La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Tolong Beritahu Dimana Bella



"Ella, kukatakan kepadamu, Glend bukan pria yang mudah untuk kau sentuh. Pria itu sangat bodoh jika sudah menyangkut hati dan perasaan. Dia tidak akan pernah menoleh kepadamu karena Bella juga bukan wanita sembarangan. Sebelum perasaanmu semakin menjadi, sebaiknya kau kubur perasaanmu itu dalam-dalam. Lagi pula, bukankah seorang terapis dilarang jatuh cinta kepada pasiennya. Bersikaplah profesional."


"Inikah bayaran yang kudapat?"


"Bayaran?" Bill terkekeh sinis. "Kami membayarmu mahal jika kau lupa dan kami juga sudah menekankan agar kau bertindak sebagai terapis bukan sebagai wanita yang sedang jatuh cinta." Bill menghentikan sebuah taksi. "Silakan masuk," Bill membuka pintu penumpang untuk Ella. Tidak membiarkan wanita itu melayangkan bantahan atas ucapannya yang menohok.


🐸


Glend memasuki kamar hotel, disambut ayahnya yang sedang menikmati secangkir kopi bersama Alex dan Justin, membahas pembangunan pusat perbelanjaan yang akan dibuka tahun depan.


"Dad..." Glend meluruh ke lantai, berlutut di hadapan ayahnya. "Kumohon, katakan di mana Bella." Pria itu membenamkan wajah di lutut ayahnya. Tubuhnya bergetar menandakan bahwa pria itu sedang menangis.


"Aku mengingat semuanya, Dad. Mengingat betapa aku sangat mencintainya." Glend mengangkat kepalanya, menatap netra ayahnya dengan tatapan memohon dan mengiba. "Aku tergila-gila kepadanya," Glend tersenyum getir. "Bella wanita yang unik. Dia selalu membuatku tertawa dengan segala tingkahnya. Wanita yang tidak pernah memandang aku siapa dan bagaimana. Dia menghargaiku karena aku suaminya. Dia bahkan membelaku di hadapan Justin, memanjakanku di hadapan Alex dan Bill. Bella wanita yang juga tidak akan pernah menerima jika aku mendapat hinaan. Dengan lantang ia akan mengumumkan jika aku adalah suaminya meski ia tidak mencintaiku. Dad, aku berdosa dan bersalah. Kutahu itu, tapi aku tidak akan bisa hidup tanpanya. Bella adalah kebahagiaanku. Aku mengerti apa itu kebahagiaan, ketulusan dan kepercayaan setelah bertemu dengannya, Dad. Kutahu kau pasti mengetahui di mana Bella, kumohon kasihanilah aku, Dad." Glend kembali membenamkan wajah di atas lutut ayahnya. "Aku tidak akan bisa melanjutkan hidup dengan baik jika tidak bersama dengannya."


Bryson menarik napas panjang, ini adalah hal tersulit baginya. Ia sudah yakin jika ingatan putranya pulih, Glend akan semakin terpuruk. Sekarang bagaimana ia harus menjawab pertanyaan putranya itu.


"Dad," rintihnya dengan nada pilu. "Aku tahu kau pasti mengetahui sesuatu. Katakan, apa dia hidup dengan bahagia?"


"Aku tidak mengetahuinya, Son."


"Kau berbohong, Dad. Kau tidak berani menatapku."


Bryson menarik napas panjang, ia kembali menepuk-nepuk pundak putranya. Pun ia berdiri dari kursinya. Untuk kesekian kalinya ia menarik napas. Sekarang bukan hanya putranya yang berlutut di hadapannya, tetapi juga Justin dan Alex. Persahabatan yang perlu diapresiasi. Tidak senasib tapi sepenanggungan. Karena para sahabatnya yakin, setelah ingatan Glend pulih, mereka akan kehilangan waktu tidur berkualitas. Tidak akan ada lagi tidur yang nyenyak karena Glend akan merecoki hidup mereka dengan membahas tentang Bella setiap menit, sama seperti saat Glend menyadari saat ia sedang jatuh cinta kepada Bella.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya pria setengah baya itu dengan nada frustasi. Glend bahkan menahan kakinya agar tidak beranjak dari sana.


"Kami sedang memohon, Uncle." Justin dan Alex kompak menjawab.


"Tolong beritahu Bella ada di mana demi kedamaian bersama. Bella hanya untuk Glend." pungkas Justin.