La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Keunikan yang Dilestarikan



"Semua orang memperhatikan kita, Bella." Glend merotasi pandangannya, setiap orang yang lewat di hadapan mereka bergidik ngeri bercampur jijik kepadanya lalu melayangkan tatapan aneh kepada Bella.


Saat ini mereka sedang berada di halaman kampus. Setelah tidak masuk satu bulan lebih, akhirnya Bella kembali menginjakkan kaki di kampus setelah memastikan Matteo memang sudah dikeluarkan dari sana.


"Abaikan saja," Bella menimpali dengan singkat.


Lizzie dan teman-temannya secara terang-terangan melontarkan kalimat ejekan yang cukup membuat telinga panas. Tidak ada kapoknya wanita itu.


"Jika memang kaya, kenapa tidak melakukan operasi plastik. Dunia kedokteran sudah sangat canggih. Tapi jika aku jadi dirinya sungguh tidak akan rela menikah dengan pria menjijikkan. Hasratku tidak akan bangkit dan justru tidurku tidak akan pernah nyenyak," Lizzie berseru dengan wajah muak yang ditunjukkan secara terang-terangan.


"Tidurku tidak akan nyenyak karena dihantui oleh wajah mengerikan itu. Aku akan bertanya-tanya, kesalahan apa yang sudah kuperbuat hingga mendapat karma buruk seperti ini," Penelope menimpali.


"Aku lebih baik jadi simpanan pria tua dibanding menjadi pemuas nafsu seorang pria cacat yang lumpuh." Pevita tidak mau ketinggalan melayangkan hujatan dan makiannya.


"Ya, aku setuju dengan semuanya. Bella, apa matamu buta?"


"Tidak." Bella menjawab cepat. "Aku bahkan bisa melihat kebusukan dan kemunafikan di hati kalian. Pergilah, urus saja urusan kalian. Tidak usah menggangguku!" Bella mengusir keempat wanita itu dari hadapan mereka. "Tidak usah dengarkan mereka, Glend. Mereka berkata seperti itu karena belum merasakan sentuhanmu." Bella mengusap bahu suaminya, menenangkan pria itu agar tidak tersinggung walau Bella yakin bahwa Glend terang saja tersinggung dihina secara terang-terangan seperti ini di depan umum.


Glend tersenyum geli, sempat-sempatnya Bella membahas sentuhan di tengah hinaan yang mereka dapatkan.


"Apa kalian mendengar apa yang dia katakan, kurasa bukan si buruk rupa ini yang tidak tahu malu, tetapi saudarimu, Lizzie. Apa dia mempunyai kelainan sekss sehingga sangat mengagungkan sentuhan pria menjijikkan itu. Dasar gila!"


Byur!


Bella menyiramkan air botol minuman ke wajah Penelope.


"Aggrhh... Sialan, apa yang kau lakukan brengsek!"


"Mensucikan mulutmu yang berbau najis. Pergilah wanita-wanita jelek!!"


"Ow, hanya karena kau memiliki suami lumpuh yang buruk rupa lalu kau menjadi berani begini, hah?" Penelope menggertak marah. "Memangnya apa yang bisa dilakukan pria cacat ini?" Penelope maju beberapa langkah hendak memberi pelajaran kepada Bella.


"Aku tidak pernah takut padamu. Kau juga tidak akan berani menghadapiku sendiri. Selalu main keroyokan." Bella menyunggingkan bibirnya dengan sinis.


"Ladies, apa kalian sungguh-sungguh ingin kuberi pelajaran?" Glend bertanya dengan nada ditarik-tarik. "Berhenti merecoki Bella sebelum kalian semua benar-benar kubuat menyesal. Pergilah!" Glend menyorot keempat wanita itu dengan tatapan menghunus tajam. Nanti, ia berjanji akan memberi pelajaran kepada keempat wanita itu. Akan ia keluarkan keempat wanita itu dari kampus agar istrinya bisa tenang selama menuntut ilmu.


"Masih tidak ingin pergi, heh?" Glend menjalankan kursi rodanya mendekati keempat wanita itu. Lizzie dan ketiga temannya menjerit histeris lalu berlari terbirit-birit.


"Di mana sahabat yang ingin kau kenalkan padaku?" Glend menatap istrinya dengan lembut.


"Astaga, yang kau lakukan tadi hebat, kau membuat mereka takut." Bella memekik kegirangan.


"Itu karena wajahku yang mengerikan."


"Artinya wajahmu yang mengerikan ini ada keuntungannya juga," Bella mengusap wajah suaminya. "Jadi jangan berkecil hati dengan fisikmu, oke. Aku ada menyelaraskan keburikanmu."


Glend mengangguk, "Ya, jangan pernah tinggalkan aku," Glend mendongak, menatap Bella dengan tatapan memohon seperti anak buaya yang takut dighosting.


"Ck! Aku tidak akan kemana-mana. Meski aku belum mencintaimu, aku wanita yang cukup setia."


"Kenapa tidak mencoba mencintaiku, Bella?"


Bella tidak lantas langsung menjawab, pertanyaan Glend ia ulang kembali di benaknya. Keningnya berkerut tampak sedang berpikir, ia mulai terbiasa dengan Gelnd, menyukai sentuhan pria itu. Bella juga senang mendengar pujian yang dilayangkan Glend kepadanya. Merindukan pria itu meski mereka berpisah hanya dalam beberapa jam.


Apa sebenarnya aku sudah jatuh cinta? Cinta itu buta, karena kebutaan itulah aku bisa mengabaikan segala kekurangannya. Jika tidak jatuh cinta, kurasa aku memang sudah tidak normal alisa gila.


Bella menggelengkan kepala, "Mencoba ya, hmm, baiklah, akan kucoba." Wajah Bella bersemu merah. Nanti ia akan mencari tahu sendiri apakah ia sedang jatuh cinta atau tidak.


"Lalu bagaimana denganmu, Glend? Kau jatuh cinta kepadaku?"


Glend mengangguk cepat, "Ya, aku jatuh cinta padamu. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya. Untuk itulah aku memohon agar kau jangan pernah meninggalkanku apa pun kondisinya. Aku sangat bodoh jika sudah mencintai, Bella. Aku tidak akan tahu caranya hidup jika aku mesti mengalami apa itu ditinggalkan lagi. Aku benar-benar mencintaimu, Bella."


"Oh," Bella mengangguk, ia kehilangan kata-kata.


"Kau terkejut?"


"Hmm, apa kau baru saja menyatakan cinta padaku, Glend?"


"Ya, aku mencintaimu. Mau menjadi kekasihku, Bella?"


Bella tersenyum lebar, ditariknya tangan suaminya dan diletakkannya di dadanya. "Kau bisa merasakannya? Jantungku berdebar tidak normal. Ritmenya tidak teratur, iramanya sama seperti saat kita sedang bercinta. Sepertinya jantungku menyukai saat kau mengikrarkan cinta. Dan soal permintaanmu, sepertinya aku tidak bisa menolak. Aku adalah istrimu, kita sudah sering tidur bersama. Baiklah, selain istrimu, aku adalah kekasihmu. Kuterima kau dengan lapang dada."


Glend tergelak. "Jika jantungmu jingkrak-jingkrak, artinya kau juga merasakan yang sama, Bella. Kau jatuh cinta padaku."


"Astaga, hanya karena aku menerima perasaanmu bukan berarti kau jadi besar kepala seperti ini. Aku masih mencoba, belajar. Ingat aku masih belajar untuk mencintaimu. Jangan besar kepala dulu. Ck! pernyataan macam ada ini? Tidak ada bunga, tidak ada suasana romantis. Dan di mana Eli, kenapa dia lama sekali. Oh, itu dia." Bella melambaikan tangan begitu melihat sahabatnya.


"Itu hal yang sulit, Sayang, mengingat wajah suamimu ini sudah sangat mengerikan."


"Ah, kau benar juga."


"Bella,,, Agrrhhh..." Elizabet memekik takut, spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Hais, ini terlihat aneh. Saat melihat wujud asliku para wanita ini bahkan meneteskan air liur. Bellaku memang yang terbaik.


"Eli, kau melukai suamiku. Jangan menambah luka hatinya dengan sikapmu yang berlebihan. Lizzie dan teman-temannya sudah cukup membuatnya terhina."


"Oh, maafkan aku." Perlahan Eli menurunkan kedua tangannya dari wajah. "Ini benar asli? Kau tidak sedang menyembunyikan wajah tampan suamimu di bali topeng 'kan, Bella?"


Glend tersedak mendengar penuturan Eli yang tepat sasaran. Ia akan meminta Bill untuk mencari tahu apakah keluarga Elizabet memiliki usaha di bidang pertopengan.


"Berhenti mengatakan hal konyol, Eli. Lagi pula aku sudah memberi peringatan padamu bahwa suamiku berwajah buruk rupa."


Eli mengangguk membenarkan. Kemarin malam, Eli menghubungi Bella mempertanyakan keberadaannya. Bella pun memberi tahu jika dirinya sudah menikah dan berjanji akan memperkenalkannya secara resmi. Eli hanya tidak tahu jika Bella benar-benar menikah dengan pria yang mereka lihat waktu itu mencium Bella.


"Oh, maafkan aku. Haruskah aku memberi selamat." Eli meringis, diliriknya wajah Glend hanya sekilas lalu segera mengalihkannya ke Bella. "Apa kau sedang terobsesi dengan salah satu dongeng cerita yang sering kau ceritakan kepada Polly? Si cantik dan si buruk rupa," Eli berbisik di telinga Bella dengan suara yang tidak bisa dikatakan berbisik. Glend bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


"Dia bisa mendengarmu," Bella memukul tangan Eli dan mendorongnya menjauh. "Lagi pula aku tidak terobsesi dengan dongeng itu."


"Ya, kau bermimpi jadi Cinderella, tapi nyatanya tidak demikian. Apa kau tidak ingin mencoba menciumnya, siapa tahu suamimu berubah wujud menjadi pangeran."


"Kami bahkan sudah bercinta berkali-kali, wujudnya tetap sama," Bella menimpali dengan nada malas. Eli tersedak mendengar pernyataan Bella yang disampaikan dengan nada ringan.


"Ka-kau bercinta? Dengannya? Ba-bagaimana bisa?" Eli mendadak gagu.


"Kenapa tidak bisa? Dia suamiku."


"Dia cacat, Bella. Astaga, aku tidak bisa membayangkan."


"Tidak usah kau bayangkan kalau begitu." Bella berdecak kesal.


"Maksudku, dia lumpuh, Bella. Apakah bisa?"


"Bisa apa?" Bella mengernyit bingung.


"Ya, itu..."


"Itu apa?"


"Apakah itunya berfungsi. Astaga, kau pasti tahu maksudku."


"Itu? Squishy maksudmu? Ya, masih berfungsi normal."


Glend terbatuk mendengar perumpamaan Bella terhadap alat vitalnya. Squishy? heh, yang benar saja. Apakah kejantanannya seimut spons bertekstur lembut dan kenyal itu. Jangan sampai para sahabatnya mendengar hal ini! Untung saja Bill tetap berada di dalam mobil. Semoga pria itu tidak mendengarnya.


"Astaga, bisa begitu ternyata." Eli membeliak kaget.


Kedua wanita itu terus saja membahas hal konyol di hadapannya. Tidak memedulikan dirinya yang tersedak berulang kali.


"Glend, ini Eli, temanku."


Glend segera mengulurkan tangan, Elizabet terlihat masih ragu untuk menyambut uluran tangannya.


"Bella, kau yakin jika suamimu memang berasal dari Bumi? Spesies yang sama dengan kita, manusia tulen."


Bella mengernyit, ia menatap suaminya beberapa detik kemudian kembali menatap sahabatnya. "Apa maksudmu."


"Mungkin saja dia bersaudara dengan Jadoo."


"Jadoo?"


Bella mengangguk, "Alien yang tertinggal di bumi yang diselamatkan aktor tampan dari taj mahal," Eli meringis bodoh. Ia masih tidak percaya jika sahabat yang ia kagumi kecantikannya menikah dengan pria buruk rupa yang tidak sebanding dengan Bella.


"Oh Tuhan, apa yang kau katakan. Berhenti berfantasi, Eli. Maksudmu Alien kerdil itu? Astaga, jelas saja berbeda! Coba kau lihat pipi suamiku yang tidak cacat. Mulus, tidak ada jejak dosa di sini. Kau lihatlah maniknya, indah dan memabukkan. Jangan menatap matanya lebih dari tiga detik!" Sempat-sempatnya ia memberi peringatan pada sahabatnya. Eli mengerutkan hidung lalu menajamkan penglihatan di manik Glend. Eli seketika tersihir dengan manik grey tersebut.


"Sudah kukatakan jangan menatap matanya berlama-lama," Bella memukul lengan sahabatnya dengan kesal. "Jelas-jelas suamiku memiliki organ tubuh yang lengkap dan sempurna, kau justru mengatakannya alien. Ucapanmu lebih kejam dari Lizzie. Aku marah padamu. Kau bukan orang kesukaanku lagi, Eli!" Bella mendengus, segera ia dorong kursi roda suaminya.


"Fantasi yang konyol. Dia tidak pernah semenyebalkan itu sebelumnya. Hais, aku tidak akan memaafkannya!" Bella masih saja menggerutu. "Dia tidak tahu jika kau adalah spesies yang harus dilindungi dan dilestarikan, hoh?"


Glend tertawa, "Keunikanmu lah yang perlu dilestarikan, Bella."