La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Mulai Lelah



"Cermin itu lagi dan lagi meledekku, Dad."


"Dia hanya iri dengan ketampanan yang kau miliki, Son." Bryson mengusap pundak putranya seraya mendaratkan bokong di samping Glend. Ucapannya terdengar seperti sebuah kelakar, tapi percayalah Bryson hanya tidak tahu bagaimana caranya untuk menghibur putranya tersebut. Ia ikut andil dalam kehancuran yang dialami Glend. Kerapuhan pria itu terbentuk karena cara yang ia pilih untuk melindungi putranya ternyata sangat salah.


"Dia menyebutku gila dan menyedihkan, Dad." Glend tersenyum getir dengan tatapan sayu yang memohon perlindungan kepada sang ayah.


"Kalau begitu tindakanmu sudah benar. Kau harus menghancurkannya. Putraku tidak gila, kau kebanggaanku, Son."


Oh Tuhan, kenapa tidak menghukumku saja. Bisik Bryson di dalam hati. Hatinya hancur melihat ketidakberdayaan putranya itu.


"Kau menghajar terapismu lagi?" Justin mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu hampir frustasi menghadapi sahabatnya itu. Michael Parker, terapis ke 30 yang memutuskan untuk mengundurkan diri karena tidak sanggup menghadapi tingkah laku Glend. Alih-alih menyembuhkan mental pria itu, yang ada para terapis itu yang terserang gangguan mental.


Selain Justin harus meminta maaf kepada para terapis tersebut, ia juga harus membujuk mereka agar tidak melaporkan Glend kepada pihak yang berwajib atas kekerasan yang mereka alami.


"Aku tidak cocok dengan mereka. Wajar saja aku menghajarnya, Michael si keparat itu membeberkan apa yang kami bicarakan kepada rekannya yang lain. Harusnya apa yang menjadi perbincangan kami menjadi rahasia diantara kami."


"Mungkin saja itu rekannya."


"Dengan menertawakan apa yang dialami pasien?" Glend juga sama frustasinya dengan Justin. Terapis yang mereka datangi selalu memiliki ulah yang seketika bisa memancing amarah seorang Glend. Terapis wanita biasanya berakhir dengan menggodanya, sedang terapis pria selalu meremehkannya di belakang.


"Bill sudah mengirim pengacara agar Michael bersedia mencabut tuntutannya terhadapmu. Sedangkan Alex sudah membawa Michael dan temannya ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Katakan kepadaku bagaimana kau menghajar Michael dan temannya tanpa terluka sedikit pun?" Justin berkelakar.


"Aku mengangkat guci yang ada di dekatku dan melemparnya ke teman si terapis itu. Lalu, si terapis itu kuterjang dan kulempar hingga kepalanya tidak sengaja membentur sudut meja."


"Pekerjaan bagus, Dude." Justin mengangguk sembari mengusap-usap punggung Glend. "Terapis kali ini hanya bertahan satu bulan. Lebih singkat dari sebelumnya."


"Sepertinya aku akan menyerah. Ini sudah tiga tahun sejak aku menjalani terapi. Emosiku semakin tidak terkendali."


Justin juga menginginkan hal serupa. Ia sudah putus asa. Lima tahun sudah berlalu, gangguan mental yang dialami Glend semakin menjadi. Justin, Alex, dan Bill terus membujuk Mr. Bryson untuk mengatakan dimana Bella sebenarnya bersembunyi. Pria setengah baya itu tetap bersikeras jika ia sungguh tidak mengetahui keberadaan Bella. Mereka bahkan sering memata-matai pria itu, mengirim seseorang mengikuti Bryson kemana pun bahkan saat pria itu pergi ke luar negeri. Tapi seperti yang dikatakan Bryson, mereka tidak menemukan jejak sama sekali. Tindakan Bryson memang sedikit mencurigakan mengingat pria itu sering ke luar negeri dengan alasan berlibur, tapi sialnya kecurigaan mereka selalu tidak berhasil dibuktikan.


Glend sendiri sudah berulang kali menemui Harry, berlutut di hadapan pria itu, memohon agar Harry bersedia mengatakan kepadanya di mana Bella. Sama seperti ayahnya, pria itu juga enggan membuka mulut. Koneksi yang dimiliki Glend juga tidak bisa membantu sama sekali. Glend dan ketiga temannya bahkan sudah berkeliling negara untuk mencari keberadaan Bella hanya untuk kata maaf. Glend menduga jika ia sudah mendapat maaf dari wanita itu, emosinya mungkin bisa sedikit stabil. Di setiap negara yang mereka kunjungi, Glend selalu memiliki terapis yang berujung ricuh.


"Usaha tidak akan mengkhianati hasil," Justin sendiri sebenarnya tidak yakin dengan ucapannya. Ia percaya jika sesungguhnya yang dibutuhkan Glend saat ini adalah Bella. Meski pria itu belum mengingat Bella sama sekali, tapi ia sangat yakin jika Bella akan berhasil membuat Glend kembali normal. Justin mulai menantang apa yang dikatakan dokter tentang agar tidak memaksa Glend untuk mengingat masa lalu pria itu demi keselamatan jiwa pria itu. Persetan dengan keselamatan Glend. Tanpa mengingat Bella, Glend sudah rusak parah.


"Aku mulai lelah, Dude." Glend berdiri, berjalan menuju jendela kamar.