
Setelah mendonorkan darah sebanyak yang diinginkan, Glend memasuki ruangan di mana Bella sedang dirawat. Glend menarik napas panjang melihat wanita yang ia cintai itu terbaring tidur di atas ranjang.
"Mommy hanya tertidur, Dad. Dia akan bangun sebentar lagi. Tidak usah khawatir. Dia hanya terlalu panik melihat darah." tangan mungil Grace menggenggam tangan Glend. Glend menunduk, lalu menerbitkan seutas senyum. Apa jadinya jika Grace tidak menghubunginya. Ia akan menjadi ayah paling buruk di dunia. Jika Grace tidak meminta nomor ponselnya, ia juga tidak memiliki pikiran untuk memberikannya. Cara semesta bekerja memang tidak ada yang menduganya. Penundaan penerbangan juga salah satu cara semesta untuk ia tetap berada di dekat anak-anaknya. Menjadi penyelamat untuk Gavin yang membutuhkan darah.
Glend mendudukkan Grace di kursi, sementara ia berdiri di tepi ranjang. Menatap Bella dengan tatapan teduh. Tangannya terulur mengusap lembut kepala wanita itu.
Merasakan usapan di kepala, perlahan Bella membuka mata. Sontak Bella bangun dan duduk. "Bayiku, jangan mengambil bayiku..." Ia memeluk lututnya, membenamkan wajah di atasnya. Kembali, Glend merasakan jantungnya mencolos ke permukaan. Ia tidak bodoh untuk tidak mengetahui bahwa Bella dibayang-banyangi trauma masa lalu. Ingin rasanya Glend membenturkan kepalanya ke dinding. Ini semua karena ulahnya, karena kebodohannya.
"Bella," panggilnya dengan nada mendayu, dibelainya kepala Bella dengan penuh kasih sayang.
Bella mengangkat kepala, maniknya beradu dengan manik Glend. Glend benci melihat tangisan dan kerapuhan wanita itu.
"Glend," ia pun meraung seketika, menjatuhkan diri ke dalam pelukan pria itu, memeluk Glend dengan erat. "Kau datang? Kau datang menyelamatkan bayi kita, menyelamatkanku? Aku tahu kau pasti datang. Glend, mereka mencoba membunuh anak kita. Mereka jahat." Glend merasa tertohok. Secara tidak langsung, inilah yang diharapkan Bella pada malam itu. Kehadirannya disaat ia mengalami situasi sulit yang hampir merenggut nyawanya. "Glend, bawa aku. Nyawa anak kita dalam bahaya." Bella menarik tangan Glend ke perutnya yang rata. "Kenapa kau diam saja!" Bella mendongak, menemukan manik Glend sudah basah oleh air mata. Bella tersentak, ia tersadar begitu memendarkan pandangannya, hingga berhenti pada sosok Grace yang duduk memperhatikan dengan mimik sedih.
"Ba-bagaimana keadaan Gavin?"
"Gavin sudah melewati masa kritis. Operasinya berjalan lancar."
Bella bernapas lega, ia kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Glend dan membenamkan wajah di perut pria itu. Glend tersenyum, entah wanita itu sadar melakukannya atau tidak, yang jelas Glend merasa mendapat jackpot di tengah situasi yang sempat mencekam.
🥀
"Jadi Felix tidak ada di rumahnya dan hari ini dia juga tidak masuk ke kantor?" Glend sempat merasa bingung, bertanya-tanya kenapa Felix belum muncul juga bahkan setelah dua hari berlalu sejak Gavin berada di rumah sakit. Nomor ponsel pria itu juga tidak dapat dihubungi.