La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Rumah Suamiku



Ehmmm... Bab ini mengandung adegan kiss-kiss. Bisa dibaca setelah berbuka ya, genk. Dan untuk spoiler sudah saya post di IG@Shinee0503


.


.


.


Glend masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di kebun margasatwa beberapa jam lalu. Ia juga belum bisa menyembunyikan tawanya saat Bella mengambil dompet dan juga duduk di atas pangkuannya. Tindakan Bella tersebut benar-benar di luar nalar. Terharu tapi juga lucu. Bukan hanya Glend yang tidak bisa berkata-kata. Wanita itu juga.


"Berhentilah tersenyum seperti orang yang kehilangan kewarasan. Kutahu kau tersanjung, kau tinggal mengutarakan kalimat pujian kepadaku." Sesungguhnya Bella sudah sangat malu jika mengingat tindakannya yang menurutnya memang sangat berlebihan. Haruskah ia duduk di atas pangkuan Glend. Itu tindakan yang sangat menggelikan.


"Kau menghabiskan uangku, Bella." Glend melipat bibirnya ke dalam, menahan agar tawanya tidak lepas.


Bagaimana jika Bella tahu bahwa wanita yang sudah dipermalukan olehnya adalah wanita masa lalu dari Glend. Orang yang merupakan penyebab terjadinya kecelakaan yang ia alami.


"Astaga! Kau pelit sekali."


"Uang yang kau lemparkan bisa membeli satu buah apartemen. Itu berlebihan, cara mia."


Manik Bella membeliak seketika. Ia memang tidak melihat berapa banyak jumlah uang tersebut. Dia asal mengambil karena sudah tersulut emosi. Glend yang tidak bisa berkutik membuat amarahnya semakin memuncak. Saat itu yang ada di pikirannya, bagaimana perasaan Glend saat itu. Pasti sangat malu sekali.


"Oh Tuhan, bagaimana ini. Aku tidak mengetahuinya jika jumlahnya sebanyak itu." Wajah Bella memelas. Seketika merasa tidak enak karena sudah membuang uang secara cuma-cuma. "Tapi kemarin kau mengatakan tidak masalah jika aku yang menghancurkanmu. Kau tidak berniat meminta ganti rugi, 'kan? Kasus ayahku belum selesai dan aku sudah menambah kasus baru. Jangan salahkan aku, salahkan wanita itu. Dia menghinamu dengan sombong."


Glend menipiskan bibir mendengar penuturan Bella. Pemikiran Bella yang naif selalu membuat Glend merasa terhibur. Di balik sikap naif yang sudah melekat pada diri Bella, wanita itu juga sangat pintar dan pemberani. Sulit untuk menebak apa yang ada di benak Bella.


Glend yang sudah berpengalaman dengan wanita pun masih belajar untuk memahami jalan pikiran istrinya.


Dulu, Glend mengenal dan hidup dengan seorang wanita naif yang menyedihkan. Cenderung menyalahkan diri sendiri dan hanya diam jika diperlakukan tidak adil. Andai dulu ibunya memiliki sedikit sikap yang dimiliki Bella, mungkin ibunya tidak akan meninggal dalam keadaan menyedihkan.


Glend menarik Bella ke atas pangkuannya. Memeluk perut wanita itu dengan erat lalu mencium punggung Bella, hangat dan lama.


"Terima kasih sudah membelaku."


"Kau seperti hantu," ungkap Bella dengan ritme jantung yang tidak teratur. Ia merasa seluruh bulunya merinding disko.


"Hantu?" Glend mengernyit sesat, kemudian memindahkan kecupannya ke tengkuk sang istri.


"Bu-buluku berdiri. Bulu romaku jingkrak-jingkrak. Be-berhenti mengembuskan napas di leherku, Glend!"


Polos, lugu, naif, benar-benar membuat Glend tidak bisa berkutik. Ketiga sikap itu jika dipadukan, benar-benar membuat pria hilang akal.


"Katakan sayang seperti yang kau katakan tadi di kebun binatang."


"Berhenti membuatku malu, Glend."


"Aku terkejut saat kau menyebutku dengan cara yang begitu manis. Aku terkesiap terkejut. Kupikir pendengaranku juga sedang bermasalah." Bibir Glend berpindah ke leher Bella. Glend merasakan jika Bella menahan napas.


"He-hentikan, Glend. Tadi aku hanya berlakon di depan wanita itu."


"Lakonmu terlalu berbahaya kalau begitu, Bella. Aku menanggapinya terlalu serius. Hatiku bersorak gembira, jantungku berdetak tidak karuan, hampir-hampir meledakkan gendang telingaku." Glend melepaskan sebelah tangannya dari pelukan di perut Bella, terangkat mengusap lembut lengan istrinya hingga akhirnya berada di wajah Bella. Lalu Glend memutar kepala Bella hingga miring ke arahnya. Lantas Glend memiringkan kepala membuka sedikit bibirnya sebelum menyatukan bibir mereka. Memagut mesra bibir Bella.


Tidak butuh waktu lama, Bella pun terbawa suasana, memejamkan mata, menikmati bahkan membalas ciuman mesra pria itu. Entah bagaimana ceritanya kini Bella sudah duduk menyamping, memudahkan mereka saling berbagi saliva.


"Aku baru menyadari jika rasa bibirmu juga sangat manis," aku Bella setelah keduanya berhenti sejenak untuk mengambil napas.


Mendengar pujian itu, Glend tersenyum simpul, membelai bibir bawah Bella yang basah akibat ciuman mereka. Seharusnya pria yang mengatakan hal tersebut.


"Pujianmu berbahaya," dan di detik berikutnya Glend kembali menyatukan bibir mereka.


Bella pun tidak bersikap malu-malu lagi. Ia melingkarkan tangan ke balik leher pria itu membalas pagutan dari suaminya.


Namun, saat meluruskan pandangan ke depan ia melihat sosok yang tidak asing berdiri tidak jauh dari mereka. Menyaksikan adegan ciuman itu secara cuma-cuma. Bill membatu di sana dengan wajah merah tidak menentu.


"G-Glend, hentikan..." Bella mencoba mendorong tubuh Glend agar menghentikan ciuman mereka. Ini memalukan, seseorang melihat mereka, menyaksikan betapa intim ciuman mereka.


Tetapi bukannya menjauh, Glend justru memperdalam ciumannya. merengkuh erat pinggang Bella hingga merapat ke tubuhnya. Oh sial! Glend terlalu ahli. Bella tidak kuasa untuk mengabaikannya. Yang ia lakukan adalah memejamkan mata, memerintah dirinya bahwa Bill yang ia lihat hanya sekedar ilusi. Sedikit konyol memang mengingat Bella jelas-jelas menyaksikan Bill merona dan salah tingkah. Tapi Bella mengingat saat Glend mengatakan jika Bill sudah terbiasa menyaksikan Glend bercinta dengan wanita. Pun Bella kembali membalas ciuman Glend dengan mengabaikan Bill di sana. Bill yang malang.


Saat Bella membuka matanya lagi, kali ini ia dibuat semakin terkejut. Bukan hanya Bill yang ada di sana tapi juga seorang wanita cantik yang tidak asing. Di tengah menikmati ciuman Glend yang memabukkan, Bella mencoba mengingat di mana ia pernah melihat wanita itu. Maniknya seketika membeliak begitu mengingatnya. Si wanit bermulut sampah.


Bella mendorong dada Glend agar menghentikan kegiatan yang membuat kecanduan ini. Tapi dasar si Glend sedang mabuk kepayang, ia mengabaikan Bella dan terus memagut dengan lembut.


Tidak ada cara lain, akhirnya Bella menggigit bibir pria itu. Berhasil, Glend melepaskan ciumannya, ia meringis kesakitan. Bibirnya berdarah.


"Apa yang kalian lakukan di rumah suamiku!" hardik wanita itu.


Glend terkesiap kaget. Tentunya ia hafal betul siapa pemilik suara itu.


Bella turun dari pangkuan Glend. Ia juga tidak kalah terkejut dengan apa yang dikatakan wanita itu. Suami? Siapa yang dia maksud dengan suami?


Wanita itu melangkah cepat menghampiri Bella dan mengangkat tangan melayangkan satu tamparan di wajah Bella.


"ALICE!" Glend membentak wanita itu.


"Oh Tuhan, kau mengenalku?" Alice menutup mulut dengan kedua tangan. Ditatapnya Glend dengan penuh selidik. Netra keduanya saling mengunci.


"Astaga..." wanita itu terkesiap. Ia bahkan mundur beberapa langkah ke belakang.


"Glend?"


Terang saja Bella semakin terkejut dengan mengetahuinya jika keduanya saling mengenal satu sama lain. Pertanyaannya, siapa yang dimaksud Alice dengan suaminya?


Bella kini menyadari bahwa banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Glend.