
"Oke, Gav, Grace, saatnya mengikuti pelajaran Mr. Smith." Felix mengantar kedua bocah cilik kesayangannya itu ke dalam kelas untuk mendapat pendidikan tentang kuda, peternakan dan hal lainnya. "Daddy akan berkeliling sebentar."
"Baik, Dad," Sahut keduanya kompak sembari memberikan kuda mereka diambil oleh para pekerja.
"Wuah, Felix Orlando tidak main-main dalam mendidik anak-anak itu," Bill kembali dibuat kagum oleh perilaku hebat seorang Felix yang seolah tidak ada celah. "Ia memikirkan masa depan keduanya dengan sangat matang."
"Ya, dan aku sedikit membencinya karena hal itu. Bagaimana mungkin pria itu tidak memiliki cacat sama sekali. Ayo, kita awasi dia."
Keduanya pun mengikuti Felix. Sesekali Felix berhenti, menyapa para pekerja dan mendengarkan keluhan mereka. Felix juga menyapa pengunjung lainnya. Memberi pelajaran singkat bagi para pemula yang hendak berkuda. Sepertinya Felix memang sangat menyayangi anak-anak, sering kali pria itu berhenti hanya untuk memperbaiki helm pelindung anak-anak yang tidak terpasang dengan benar. Ia menasehati para pekerja dan juga orang tua si anak yang selaku pendamping si anak.
"Oh Tuhan, dia benar-benar sempurna. Wajar saja Bella takluk padanya."
Alex mengangguk setuju. Hampir dua jam mereka mengawasi Felix, tidak sekalipun pria itu mengajak bicara seorang wanita, kecuali si wanita bersama suami atau pun anaknya.
"Ya, kurasa kita harus menyerah." Alex mulai merasa jika apa yang mereka lakukan ini adalah hal yang sia-sia mengingat Bella adalah orang selektif dalam memutuskan apa yang terbaik dalam hidup wanita itu. Ia yakin Bella sudah memikirkan semuanya dengan matang. Lagi pula perasaan anak-anak tidak bisa dibohongi. Grace dan Gavin terlihat nyaman dengan Felix.
"Ya, kau benar." Keduanya sepakat mengakhiri penyelidikan mereka.
"Felix!!" Seruan seorang wanita menghentikan niat mereka. Mata keduanya membeliak begitu melihat sosok wanita yang mendekat ke arah Felix. Wanita itu melompat dari kuda pun dengan Felix. Keduanya berpelukan.
"Ella, astaga, aku merindukanmu."
Ya, wanita itu adalah Ella Collins.
"Ck! Kau selalu sibuk akhir-akhir ini. Aku datang ke rumah dan kudengar kau menjual mansion tersebut."
"Ya, aku harus menjualnya." ucapnya dengan berat hati.
Ella menganggukkan kepala, "Harusnya kau menjualnya kepadaku."
"Ck!" Felix hanya berdecak.
"Kenapa kau menolak lamaran ibuku? Kita bisa menikah dan tinggal di sana. Rumah itu akan tetap ada. Begitu pun dengan kenanganmu. Ayolah, rumah itu sangat berarti untukmu."
Felix tergelak, "Haruskah aku menerima lamaran ibumu?"
"Tentu saja! Jangan menolakku. Aku akan membuat hidupmu bahagia."
"Hm, baiklah, mari kita temui ibumu dan membicarakan hal ini," dan keduanya kompak tertawa.
"Kudengar dari ibuku, kau sudah memiliki dua anak-anak yang sangat menggemaskan. Aku tidak keberatan untuk menjadi ibu pengganti bagi mereka."
Felix semakin tergelak, "Mereka sangat pemilih. Tapi kau pasti akan menyukai mereka."
"Akhirnya semesta berpihak kepada kita," Bill bergumam tanpa melepaskan tatapannya dari pemandangan yang ada di hadapan mereka.
"Ya, apanya yang tidak berbincang dengan wanita lain, mereka bahkan berpelukan. Kau lihat tatapan mereka satu sama lain. Sepertinya sebelumnya mereka dijodohkan. Tapi bukankah Ella jatuh hati pada Glend?"
"Ya, apa kita yang salah menduga. Ayolah, Felix Orlando tidak kalah luar biasa. Bella saja dibuat berpaling dari sahabat kita."