La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Sangat Menjijikkan



Alice tersenyum getir, "Apakah menurutmu aku bahagia, Glend? Aku tidak tahu apakah ini penting atau tidak untukmu. Andreas menikahiku bukan karena dia mencintaiku. Andreas menikahiku karena ia tahu kau mencintaiku."


"Apa maksudmu?!" Glend menyorotnya dengan sinis. Ia tidak menyukai jika ada seseorang yang sengaja menjelekkan Andreas di hadapannya. Andreas sangat menyayanginya. Pria itu selalu memberikan kekuatan kepadanya disaat Bryson mengamuk kepadanya. Andreas adalah panutan bagi Glend.


Glend tidak akan pernah melupakan kejadian disaat mereka berusia 17 tahun. Hari itu, di sekolah, ditemukan narkoba di tas miliknya. Oke, ia akui jika ia memang sangat nakal saat ia beranjak dewasa. Ia dan ketiga temannya, Bill, Justin, Alex, selalu menghisap ganja secara diam-diam di belakang sekolah. Hanya sebatas coba-coba. Entah siapa yang sudah menyampaikan hal itu kepada King Byson hingga dilakukan penggeledahan. Barang haram itu ditemukan di sana. Ia terkejut, King Bryson murka. Glend ditarik ke tengah lapangan, pun Bill, Justin dan Alex. Ketiga pria itu hanya dihukum sekenanya saja. Tapi tidak dengan Glend. Ia dihukum cambuk, disaksikan orang banyak. Ibunya meraung, mengiba, bersujud di kaki Bryson tetapi pria itu tidak mengindahkannya.


Andreas berlari ke tengah lapangan, memeluk dan melindunginya. Beberapa cambukan melukai pria itu. Andreas sesayang itu padanya.


Andreas juga selalu menghibur ibunya atas semua skandal yang dilakukan ayah mereka.


Lalu sekarang Glend mendengar Alice menghina saudaranya itu. Terang saja emosinya langsung memuncak.


"Andreas tidak seperti yang kau duga, Glend. Kau selalu unggul dibandingkan dengannya. Kau selalu menjadi yang terbaik, baik dalam hal akademi atau pun hal lainnya."


"Aku berjuang untuk itu, aku berusaha mati-matian agar Bryson si keparat itu menoleh kepadaku dan bangga menyebutku sebagai putra keduanya."


"Tapi usahamu sia-sia, bukan? King Bryson tidak menghargainya sama sekali. Mereka hanya ingin Andreas yang terbaik. Penerus selanjutnya. Keturunan Anndora asli. Andreas juga menginginkan tahta itu, percayalah. Ia terobsesi untuk menjadi hebat dibandingkan denganmu. Semua yang ia lakukan padamu hanya untuk menyembunyikan keserakahannya. Menurutmu siapa yang menjebakmu tentang obat-obat terlarang itu, Glend. Dia lah pelakunya. Dia sendiri yang mengatakannya kepadaku. Dia menikahiku sengaja untuk menyakitimu. Aku memiliki semua buktinya jika kau tidak percaya, datanglah ke kamarku jika kau ingin mendengar semuanya."


Glend membatu, ini terlalu mengejutkan.


"Tunggu."


Alice yang sudah berada di ambang pintu menghentikan langkahnya.


"Masalah itu aku kurang mengetahuinya. Kau terlalu dicintai rakyat Anndora. Semua mendukungmu. Meski keputusan mutlak ada di tangan raja, tetapi pihak kerajaan tidak bisa tutup mata dan telinga begitu saja jika rakyat bersatu menentang siapa yang akan menjadi pemimpin mereka. Tes DNA palsu diambil, Stacy disebut sebagai putrimu untuk menciptakan skandal tentang dirimu. Cara itu pun nyatanya tidak cukup membuat rakyat membencimu. Hingga pada malam itu kau ribut dengannya, lalu kecelakaan itu pun terjadi."


"Aku menunggumu jam sebelas malam, Glend. Datanglah." Alice segera berlalu.


Glend mencoba merekam kebersamaannya dengan Andreas. Meski ia pungkiri tentang obsesi dan keserakahan Andreas, tapi kepingan demi kepingan yang ia susun mulai tampak nyata.


Dengan lunglai ia berjalan menuju kamarnya, kepalanya mendadak sakit luar biasa, hatinya hancur mengetahui fakta jika panutannya ternyata sangat membencinya.


Glend menarik napas panjang, mendadak dadanya terasa sakit.


"Aku akan kembali ke kamarku." Mendengar suara Bella, Glend mengangkat kepala. Ia tersenyum getir, pemandangan memuakkan ia saksikan tepat di depan matanya. Si keparat Bryson menyentuh istrinya, mengusap lengan dan punggung wanita itu. Si tua bangka itu menatap istrinya penuh arti. Sekali brengsek tetap brengsek.


"Aku tahu kau sangat brengsek, tapi menyentuh istri dari pria yang kau sebut dengan anak sungguh sangat menjijikkan, King Bryson."


"G-Glend..." Bella mendadak gugup. Wajah wanita itu juga pucat. "Ka-kau sudah lama berdiri di sana?"


"Ya, hingga aku bisa melihat tangan kotornya menyentuhmu. Ah, aku lupa jika aku bukan siapa-siapa baginya."


Bryson hanya menyunggingkan senyum sinis lalu pergi begitu saja.