
"Ya, kau benar, Sayang. Kau juga menyukai iron man?"
"Tidak terlalu. Aku lebih menyukai Ken. Ouch, kau mungkin tidak mengenalnya. Ken adalah pasangan barbie. Berwajah tampan dan berpakaian bersih."
Pria itu lagi dan lagi tergelak.
"Gavin ingin menjadi Iron Man, dia selalu mengatakan hal serupa seperti yang kau katakan. Aku bosan mendengarnya." Grace menepuk jidatnya seraya menggelengkan kepala seolah ia memang benar-benar bosan.
"Omong-omong, terima kasih, Uncle. Kau tiba-tiba muncul dan menyelamatkanku."
"Jangan lakukan sekali lagi. Menyeberang tanpa didampingi oleh orang dewasa."
"Aku hanya tidak sabar ingin melihat bonekaku. Oh, di mana ibuku?" Grace memiringkan kepala, menoleh ke belakang. "Oh..."
"Terima kasih sudah menyelamatkan putriku, Anda..." Kalimat Bella menggantung di udara. Waktu seakan berhenti berputar. Kakinya yang gemetar semakin kehilangan kekuatannya. Bella hampir saja terjatuh jika pria itu dengan tidak sigap menahan lengannya.
Sesungguhnya pria itu juga tidak kalah terkejutnya. Sama seperti Bella, ia juga merasakan tubuhnya lemas seketika. Glend benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Bella kini ada di hadapannya. Harusnya ia bersorak gembira, tapi nyatanya, ia bahkan tidak punya sisa tenaga lagi hanya untuk sekedar menggerakkan lidahnya.
"Bella..." panggilan seseorang membuat waktu kembali ke masa kini.
Glend yang hafal betul siapa pemilik suara itu tidak menoleh sama sekali.
"Ada apa denganmu, kau baik-baik saja?" Bryson yang belum menyadari kehadiran putranya berjalan mendekati mereka. Di tangan kanannya ia menenteng boneka barbie sesuai pesanan Grace.
"Grandpa!" Grace segera meluncur turun dari gendongan Glend. Ia berlari menghampiri kakeknya. "Grandpa... Grandpa... Grandpa... dimana bonekaku?!" Grace melompat-lompat kegirangan, tidak menyadari keadaan di sekitarnya.
Bryson terkekeh, ia berjongkok menyejajarkan tinggi mereka. "Kau lebih menginginkan bonekanya dibanding pelukan dari pria tua ini?"
"Ooh, Grandpa! Tentu saja aku lebih merindukan pelukanmu. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Pria yang paling kucintai adalah dirimu. Daddy dan Gavin tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu." setelah mengumbar cinta, Grace melompat ke dalam pelukan kakeknya, menghadiahi Bryson dengan kecupan bertubi-tubi. "Kecupan terakhir untuk hadiahku yang luar biasa. Grandpa, kau memang yang terbaik." Grace melingkarkan tangan mungilnya di balik leher kakeknya.
"Ya, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menjadi nomor satu di hatimu," tukas Bryson. Pria setengah baya itu pun berdiri, membawa Grace ke dalam gendongannya. Bryson masih bingung melihat Bella yang masih bergeming di tempat dengan wajah kaget.
"Ada apa dengan ibumu? Dia terlihat pucat." Bryson berjalan mendekati Bella.
"Oh, aku lupa menyampaikan berita mengerikan." Grace memasang wajah dramatis.
"Berita mengerikan?" Bryson mengernyit, ada kepanikan di wajahnya.
"Cucu kesayanganmu yang cantik ini hampir mengalami kecelakaan," Grace mengadu dengan nada manja.
"Aku baik-baik saja. Iron man datang menyelamatkanku." Grace menunjuk Glend yang masih mematung memandangi Bella.
"Uncle iron man... oi Uncle iron man."
Glend menemukan nyawanya kembali. Ia mengembuskan napas panjang sebelum memutar tubuhnya, menoleh ke arah Grace.
Begitu Glend berbalik, Bryson terhenyak. Spontan ia menghentikan langkah.
"Bagaimana bisa?" Bryson bergumam.
"Hai, Dad." Glend mendengar dengan jelas bahwa suaranya bergetar dengan hebat. "Kau terkejut? Aku juga demikian."
"Dad? Grandpa, kau mengenal Uncle iron man?"
Bryson tidak tahu harus menjawab apa. Setelah Glend memutuskan tinggal di London, ia yakin jika suatu hari putranya itu pasti bertemu dengan Bella. Ya, Bryson lah yang mengirim Bella kemari, memberikan kehidupan yang layak bagi Bella dan kedua cucunya. Saat Glend memutuskan akan menetap di London, saat itu Bryson yakin dan percaya jika semesta dan takdir juga sedang menjalankan perannya. Bryson tidak mengatakan kepada Bella jika sesungguhnya Glend sudah ada di negara yang sama dengannya karena selama tujuh tahun ini mereka tidak pernah membahas nama Glend sama sekali.
"Dia memanggilmu dengan sebutan Daddy. Dia putramu, Grandpa?" Grace memandangi Glend dengan seksama. Pun Glend melakukan hal serupa.
"Oh, mata kita sangat mirip."
Glend tersenyum, mengangguk membenarkan.
"Bolehkah aku memelukmu lagi?"
"Tentu saja." Grace mengulurkan tangan, Glend segera mengambil alih bocah cilik itu ke dalam gendongannya. Glend memeluk Grace dengan erat. Perasaannya tidak bisa ia gambarkan. Ia seolah melihat dirinya dalam versi anak perempuan. Ia tidak bodoh untuk tidak mengenali jika Grace adalah darah dagingnya. Bella berhasil melahirkan anaknya. Oh Tuhan, Glend kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Dengan jantung yang meletup-letup, Glend mendaratkan bibirnya di pucuk kepala bocah cilik itu. "Terima kasih," Lirihnya dengan suara yang kembali bergetar.
Grace mengurai pelukan mereka, "Aku tidak tahu jika iron man juga bisa menangis," Grace bingung melihat seraut wajah tampan Glend yang terlihat sedih.
Glend terkekeh, "Aku hanya terharu." Glend mengecup kedua mata putri kecilnya itu, kemudian mengecup dalam kening Grace dengan sangat lama. "Maafkan aku."
Kurasa ini akan lebih menyakitkan lagi. Glend berseru di dalam hatinya. Manik Bella sudah menjelaskan semuanya dan putrinya tidak mengenalinya. Apa lagi yang lebih menyakitkan dari semua itu.
Author be like : Ck! Ini belum ada apa-apanya, Glend Vasquez! Selain kau memiliki anak kembar yang tidak menyadari keberadaanmu, ada Felix yang mereka sebut sebagai DADDY 🥴😎