang kuharapkan untuk memberikannya."


Andreas terkesiap mendengar kalimat Bella yang begitu menohok. Apa yang dikatakan wanita itu benar adanya. Kebahagiaan itu take and give. Memberi dan menerima. Percuma menawarkan kebahagian jika yang menjadi sasaran tidak bersedia menerima. Kasarnya, hanya ada cinta sepihak yang bertepuk sebelah tangan.


"Lalu siapa yang kau inginkan?"


Kali ini Bella yang dibuat terkejut. Ya, siapa yang kuinginkan? Tidak mungkin si buruk rupa itu! Hatinya menjerit menolak dengan tegas.