
"Aku akan ke toilet."
Bella meninggalkan ballroom hotel. Alih-alih ke toilet, ia justru menuju rooftop. Ia membutuhkan angin segar. Sesampainya di sana, Bella menghirup dalam udara sebanyak-banyaknya guna menetralisir perasaannya yang tidak karuan. Selama beberapa hari ini, ia mencoba bersikap baik-baik saja, nyatanya tidak bisa. Perasaannya masih sama, jantungnya masih bereaksi luar bias setiap melihat Glend. Si buruk rupa tidak tahu diri!
Bella menipiskan bibir, sedangkan matanya sudah perih oleh bendungan air mata. Ia mendongak, meski ia sedang sendiri, ia tetap tidak ingin terlihat lemah. Bella enggan mengakui perasaannya. Bella menghela napas lantas menghembuskannya. Bukan hanya menahan cemburu terhadap kedekatan Glend dan Ella, ia juga harus menjaga perasaan Felix yang selalu ada bersamanya selama ini.
Pria itu begitu tulus, sangat tidak adil jika pada akhirnya aku berpaling darinya? Bella terkejut mendengar bisikan hatinya. Kenapa ia harus berpaling? Tanpa sadar, ia baru saja mengakui jika Glend memang selalu hidup di dalam hatinya.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak mungkin menyakiti Felix, tapi aku tidak suka melihat Glend bersama wanita itu. Sekian purnama, akhirnya aku bisa melihat wajahnya. Masih sama. Tetap menawan. Ah! Aku merindukan aromanya. Ella pasti sangat betah di dekatnya!
Bella tidak kuasa lagi menahan air matanya. Tanpa permisi, kini kristal bening itu mengalir membasahi wajahnya.
Bella terpekik terkejut, ketika tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar di perutnya. Bella memejamkan mata. Tanpa harus berbalik, ia tahu siapa gerangan sosok yang memeluknya itu.
"Kenapa kau memarahi anak-anak?"
"Kenapa kau tidak bertanya kenapa aku menangis?"
"Kau menangis karena memarahi anak-anak."
Bella menggeleng, "Aku ibu yang buruk."
"Kau ibu yang hebat, wanita yang kuat." Glend menopangkan dagunya di atas bahu wanita yang dicintainya itu. Glend memutar tubuh Bella agar mereka berhadapan. Glend tersenyum hangat melihat manik Bella yang sudah basah oleh air mata. "Jangan menangis, tolong jangan menangis karena ulahku."
"Kenapa kau percaya diri sekali!" Bella memukul dada pria itu. "Aku tidak menangis karena cemburu!"
"Tidak!" Kepalanya mengangguk, tidak sinkron dengan ucapannya.
Bella menggigit bibir bawahnya begitu menyadari kebodohannya. "Harusnya aku menggeleng," ucapan polosnya sontak membuat Glen tergelak.
"Jadi katakan apa yang harus kulakukan?" Glend mengusap lembut pipi Bella, mata keduanya saling bersitatap, mengunci pergerakan masing-masing.
Ditanya seperti itu, jujur, Bella tidak tahu harus menjawab apa.
"Katakan, Bella, apa yang ingin kau lakukan kepadaku?"
Bella menelan salivanya sebelum berucap. "Aku sangat ingin memelukmu. Apakah aku terlihat sangat murahan? Aku sudah bertunangan." Tanpa menunggu reaksi Glend, Bella menyandarkan kepala di dada Glend sembari melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. Ia tersenyum di tengah derai air matanya tatkala Glend membalas pelukannya.
"Maafkan aku karena pernah melontarkan kata-kata hina itu terhadapmu."
"Justin mengatakan jika kau sangat menderita."
"Tidak usah dengarkan apa kata mereka. Apa pun yang terjadi padaku adalah hukuman atas apa yang sudah kulakukan padamu. Sekarang, aku bahagia melihatmu baik-baik saja."
"Aku juga lega melihat kau baik-baik saja sekarang." Bella mengeratkan pelukannya.
Glend melepaskan pelukannya dari Bella, pun Bella melakukan hal yang sama. Keduanya kembali bersitatap. Bella menaikkan tangan secara perlahan, menyentuh setiap jengkal wajah Glend. Ini pertama kalinya ia meraba wajah asli pria itu. Kenapa dulu, ia begitu bodoh hingga tidak menyadari jika Glend dan Andreas adalah orang yang sama.