La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Petaka Senyuman



Jadi kau sungguh tidak berminat untuk membayar seorang terapis?" Bella sedang membersihkan punggung Glend yang dipenuhi tatto dengan waslap basah. Ini pertama kali ia melakukannya karena pria itu memaksa ingin mandi karena memang Glend sudah tidak mandi karena sakit. Biasanya Bill yang melakukannya, tapi kali ini Bella menawarkan diri untuk melakukannya.


"Aku tidak suka menghamburkan uang secara percuma."


Mendengar jawaban Glend yang bagaikan si kaya yang kikir membuat Bella berdecak sembari menggelengkan kepala.


"Beberapa orang bekerja terlalu keras demi menghasilkan uang yang banyak hingga pada akhirnya ia jatuh sakit dan menghabiskan uangnya demi kesehatannya. Menurutku itu lebih baik dibanding manusia sepertimu yang menyayangkan uangnya demi kesehatannya."


Glend tergelak, alih-alih tersinggung ia justru menarik sebelah tangan Bella untuk ia berikan kecupan di sana. "Aku sungguh tidak membutuhkannya. Aku memiliki seorang istri, kau bisa membantuku."


"Sudah kukatakan aku tidak ahli dalam hal itu. Apa kau tidak tergiur untuk berenang bersamaku di dalam kolam berenang."


Entah Bella menyadari atau tidak bahwa kalimatnya itu mengandung makna untuk menantang kemaskulinan seorang Glend. Apakah kalimat itu mengandung ajakan, godaan, tantangan atau justru sebuah dukungan semangat yang dilakukan dengan cara yang menurut Glend sangat nakal. Sungguh ia dipusingkan hanya untuk mengartikan kalimat yang disampaikan Bella dengan enteng dan ringan.


"Dibandingkan tergiur untuk berenang di dalam kolam, aku lebih penasaran untuk melihat keahlianmu di atas ranjang."


Bella memukul punggung Glend dengan cukup keras. "Tapi mungkin aku akan mempertimbangkannya jika kau bisa berjalan. Ayolah, Glend. Wanita ingin prianya yang mendominasi."


Seperti biasa, ada saja jawaban Bella untuk menangkis semua godaan dan kejahilan yang dilakukan Glend terhadapnya.


"Dan omong-omong tentang wajahmu, kau tidak ingin melakukan operasi? Jika kau ingin melakukannya, sebaiknya lakukan secara menyeluruh, mungkin kau bisa mengubah wajahmu seperti aktor Italia, Michele Morrone si duda keren."


"Ternyata kau gadis yang sangat nakal."


"Kenapa kau katakan demikian? Aku gadis polos yang masih suci. Meski kau lumpuh, tapi tubuhmu sangat indah. Andai tattomu tidak ada, aku yakin kulit tubuhmu sangat bagus."


"Pujianmu bisa membuat kita berdua dalam bahaya, Bella." Glend memberi peringatan. Bukan hanya kepada Bella, tetapi juga kepada dirinya sendiri. Ia harus menjaga kewarasannya. "Dan soal aktor Italia, seberapa banyak kau menonton film pria itu."


Bella terkikik geli, "Aku lupa. Kudengar akan ada film lanjutannya."


"Aku meragukan kesucianmu yang kau gembor-gemborkan tadi."


"Selesai." Meletakkan waslap ke atas wadah dan membawanya ke dalam toilet.


Keluar dari dalam toilet, ia memasuki ruang ganti, mengambil pakaian baru untuk Glend.


"Kau datang?" Bella sudah melihat Justin berdiri di sana. Di hadapan Glend. Selama Glend sakit, pria itu juga selalu datang setiap hari untuk memeriksa kondisi Glend.


"Ya, kau pasti bosan dengan kehadiranku."


"Tidak usah ditanya lagi," Bella melewati Justin begitu saja dan bahkan sengaja berdiri diantara kedua pria itu. Bella pun membantu Glend mengenakan baju. "Kau harus menjaga jarak dengannya," Bella memberi peringatan.


"Apa yang baru kalian lakukan, kenapa Glend membuka baju?"


"Haruskah kami menjelaskan?" Bella berbalik dan berhadapan dengan Justin. Sejak pertemuan pertama mereka, Bella selalu waspada kepadanya. Bagi Bella, Justin adalah musuhnya. Pria itu sering sekali meledek dan memancing emosinya.


"Jika kau tidak keberatan. Aku akan duduk dengan manis dan mendengar ceritamu." Lihatlah, Justin benar-benar menyebalkan, bukan?


"Berhenti menjahilinya, Dude." Glend menarik tangan Bella agar duduk di sisinya. "Justin mengatakan aku sudah sembuh, mulai besok kau bisa ke kampus."


"Baguslah jika begitu."


"Berhubung aku sudah merawat suamimu hingga sembuh, bagaimana jika kau memasak untukku. Aku lapar sekali."


"Enak saja! Kau bisa meminta ke bawah." Terang saja Bella menolak mengingat Justin adalah musuh baginya.


"Kudengar kau sangat pintar memasak."


"Itu hanya gosip. Dan omong-omong dari mana kau mendengar gosip itu?"


"Dari suamimu."


"Dia hanya membual," Glend menimpali.


_____


Glend benar-benar sudah sembuh. Saat Bella membuka mata, ia tidak menemukan suaminya di sisi ranjang. Semenjak Glend sakit selama lima hari, ia selalu bangun lebih awal dibanding pria itu.


Bella segera turun dari ranjang, bergegas ke toilet untuk mandi. Jika Glend sudah bisa bangun pagi dan sudah ditemukan di kamar, artinya pria itu memang sudah sembuh seperti yang dikatakan Justin. Ia bisa ke kampus kalau begitu.


"Selamat pagi, Cara mia."


"Pagi, Caramel." Bella menanggapi asal dan enteng.


Glend terkekeh sembari menggeleng, mulut yang benar-benar luar biasa.


"Oh Tuhan, sudah kukatakan jangan tersenyum kepadaku." Bella menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya untuk menghindari tawa pria itu. "Hari ini aku ke kampus dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Bukankah sudah kukatakan bahwa senyummu membawa petaka."


Mendengar penuturan Bella, Glend semakin tergelak. Bagaimana bisa sebuah senyuman bisa menjadi petaka. Filosofi dari mana itu?


"Jika kau tidak ingin mengawali harimu dengan senyumanku, duduklah, awali harimu dengan sepotong croissant." Glend mengisi piring Bella dan menyodorkan segelas susu ke hadapan gadis itu. "Selamat menikmati sarapanmu." Seperti biasa, setelah memastikan Bella menikmati sarapan, ia pun fokus ke layar ponselnya, memeriksa laporan dan Bella menikmati sarapannya dengan khidmat.


"Aku sudah selesai, aku pergi." Pamitnya sembari berdiri, meletakkan kunci mobil di atas meja.


Glend mengernyit melihat kunci tersebut, ia pun mengangkat tatapannya, bertanya dalam diam.


"Aku masih trauma setelah menabrak seseorang kemarin. Apakah Bill bisa mengantarku? Jika tidak, aku bisa naik taksi."


"Tentu saja bisa." Glend segera melakukan panggilan dan tidak berapa lama Bill turun dari kamarnya.


"Antar kami ke kampus," perintahnya.


"Kami?" Bella menoleh tidak setuju. Glend tidak boleh muncul ke peredaran. Jika ada yang melihatnya, ia akan diledek dan dipermalukan.


"Ya, aku ingin mengantar istriku."


"Menurutku itu tidak perlu, Glend. Kau masih sakit," Tolak Bella dengan segera. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan muncul di permukaan bersama Glend.


"Tidak ada bantahan," Glend memberi isyarat kepada Bill agar segera mendorong kursi rodanya.


Jika Glend sudah mengatakan tidak ada bantahan artinya keputusan pria itu tidak bisa diganggu gugat lagi.


Bella hanya diam sepanjang perjalanan, berdoa semoga saat mereka tiba di kampus, suasana universitas itu sedang sepi. Tapi sepertinya Bella harus menelan kekecewaan. Tampak para mahasiswa hilir mudik. Dan Si Bill sialan memarkirkan mobil di tengah lapangan.


"Dia kira universitas ini milik nenek moyangnya!" Bella menggerutu tidak jelas.


"Kita sudah sampai." Glend mengumumkan.


"Ya, aku tidak buta." Bella berdecak malas. "Aku pergi, Bella mendorong pintu hingga terbuka, dan saat ia hendak menurunkan kaki, Glend justru meraih pinggangnya hingga kembali masuk ke dalam mobil.


"Aku belum memberikanmu kecupan semangat," ucap Glend dengan nada geli. Sungguh wajah Bella yang panik menjadi hiburan tersendiri baginya. Didekatkannya bibirnya ke kening Bella, lalu mengecup dahi Bella dengan lembut dan hangat. "Aku akan menjemputmu, nanti." Diusapnya lagi kepala Bella layaknya suami yang penuh kasih sayang.


Bella mematung. Ia terkejut, terhenyak, terbuai dan entah apa lagi sebutannya. Yang ia tahu, aliran darahnya memompa dengan cepat entah untuk alasan apa? Marah atau karena perasaan lain?


"Oh My God!" Pekikan dari belakang punggungnya membuat Bella tersadar. Ia menoleh cepat, merasakan ada ancaman di sana. Benar saja, ada Lizzie dan teman-temannya yang menatapnya dengan jijik dan juga kaget. Bukan hanya Lizzie, ada Matteo dan juga Eli yang memasang wajah ngeri. Ya, wajah Glend memang semengerikan itu.


Tuhan, tenggelamkan aku ke perut bumimu.


Mengawali hari dengan senyuman Glend terbukti membawa petaka!